Skip to main content

--Komentar Saya di Tahun 2020 terhadap Catatan Saya di 2016--

Jam menunjukkan pukul 10.30 malam, dan belum terlintas di benakku mau nulis apa. Akhirnya membuka Microsoft OneNote yang menjadi platform kalau lagi ingin curhat. Beberapa tulisan memang tidak diunggah ke blog, karena sifatnya hanya murni keluhan. Tapi kali ini, akan saya unggah salah satu catatan hati saya yang bisa dibilang GA PENTING BANGET… Biar apa? Biar saya bisa lebih memahami, SAYA TUH KENAPAAAAA??

On a serious note, tulisan saya di Januari 2016 ini…… adalah kisah ketika saya di perempatan jalan, bingung karena ingin sekali S2, tapi saat itu kerja, padahal baru lulus akuuu tuhhh.. Terus pengen bahagiain orang tua dengan bisa melakukan keduanya, sambil pacaran lalu nikah juga. Kalau bisa abis itu punya anak yang lucu. EH EH EH BANYAK MAU AMAT DAH.

PS. Maaf kalau catatan di bawah kesannya bakal kaya orang ngegas gituuu, karena emang settingan standar saya kalau lagi bingung adalah GAASSS! Tolong pas baca banyak istighfar biar jadi pahala.. Hehe


Januari 2016

Semalam, saya membuka tahun baru dengan mengeluh. Mengeluh bahwa tahun 2015 telah berakhir namun rasanya begitu banyak perihal yang “sengaja tertinggal” ketimbang “benar benar berakhir”. Terlalu banyak penyesalan yang tidak saya syukuri dan kegagalan yang tidak saya pelajari. Maka dalam beberapa penggal tulisan ini saya akan berusaha kembali mengulik beberapa hal yang nampaknya memberikan impact pada diri saya di 365 hari silam. Mungkin hanya sebagai luapan hati belaka, atau mungkin dapat menjadi salah satu usaha saya untuk bersyukur.

Berharap akan tingginya mimpi itu boleh saja, asal mengerti bahwa kedatangan kekecewaan itu pasti.

Mungkin terdengar receh, jika saya berkata saya justru belajar banyak akan diri sendiri dan manusia secara general melalui sebuah kepanitian yang setahun silam saya jalani yang kebetulan membebani saya dengan tanggung jawab yang terbilang cukup besar.

Pada masa menjalani ini, saya akhirnya menjadi saksi atas betapa berbedanya buah pikiran manusia dengan manusia lainnya. Betapa pola pikir dapat terbentuk secara unik tergantung “jalan hidup” tiap manusia yang menjalaninya. Bahwa apa yang kita anggap suatu kesalahan mungkin merupakan kebenaran bagi pikiran manusia lain. Keberagaman pikir inilah yang mengajari saya mustahil untuk mempertahankan mimpi perseorangan pada suatu kelompok individu. Cara sayalah yang salah dalam men-define sebuah mimpi, bahwa mimpi yang akan bertahan mungkin justru mimpi yang memiliki akar pada berbagai buah pikiran, bukan pada suatu akar tunggal yang tunggang. Singkatnya there ain’t no room for selfish.

Harus saya akui justru dengan kegetiran yang ditinggalkan pengalaman ini, sedikit banyak saya pun merasa lebih jujur dan mengenal diri sendiri. Menurut saya pada hakikatnya manusia justru harus mencoba mempelajari dirinya sendiri dengan melihat pribadi lainnya, ketimbang terfokuskan akan mencari kesalahan pribadi lain yang kita tau bahwa tak ada kuasa kita yang mampu mengubahnya. Lagipula mengapa mencoba memperbaiki hal lain jika kepunyaan sendiri jauh dari sempurna atau bahkan baik?

The heart apparently does not stop that easily.

Terkadang saya malu untuk mengakui bahwa pada tahun silamlah, saya, untuk pertama kalinya benar benar merasakan patah hati. Pertama kalinya perkataan ‘tidak semua hal dalam hidup bisa dimiliki’ meresap dari telinga langsung ke hati saya. Saya, yang hanya akan memicu tawa atau guratan dahi pada orang orang terdekat saya ketika mengetahui state saya ini, akhirnya mengerti rasa ‘sakit’. Sontak, saya seperti ingin meraih maaf semua individu yang patah hatinya saya remehkan, saya bantah atau bahkan saya tertawakan. Maaf..

Tidak jarang saya memandang kebahagiaan yang saya miliki adalah fana, atau suatu abstrak yang sifatnya sementara. Setiap kali saya berusaha menemukan suatu formula yang dapat saya aplikasikan pada tiap bingkai hidup saya ini, agar saya selalu bahagia, gagal. Sejajar dengan berjalannya waktu saya selalu menemukan celah untuk mengeluh dan mempertanyakan hal yang tidak saya miliki. Konyolnya saya berpikir bahwa kebahagiaan baru akan terwujud jika saya telah secara utuh memiliki hal-hal yang ingin saya gapai.

Ternyata saya begitu terbutakan akan tiap hal yang telah saya miliki dan betapa sulitnya bersyukur. Adapun kesulitan yang saya alami untuk selalu bersyukur, saya tersadarkan akan betapa mahalnya bersyukur. Karena hanya melalui syukur, kita akan merasa cukup dan bahagia dengan sederhana. Semoga saja tahun ini merupakan debut diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur.

Bismillah

----------------------------------

Jujur, ga tau kenapa banyak sekali detail dari curhatan di atas yang saya lupa. Tapi saya ingat memang saat itu penentuan sekali. Aang versi tahun 2016 kalut karena tidak tahu apa yang akan dialaminya dan apa yang harus dipilihnya. Aang versi tahun 2016 pusing dan merasa terbebani karena tanggung jawabnya terasa lebih besar ketimbang bahunya untuk memikul. Ingin sekali rasanya memeluk diri sendiri di tahun 2016. It will be alright, Aang. Also, it will be alright, whoever read this and had the same emosi yang luluh lantak karena harus memutuskan sesuatu yang berat.

Untungnya saat itu saya memilih jalan yang benar untuk terus mengasah syukur sebagai senjata di saat semuanya terasa sulit. Selfhug! 💖

Aang versi tahun 2020 sudah sedikit menambah persenjataan baru.

DO’A. 💝

Doa dan ikhtiar keduanya sama-sama mulia. Namun, doa hendaknya ditempatkan di awal, ditengah dan di akhir.

Do'a di awal ikhtiar memastikan bahwa langkah yang kita ambil tidak keliru.

Do'a di tengah ikhtiar menambah keyakinan kita bahwa ikhtiar kita akan berhasil karena mendapat pertolongan dari Allah, sekaligus memberikan kesiapan terhadap apapun hasil yang Allah berikan.

Do'a di akhir ikhtiar mengingatkan kita, jika kita gagal, bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Namun jika kita berhasil, akan menjaga kita dari sikap sombong.

Saya jadi ingat suatu hadits:

Do'a adalah senjata seorang mukmin dan pilar agama serta cahaya langit dan bumi (HR Abu Ya'la)

Dear Aang di masa depan, banyak-banyak bersyukur, banyak-banyak berdo’a.

Bismillah.

Dear kamu yang membaca ini, semoga kamu bisa memahami dirimu sedikit lebih baik agar bisa berlaku baik pada dirimu. 😄



Dear past self, thanks for trying and surviving!

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh