Skip to main content

Posts

Tentang rasa syukur

Pernah suatu ketika posting sesuatu tentang ayah, tiba-tiba ada yang komen "enak ya masih punya ayah." Dalam hati ini, di satu sisi merasa bersyukur bahwa masih punya ayah. Sisi lain, kasian sama yang ga punya ayah itu, dan itu melipatgandakan rasa syukur yang sama, syukur karena punya ayah. Pernah juga diri ini, masih sangat amat lemah hati ini, sampai bisa-bisanya bisa bersyukur karena masih punya ibu, ketika dicurhatin seseorang yang ibunya sudah tiada. Dari situ, ngerasa malu sendiri. Kenapa rasa syukur yang aku punya harus dengan proses perbandingan dengan orang lain yang keadaannya lebih buruk dariku? Apa nggak bisa ya aku bersyukur, cukup karena aku bisa bersyukur? Muncul perasaan sakit berkepanjangan. Gimana kalau kelak aku di posisi mereka? Apa pantas kalau ada seseorang bersyukur atas apa yang tidak kita miliki? Aku jujur aja, kadang ngerasa bersalah dan ingin minta maaf karena beberapa syukur muncul dari kerendahan pikirku. Pikiran yang sangat pendek tentang memili
Recent posts

Overthinking Day 2: Kenapa belajar melepaskan itu sulit?

Ada satu hal yang aku sadari belakangan ini ketika aku merasa malam terasa lebih panjang dari siang. Aku ada di titik dimana aku tidak lagi mengkritisi cinta atau mengharapkan cinta untuk membuatku merasa lebih baik. Mungkin karena cinta kadang membawa penderitaannya sendiri. Mungkin karena dengan mencintai nggak selalu sama dengan dicintai kembali, dan itu kadang terasa menyiksa. Mungkin karena cinta yang seharusnya mendekatkan dengan kedamaian, malah menjerumuskan pada keresahan. Aku harap kita cukup kuat. Malam ini aku sadar. Kita memang kuat, tapi kadang kita sedang lelah. Dan dalam kelelahan, kita perlahan belajar melepaskan. Belajar melepaskan sebelum belajar memaafkan. Lalu kenapa belajar melepaskan itu sulit? Aku memahaminya dengan kesempitan pikirku saat ini…mungkin sebagai manusia, kita justru memilih untuk menggenggam kencang apa yang seharusnya dilepaskan. Menghabiskan waktu bersama dengan yang seharusnya dilepas, membuat jiwa semakin sulit berpisah. Dan

Overthinking Day 1: Masih adakah harapan untuk kemanusiaan?

Kadang kalau liat ulah manusia akhir-akhir ini, suka mikir mungkin emang manusia itu nggak layak hidup di dunia ini? Kayak, ada aja kita tuh ngerusaknya. Kalau ga secara ekologis, moral, atau polusi apapun itu. Keberadaan kita tuh sebenernya layak nggak sih? Somehow… if I tried to think about it. Kita pantes ga sih buat bumi ini? Yang kita sebut sebagai kemanusiaan ini masih ada harapan nggak sih? Dan.. kalau masih ada harapan… apakah kita sudah berprilaku seperti kita akan bertahan? Seperti kita……pantas bertahan? Logikanya kalau emang kita layak.. kalau emang kemanusiaan ini masih ada harapan.. Orang-orang tuh.. HARUSNYA, cepet-cepet vaksin biar nggak melahirkan varian virus baru yang lebih berbahaya. Harusnya mastiin tiap anak, dapet obat, makanan bernutrisi, air bersih, dan edukasi terbaik. Namun buktinya, manusia menunjukkan prilaku yang membuat kita semua selalu berpikir, kemanusiaan sudah mati. Manusia sudah tidak layak dipertahankan. Memang bukan tentang benar atau salah, tapi k

Self-love aja nggak cukup!

