Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Penjelajah

Ketika liburan idul fitri, lamat dalam ingatan, kakek saya yang sedang melinting tembakau untuk dijadikan rokok tiba-tiba berkata, “Kamu seharusnya bepergian, menjelajahi dunia ini. Hidupmu akan terasa lebih panjang.” Setelah sekian lama kalimat istimewa ini menyempil di serebrum, saya baru mengerti apa yang beliau sampaikan kemarin. Saya sedang memikirkan tentang sakaratul maut, ketika tiba-tiba saya berpikir : “kenangan apa yang akan berhamburan di detik-detik kematian saya?” Kenangan yang saya punya tidak banyak, sebagian besar hanya berupa rutinitas pergi ke sekolah dan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan sekolah dan kuliah. Dan semua itu serupa mencoba mengingat mimpi, semakin direka semakin samar. Mungkin yang akan muncul hanya ingatan tentang wajah tersenyum dari orang-orang yang saya cintai. Satu persatu, mereka berdesakan melesak membingkai jalinan kehidupan saya. Tapi apa yang sedang mereka lakukan di film super cepat pada detik kematian saya nantinya? Saya

Kenapa Membaca?

Membaca buku merupakan hal yang wajib nongkrong pada list resolusi tahun baruku. Tidak sampai aku memutuskan untuk berhenti membuat resolusi tahun baru tiap terompet didendangkan. Aku ingat masa dimana aku menengok keseluruhan tahun yang kuhabiskan hanya membaca empat buku di tahun 2014. Aku ingat hari dimana aku ingin membaca buku kemudian bergegas membeli buku dan membacanya hingga ke pertengahan untuk kemudian kutinggalkan karena kesibukan lain dan akhirnya kulupakan jalan ceritanya dari awal. Nampaknya gairah membaca buku serupa dengan iman umat Nabi Adam, naik turun tak keruan ekstrapolasinya.   Pada awalnya, aku beralasan sibuk ini dan anu sebagai pembelaan pribadi atas kelalaianku akan kecepatan waktu melaju dan terbang membawa tahun yang baru untuk dilalui. Mencoba meyakini hal buruk yang tidak sepenuhnya jujur bukan pekerjaan mudah, karena suatu ketika ada masanya kita melamunkan dengan sungguh-sungguh semua alasan palsu itu. Aku terduduk di angkot ketika memikirkan

Cemburu

Cinta artinya percakapan yang sama, lagi dan lagi. Cinta artinya mendengarkan dengan telinga yang selalu baru setiap waktu. Hari ini pukul 6 sore aku melihat orang-orang di kereta seperti mereka baru saja patah hati. Kereta berisi orang pulang kerja seperti kereta orang kelelahan setelah berperang. Kita bisa bertambah tua menunggu peperangan usai.

Ketika Aku Mati

Aku pikir seseorang sesekali harus berpikir tentang kematiannya. Pada pagi ketika kita menyetel TV dan jari kita dengan lihainya memijit tombol saluran berita dalam negri yang berisi penuh kejujuran yang cacat dan kebaikan yang dilebihkan. Pada siang ketika kita lama mengantri untuk membeli makan, mulai bosan dan hampir memutuskan untuk mencari tempat makan lain yang lebih sepi.

Tionghoa

Ayahku mengontrak bangunan kecil yang dijadikan bengkel pada orang Tionghoa bernama Apoh. Semua orang selalu memanggilnya Koko, Engko, atau Ko saja kalau sedang terburu-buru. Ko Apoh hobi memakai celana pendek ketika di rumah, membaca koran ketika pagi. Perawakannya kurus memakai kacamata, tapi kadang kacamatanya hanya hiasan, ia turunkan melorot ke hidung dan dilihatnya orang dari mata yang terhalang kacamata yang melorot itu. Istrinya dipanggil Cici oleh orangtuaku. Lina namanya, cantik dan putih kulitnya. Mereka dikaruniai dua orang anak. Anak tertua sering ku panggil Cici Yessi. Anak kedua lelaki yang seumuran denganku, Kevin. Aku dan Kevin sering bermain bersama, tak jarang juga berkelahi sampai ribut, layaknya adik kakak. Aku ingat aku sering berebut mainan, tepatnya aku yang merebutnya. Aku ingat aku sering menggigit Kevin saking kesalnya. Wanita memang menakutkan kalau sedang marah. Kau harus ingat itu.

