Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Diary dalam Empat Babak

Aku ingat sepenggal kisah yang disampaikan Paulo Coelho tentang pelajaran hidup yang bisa diambil dari pensil.  Picture by Angelina Litvin Pertama, pensil fungsinya untuk menulis dan bisa menyampaikan hal-hal keren yang abadi, tapi pensil akan selalu membutuhkan seseorang yang bisa membimbingnya. Kedua, penyerut pensil bikin pensil menderita untuk bisa mempertajamnya sehingga bisa berfungsi dengan lebih baik. Ketiga, pensil mengizinkan penghapus untuk mengunjungi kesalahan yang pernah dibuat, untuk kemudian dikoreksi supaya tetap berada di jalan yang dituju. Keempat, pensil terdiri dari dua lapis, lapis luar berupa kayu, lapis dalam berupa grafit karbon. Kayu merepresentasikan penampilan luar, dan grafit karbon merupakan jiwa. Yang penting supaya pensil bisa menjadi pensil adalah jiwanya. Terakhir, pensil meninggalkan goresan, maka dari itu berhati-hatilah dalam setiap tindakan karena mungkin akan membekaskan sesuatu. Kalau Paulo bilang manusia mewarisi sifat pensil lebih banyak d

Audit Relationship

Dua hari lalu salah seorang teman saya repost postingan salah satu selebgram . Postingan tersebut sangat menarik. Isinya mengenai opini selebgram terhadap hate comment yang ditujukan padanya. Menurut selebgram tersebut, fitur block dan mute diciptakan developer untuk mengontrol “how we handle negative occurrence/experiences.” Si selebgram juga berujar bahwa setiap orang mempunyai batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilintasi. Baginya, batasan yang tidak boleh dilintasi itu menyangkut self-love, dia tidak ingin memberi kesempatan orang lain membuatnya kehilangan self-love-nya. Dia juga mengajarkan untuk menormalisasi menghargai batasan individu yang semakin terkikis karena personal values terasa pudar di dunia maya. Postingan tersebut saya setuju. Meski bukan fans dari selebgram tersebut, tapi menurut saya sangat baik untuk bisa mendidik followers bahwa hate comment bukanlah tindakan yang bisa diterima semua orang. Ngga semua orang kuat untuk baik-baik saja diperlakukan kas

Mari kita putus

“People don’t like love, they like that flittery flirty feeling. They don’t love 'love'— love is sacrificial, love is ferocious, it’s not emotive. Our culture doesn’t love love, it loves the idea of love. It wants the emotion without paying anything for it. It’s ridiculous.” ( Matt Chandler ) Untuk Aang, Hari ini aku sadar. Bahwa mungkin cinta itu bisa mewujud dalam tangisan tiga orang anak yang menangis sepulang sekolah, yang harus kamu jemput setelah pulang kerja. Padahal kamu lelah, dan mungkin pasangan hidupmu dan kamu sedang bertengkar tentang hal yang sama setelah dua minggu lamanya. Kelak, mungkin cinta yang seperti itu bisa saja terjadi. Cinta yang membuatmu jengah dan membuatmu ingin melarikan diri, membuatmu menyesal mengapa kamu menyerah pada takdir dan menikah saja. Aku harap kamu akan selalu punya tempat yang kamu sebut rumah, dan aku harap juga kelak kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan untuk melalui masa sulit itu, karena kamu bagaimanapun ha

Apa itu Datakrasi: Sebuah Ulasan Singkat dan Relevansinya dengan Indonesia

Adakah di sini yang membaca novel 1984 karya George Orwell? Kalau belum, aku sangat merekomendasikan! Di novel tersebut Orwell mengisahkan Winston Smith yang hidup di Oceania. Gerak gerik semua warganya serba dikontrol oleh teknologi dan penguasa yang disebut Big Brother. Datakrasi ini sedikit banyak mengingatkan saya pada novel 1984 itu. Pertama kali mendengar konsep datakrasi dari Mas Martin Suryajaya, seorang filsuf yang saya ikuti kelasnya ketika karantina. Semoga aku bisa memaparkan datakrasi ini dengan bahasa yang mudah dipahami yaaa.. Pengertian datakrasi adalah  tata pemerintahan yang semuanya pure didrive dan dikelola AI yang basisnya big data yang berasal dari warga negaranya. Kemudian dikatakan juga bahwa Datakrasi ini  ‘pemerintahan tanpa pemerintah’. HAH? HAH? Kok bisa? Mulanya bagiku terdengar sangat utopis, mikirnya EMANG ORANG YANG SEKARANG MEGANG KEKUASAAN SEMUDAH ITU DIGULINGKAN OLEH DATA DAN TEKNOLOGI??? Seperti biasa… agak sulit mencerna hal yang susah dik

