Skip to main content

Posts

Self-love aja nggak cukup!

Belakangan ini lagi mikir sebuah ide tentang self-love. Katanya, lo harus mencintai diri lo sendiri sebelum lo mencintai orang lain . Sebenernya kalimat itu benar, tapi nggak sempurna. Kalau misalnya bener bahwa semua orang harus cinta dirinya sebelum cinta sama orang. Lantas kenapa masih sedikit sekali orang yang penuh cinta kasih, lembut, bersahaja, dan sangat menyenangkan? Misalnya aja masih kurang banyak kita temui warga sini dengan budaya tidak menyebar hoaks, mau gotong royong dalam mendidik masyarakat, bersih dari politik kotor, dan lainnya. Apa emang karena kita mencintai diri sendiri dulu, makanya kita jadi sulit mencintai orang lain dan mungkin sedikit banyak memicu endemi narsistik? Rasa paling bener, rasa paling “aku lah pusat dunia ini”, rasa paling “ya yang penting mah bukan aku”… Membicarakan konsep ini tuh sulit loh karena di satu sisi akan ada rasa marah. Aku nggak bermaksud menyalahkan atau mencari kambing hitam, tapi aku pengen kita memahami diri kita lebih jelas
Recent posts

Dear anyone daughters (just in case you are falling in love!)

I remember the last time I fall in love. I think at that time, I was worried about so many things. Usually, things that could be labeled SOOOOOOO WOMANNN. I feel like I am afraid that I am not beautiful enough. I am not that slim. At the end, I start to worry about how the men perceived me. It was probably, the thought of “men are all about visual, and their weakness is on the eyes.” Yes, that is unsettling. Being in love is sometimes means you being irrational. You know, today…when I carefully think about it. If I try to really put effort on the look, let’s say wearing make up and touch up every now and then… or let’s say I do extreme plastic surgery. Would that person like me back? What about the public response to that? I think what will come is that I will feel restless.. cuk iki loh insekyur-mu ra uwis-uwis tho .. hmmm, that’s probably what what triggers mental disorders in people who are addicted to plastic surgery. So, dear anyone daughters, I want to propose new theory.

Ngomongin Kebahagiaan

Kejar, tapi jangan terlalu. Cari duit, tapi jangan melulu. Miliki banyak orang di sekitar, tapi selektiflah dalam memilih siapa yang dekat. Kebahagiaan di kehidupan modern mengajarkan kebebasan tapi peraturannya kadang melibatkan kesunyian. Hari ini berkontemplasi dikit bahwa emang gak ada yang bener-bener tau apa sih kebahagiaan. Kalau pas lagi bahagia, kebahagiaan tuh keliatannya jelas, sederhana, gampang dicapai. Misalnya aja pas lagi ngumpul sama keluarga dan berkumpul sama mereka yang kita cintai. Nggak ngapa-ngapain, memperhatikan mereka berdiam diri. Kadang suka mikir di tengah keheningan bersama keluarga, asal bersama mereka, itu bentuk kebahagiaan yang paling murni. Tanpa musik, nggak ada argument, nggak juga obrolan. Apa mungkin di saat itu nggak ada pikiran apapun yang tersisa yang bisa menipu kita dari kebahagiaan ya? Saat itu mungkin jiwa kita ngasih tau, “hey kamu ini lagi bahagia loh” Kalau lagi ngobrol, kadang suka terlintas mikir, “ini menyenangkan”, mi

Pelajaran dari Berkebun

Di depan rumah ayah ibu, ada pohon jambu, serawung dan melati. Dibiarkan hidup, tapi tidak diurus serius. Kemudian di depan balkon lantai dua, ayahku ambis mengisinya dengan tabulampot alias tanaman buah dalam pot. Tidak besar, hanya sekitar 18m ² . Mulanya hanya jambu air. Kemudian karena terlalu sepi, ayahku mulai menanam cabe, tomat, kacang panjang dan kacang kratok. Posisi balkon lantai dua berhadapan dengan tempatku bekerja selama WFH, kadang aku memerhatikan kebun kecil itu ketika sedang beristirahat atau merasa suntuk. Suatu ketika aku kesambet, mendadak aku check out beberapa benih tanaman sayur. Pakcoy, caisim, bayam, kangkung, selada, kailan, bawang merah, daun bawang, seledri. Kesambet Dewi Sri alias Dewi Pertanian, ini sih.. Aku akhirnya ikut berkontribusi pada kebun di depan balkon lantai dua itu. Selama setahun, aku resmi menjadi tukang kebun. Ada beberapa hal yang aku pelajari dari berkebun. Nggak tau ngaco apa nggak, kalau ngelamun di depan kebun kan suka kesambet g