Reseller

Sebelum menikah dengan ibuku, ayahku memilih merantau, mencari penghasilan lebih ketimbang sekedar membantu mengurusi sawah dan kebun milik orang tua. Masa muda memang selalu dipenuhi ambisi sialan yang menakjubkan. Ayahku mengontrak di salah satu kamar kecil bersama dengan beberapa bujangan dan suami muda lainnya. Seharian dihabiskan untuk menjaja segala macam kue kering buatan bos-bos pemilik modal usaha. Itulah yang kau kenal sebagai konsep ‘ reseller ’ di zaman modern ini. Sepak terjang sebagai reseller kue kelak membuat ayahku hapal jenis-jenis kue dan sedikit banyak tahu cara pembuatannya. Proses rantaunya juga yang membawa ingatan masa kecilku tentang kue tambang, semprong, kue satru, bakpia isi kacang hijau, kuping gajah, kue bulan kacang hitam, dan sagon kelapa yang dibawakan ayahku ketika pulang kampung. Sagon kelapa hingga kini bahkan menjadi salah satu panganan top list ku, kuletakkan kedudukannya lebih tinggi ketimbang popcorn dan Pocky.

Rantau

“Mengapa kita harus lahir, tumbuh dewasa, dan mati hanya di satu tempat ketika dunia ini begitu luasnya untuk dijelajahi? Kamu harus merantau. Bukankah ketika kamu lahir kamu sudah merupakan perantauan dari alam surgawi”, begitulah petuah seorang perantau yang kisahnya akan kuceritakan padamu. Merantau mungkin bukan hal yang aneh untukku. Lahir di Bumiayu, bikin akte kelahiran di Karawang, batita di Bumiayu, SD di Cikampek, SMP di Bumiayu, SMA di Cikampek lagi, kuliah di Bandung. Babak-babak kehidupanku selalu terfragmentasi pada kondisi rantau. Merantau. Itulah yang dilakukan oleh orangtuaku, dan hampir semua orang dewasa yang lahir di tanah pertanian yang konon kurang lapangan pekerjaan. Lantas pemuda-pemudi berpamitan pada orang tuanya berjanji akan pulang ketika sudah mendapat untung. Beberapa memang sukses di perantauan, beberapa lainnya tidak, dan tak jarang yang seolah mengganti jati dirinya, menjadi pribumi dan merasa sebagai orang lama di tanah perantauan.

Obsesi Aneh

Aku punya obsesi aneh pada orang yang berumur. Aku selalu penasaran apa yang mereka rasakan ketika menua. Bagaimana rasanya menjadi tua? Menyenangkankah atau justru sebaliknya? Apa yang mereka ingin nasihatkan pada generasi muda? Aku tidak sampai hati menanyakan itu pada siapapun yang aku kenal baik. Dalam satu kesempatan ketika aku pulang dari Bandung, aku duduk dengan seorang nenek di bis. Beliau mengajakku berbicara berbagai hal remeh temeh. Aku meladeninya dengan ramah dan sopan. Aku selalu berpikir berbicara secara sopan dengan orang asing sama halnya seperti menanam benih kebaikan. Kelak mungkin tetua di keluargaku mengajak orang asing mengobrol, aku berharap orang itu juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan sekarang. Pada nenek itulah aku pertama kali kurang ajar ingin memuaskan obsesi anehku. Aku bertanya padanya sebagai hidangan pembuka, berharap ia masih lapar akan perbincangan. “Nek, gimana rasanya jadi tua?” Untuk beberapa menit selanjutnya ak

Time Travel Mungkin Adalah Kesia-siaan Belaka

Bermula dari H. G. Wells dan Marty McFly, kemudian diwariskan pada Doctor Who yang mengendarai Tardis, konsep time traveller menjadi akar cerita beberapa fiksi sains yang difavoritkan banyak kalangan. Sains modern memastikan kalau time travel merupakan hal yang mungkin. Tentunya tidak sesederhana dan seindah yang cerita fiksi sains kisahkan. Salah satu rintangan terbesar dari pelbagai skenario time travel   adalah Paradoks Grandfather. Setelah mekanika kuantum melanglang buana dikenalkan konsep baru yaitu Multiverse. Singkatnya untuk setiap keputusan berbeda yang kita pilih, akan tercipta satu semesta baru. Yap, kita sudah mengenalnya di serial The Flash. Banyak peran-peran dari Multiverse yang melakukan time travel­ bermunculan, beberapa untuk berkawan dan beberapa menjadi musuh. Jadi apa yang akan terjadi pada time travelers yang berharap mengubah masa lalu atau masa depannya?