Belakangan ini lagi mikir sebuah ide tentang self-love. Katanya, lo harus mencintai diri lo sendiri sebelum lo mencintai orang lain . Sebenernya kalimat itu benar, tapi nggak sempurna. Kalau misalnya bener bahwa semua orang harus cinta dirinya sebelum cinta sama orang. Lantas kenapa masih sedikit sekali orang yang penuh cinta kasih, lembut, bersahaja, dan sangat menyenangkan? Misalnya aja masih kurang banyak kita temui warga sini dengan budaya tidak menyebar hoaks, mau gotong royong dalam mendidik masyarakat, bersih dari politik kotor, dan lainnya. Apa emang karena kita mencintai diri sendiri dulu, makanya kita jadi sulit mencintai orang lain dan mungkin sedikit banyak memicu endemi narsistik? Rasa paling bener, rasa paling “aku lah pusat dunia ini”, rasa paling “ya yang penting mah bukan aku”… Membicarakan konsep ini tuh sulit loh karena di satu sisi akan ada rasa marah. Aku nggak bermaksud menyalahkan atau mencari kambing hitam, tapi aku pengen kita memahami diri kita lebih jelas

Dear anyone daughters (just in case you are falling in love!)

I remember the last time I fall in love. I think at that time, I was worried about so many things. Usually, things that could be labeled SOOOOOOO WOMANNN. I feel like I am afraid that I am not beautiful enough. I am not that slim. At the end, I start to worry about how the men perceived me. It was probably, the thought of “men are all about visual, and their weakness is on the eyes.” Yes, that is unsettling. Being in love is sometimes means you being irrational. You know, today…when I carefully think about it. If I try to really put effort on the look, let’s say wearing make up and touch up every now and then… or let’s say I do extreme plastic surgery. Would that person like me back? What about the public response to that? I think what will come is that I will feel restless.. cuk iki loh insekyur-mu ra uwis-uwis tho .. hmmm, that’s probably what what triggers mental disorders in people who are addicted to plastic surgery. So, dear anyone daughters, I want to propose new theory.

Ngomongin Kebahagiaan

Kejar, tapi jangan terlalu. Cari duit, tapi jangan melulu. Miliki banyak orang di sekitar, tapi selektiflah dalam memilih siapa yang dekat. Kebahagiaan di kehidupan modern mengajarkan kebebasan tapi peraturannya kadang melibatkan kesunyian. Hari ini berkontemplasi dikit bahwa emang gak ada yang bener-bener tau apa sih kebahagiaan. Kalau pas lagi bahagia, kebahagiaan tuh keliatannya jelas, sederhana, gampang dicapai. Misalnya aja pas lagi ngumpul sama keluarga dan berkumpul sama mereka yang kita cintai. Nggak ngapa-ngapain, memperhatikan mereka berdiam diri. Kadang suka mikir di tengah keheningan bersama keluarga, asal bersama mereka, itu bentuk kebahagiaan yang paling murni. Tanpa musik, nggak ada argument, nggak juga obrolan. Apa mungkin di saat itu nggak ada pikiran apapun yang tersisa yang bisa menipu kita dari kebahagiaan ya? Saat itu mungkin jiwa kita ngasih tau, “hey kamu ini lagi bahagia loh” Kalau lagi ngobrol, kadang suka terlintas mikir, “ini menyenangkan”, mi

Pelajaran dari Berkebun

Di depan rumah ayah ibu, ada pohon jambu, serawung dan melati. Dibiarkan hidup, tapi tidak diurus serius. Kemudian di depan balkon lantai dua, ayahku ambis mengisinya dengan tabulampot alias tanaman buah dalam pot. Tidak besar, hanya sekitar 18m ² . Mulanya hanya jambu air. Kemudian karena terlalu sepi, ayahku mulai menanam cabe, tomat, kacang panjang dan kacang kratok. Posisi balkon lantai dua berhadapan dengan tempatku bekerja selama WFH, kadang aku memerhatikan kebun kecil itu ketika sedang beristirahat atau merasa suntuk. Suatu ketika aku kesambet, mendadak aku check out beberapa benih tanaman sayur. Pakcoy, caisim, bayam, kangkung, selada, kailan, bawang merah, daun bawang, seledri. Kesambet Dewi Sri alias Dewi Pertanian, ini sih.. Aku akhirnya ikut berkontribusi pada kebun di depan balkon lantai dua itu. Selama setahun, aku resmi menjadi tukang kebun. Ada beberapa hal yang aku pelajari dari berkebun. Nggak tau ngaco apa nggak, kalau ngelamun di depan kebun kan suka kesambet g