Kehilangan dan Duka

Hari ini mau ngomonging tentang kehilangan dan duka. Ada satu hal yang aku pelajari tentang kehilangan dan duka, lebih cepat dari siapapun. Seharusnya aku lahir menjadi anak kedua, tapi karena kakakku meninggal ketika masih bayi, aku menjadi anak pertama. Duduk di sekolah dasar, adik pertamaku saat itu meninggal. Cukup lama aku hidup sebagai anak tunggal yang adik dan kakaknya meninggal. Sebelum adikku meninggal, aku punya cita-cita menjadi dokter. Tapi setelah adikku meninggal karena penyakit paru-paru, aku tidak ingin menjadi dokter. Aku tidak mau menyakiti orang lain. Aku takut suatu saat aku tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien. Aku mengubah cita-citaku menjadi apapun selain dokter. Ketika aku kecil, aku sering dititipkan kepada teman ayahku karena kadang ayah dan ibuku harus menghadiri suatu hal. Aku juga akrab dengan pamanku, karena kepada beliau juga aku sering dititipkan, beliau juga meninggal saat usianya masih muda. Kehilangan dan duka yang aku alami, mengubah banyak

Arti Kebahagiaan

Selama aku hidup, aku ngga pernah suka untuk mendefinisikan kebahagiaan. Aku takut kalau aku mencari apa arti kebahagiaan, di satu titik aku akan bilang “aku nggak bahagia” Kemudian… hidup berjalan. Ratusan purnama berlalu. Salah satu dosenku bilang,  “you can’t achieve what you can’t measure”. Oke. Kalau ngga tau cara ngukur kebahagiaan, atau nggak tau apa indikator kebahagiaan, kebahagiaan itu akan sulit dicapai. Kalau pada akhirnya, diartikan atau tidak, di suatu titik kita akan tidak bahagia,  lantas   aku pada tahun 2020 memilih untuk memberi arti pada kata yang paling abstrak dan paling diidamkan itu. Dulu pernah ikut challenge nulis untuk menulis daftar hal yang membuatku bahagia, aku ingat, aku bertanya pada orang di sekitarku “menurut kamu, apa kira-kira yang membuatku bahagia?” Well, itu karena aku nggak tahu apa yang berkontribusi pada kebahagiaanku sendiri. Iya betul, karena aku tidak pernah mencoba memikirkannya sambal duduk panjang dan merenunginya dengan serius. Tapi k

Turun dimana?

Selasa pagi ini, seorang wanita mendadak duduk di hadapanku sembari menangis. Matanya sembab dan isaknya terdengar naik turun. Aku kebingungan mau menatap kemana, tapi aku memastikan lirikan mataku tidak membuatnya curiga ataupun malu. Masker yang aku gunakan menutupi wajahku sangat membantuku menyembunyikan rasa kikuk yang terus tersingkap. Perlahan, aku ingat, aku baru saja membeli tissue dalam packaging kecil kemarin, untuk keringatku. Cuaca akhir-akhir ini panas, kupikir, harus punya lap keringat. Tapi ternyata pertama kali kubuka tissue itu untuk kuberikan pada wanita di hadapanku menyeka air matanya yang berurai. Kubuka kemasannya. Kusodorkan tissue baru itu. “Mbak..” Dia mengambilnya dengan tatapan bingung. Aku pun sama. Bingung kenapa dia menangis. Tiba-tiba cekatan tangannya menggapai jendela, seperti mengucapkan salam perpisahan pada seseorang. Ku arahkan sudut mataku mencari apa yang dilihatnya. Ternyata seorang anak kecil dan seorang perempuan yang usianya lebih muda dari w