--Komentar Saya di Tahun 2020 terhadap Catatan Saya di 2016--

Jam menunjukkan pukul 10.30 malam, dan belum terlintas di benakku mau nulis apa. Akhirnya membuka Microsoft OneNote yang menjadi platform kalau lagi ingin curhat. Beberapa tulisan memang tidak diunggah ke blog, karena sifatnya hanya murni keluhan. Tapi kali ini, akan saya unggah salah satu catatan hati saya yang bisa dibilang GA PENTING BANGET… Biar apa? Biar saya bisa lebih memahami, SAYA TUH KENAPAAAAA?? On a serious note, tulisan saya di Januari 2016 ini…… adalah kisah ketika saya di perempatan jalan, bingung karena ingin sekali S2, tapi saat itu kerja, padahal baru lulus akuuu tuhhh.. Terus pengen bahagiain orang tua dengan bisa melakukan keduanya, sambil pacaran lalu nikah juga. Kalau bisa abis itu punya anak yang lucu. EH EH EH BANYAK MAU AMAT DAH. PS. Maaf kalau catatan di bawah kesannya bakal kaya orang ngegas gituuu, karena emang settingan standar saya kalau lagi bingung adalah GAASSS! Tolong pas baca banyak istighfar biar jadi pahala.. Hehe Januari 2016 Semalam, saya

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Everything Untouched but Forever Change

Judul tersebut terinspirasi dari sebuah lagu yang hari ini diputar on repeat. Lagu dari band OK Go yang berjudul All Together Now . Lagunya ciamik dan nendang sampe ke ubun-ubun, sangat serasi dengan perasaan semua insan yang menjaga diri dari virus. 🎶 All the colors we painted yesterday They look so different now And all those harmonies we sang yesterday All sound so different somehow Though they're all still the same Everything's untouched but forever changed Everywhere on earth, every single soul Everyone there is, all together now And everyone alone all together on the precipice All that mattered then, all that matters now All that matters after the world shuts down All of it dissolved all together in the chrysalis Together in the chrysalis 🎶 Dalam kesendirian, kita bersama-sama. Menurut lagu ini, saat ini kita sedang dalam fase kepompong (chrysalis). Analogi tersebut memberi perspektif baru dalam melihat permasalahan. Bahwa setelah pandemi berlalu, kita punya sepasang ma

Jika aku meninggal..

Meninggalkan dunia ini merupakan pemikiran yang menakutkan. Tapi aku pikir aku orang yang baik, mungkin beberapa dosaku akan menjerumuskanku ke neraka, tapi setelah itu aku akan naik ke surga, PD banget deh lu sis.. Hmm terlepas dari itu, aku ga tau berapa lama aku akan terjebak dengan siksa api neraka. Hidih. Kayanya aku kebanyakan baca komik Siksa Neraka nih pas kecil, jadi ngeri sendiri membayangkan siksa kubur dan azab yang perih saat di neraka. HUHU siksa kubur yang paling greget adalah dibakar lebur secara repetitif. Sebenernya aku nulis ini karena salah satu sahabatku meminta untuk menulis “5 hal yang ingin dilakukan sebelum mati”. Jelas hal pertama yang aku lakukan adalah memikirkan persoalan “jika aku meninggal” Dulu kayanya aku pernah memikirkan dengan cara apa aku ingin meninggal, jujur saja jawabannya masih sama. Kematian yang cepat. Dan kalau boleh milih, aku ingin mati karena penyakit yang ngga bikin bingung atau bikin sedih. Jadi inginnya meninggal dalam hitungan det

Satu Syawal, Pre-memori

Takbir menggema memecah kesunyian jalan. Lagi-lagi kenangan datang lebih cepat. Atmosfer mudik membuat yang tidak mudik kesulitan membedakan mana harapan yang akan disesali dan mana kemauan yang harusnya dirawat dalam ingatan. Takbir keliling memekak telinga berkelebat di setiap sudut. Memenjarakan kebaikan orang yang berdiam di rumah saja. Ramadhan sampai pada penghujung garis. Apakah kita semakin dekat dengan Tuhan, atau terus konsisten kesetanan? Malam ini aku mengkalkulasi dosa-dosa ku. Dalam beberapa periode, aku pernah sangat biadab. Nyuekin orang baik, mengaudit sepihak sebuah hubungan, menumpang dalam hati orang yang peduli. Dalam kasus terburuk, aku pernah berharap seseorang pilek karena kehujanan. Takbir menandai silaturahmi terlarang akan segera ada dan tiada. Aku mau open house. Tapi katanya open house is so last year, sekarang open heart aja. UDAH OPEN DARI SD, tapi belum ada yang terperangkap di dalamnya WOYY LAH! Hati ini seringnya hanya menjadi hotel untuk sebagian