Skip to main content

Posts

Entry 2 - Gratitude Journal: Tuhan Maha Cinta

Judul dari gratitude journal diambil dari lagu yang sedang aku dengarkan. Kali ini lagunya Nidji, band yang bikin aku disko di atas meja kelas ketika jam kosong. Lagu Tuhan Maha Cinta menjadi lagu yang aku dengarkan berulang, terlebih kalau aku ingin menyerah. Menyerah dan berpasrah itu tipis garisnya, makanya orang sering kepleset. Hari ini tanggal 24 Desember 2021  jam 22.20, bersyukur untuk: 1. Daging sapi bumbu kecap buatan ibu, mie goreng yang rasanya setia tak pernah ubah, baso kanzler (list bersyukur nampak seperti list apa saja yang aku makan ya?) tapi tentu aku bersyukur atas apa yang aku makan. Semuanya enak dan membuatku mengingat bahwa makanan juga bisa jadi source of joy. . Bukankah itulah alasan sakral kenapa makanan mempersatukan dan membuat penyantapnya bisa tersenyum, bahkan makanan mampu melahirkan ingatan dan memori tentang cinta. 2. Buku yang sedang aku baca yang berjudul Human. Ternyata penulisnya Brandon Stanton, yang mengkurasi Human of New York. Dengan format ya
Recent posts

Entry 1 - Gratitude Journal: Esok Kan Bahagia

Kalau dipikir-pikir lucu sekali berpikir bahwa ada hari esok yang akan membahagiakan. Pertama yang harus dimiliki adalah keyakinan bahwa akan datang hari esok yang akan membahagiakan. Terima kasih karena meski nggak jelas, tapi masih berpikir jernih, dan sejernih-jernihnya berpikir di kekeruhan akal, tentu masih nggak waras. Apa yang “akan membahagiakan”? Atau SIAPA yang “akan membahagiakan?” Kedua yang harus dimiliki adalah umur, untuk hidup dan terus menunggu sampai bisa ditemukan jawabannya. Terima kasih karena meski tidak masuk akal, toh hal tersebut masih layak untuk dicoba dan diperjuangkan. Apalagi kalau yang akan membahagiakan juga ternyata butuh untuk dibahagiakan. Kalau aku mati duluan, siapa yang akan memberi ekstra kebahagiaan yang layak diperoleh seseorang yang menungguku di hari esok yang baginya pula aku datang “akan membahagiakan” Ketiga yang harus dimiliki adalah esok. Terima kasih karena hari ini masih sehat, meski esok nampak sangat jauh dan tidak bisa di

Tentang rasa syukur

Pernah suatu ketika posting sesuatu tentang ayah, tiba-tiba ada yang komen "enak ya masih punya ayah." Dalam hati ini, di satu sisi merasa bersyukur bahwa masih punya ayah. Sisi lain, kasian sama yang ga punya ayah itu, dan itu melipatgandakan rasa syukur yang sama, syukur karena punya ayah. Pernah juga diri ini, masih sangat amat lemah hati ini, sampai bisa-bisanya bisa bersyukur karena masih punya ibu, ketika dicurhatin seseorang yang ibunya sudah tiada. Dari situ, ngerasa malu sendiri. Kenapa rasa syukur yang aku punya harus dengan proses perbandingan dengan orang lain yang keadaannya lebih buruk dariku? Apa nggak bisa ya aku bersyukur, cukup karena aku bisa bersyukur? Muncul perasaan sakit berkepanjangan. Gimana kalau kelak aku di posisi mereka? Apa pantas kalau ada seseorang bersyukur atas apa yang tidak kita miliki? Aku jujur aja, kadang ngerasa bersalah dan ingin minta maaf karena beberapa syukur muncul dari kerendahan pikirku. Pikiran yang sangat pendek tentang memili

Overthinking Day 2: Kenapa belajar melepaskan itu sulit?

Ada satu hal yang aku sadari belakangan ini ketika aku merasa malam terasa lebih panjang dari siang. Aku ada di titik dimana aku tidak lagi mengkritisi cinta atau mengharapkan cinta untuk membuatku merasa lebih baik. Mungkin karena cinta kadang membawa penderitaannya sendiri. Mungkin karena dengan mencintai nggak selalu sama dengan dicintai kembali, dan itu kadang terasa menyiksa. Mungkin karena cinta yang seharusnya mendekatkan dengan kedamaian, malah menjerumuskan pada keresahan. Aku harap kita cukup kuat. Malam ini aku sadar. Kita memang kuat, tapi kadang kita sedang lelah. Dan dalam kelelahan, kita perlahan belajar melepaskan. Belajar melepaskan sebelum belajar memaafkan. Lalu kenapa belajar melepaskan itu sulit? Aku memahaminya dengan kesempitan pikirku saat ini…mungkin sebagai manusia, kita justru memilih untuk menggenggam kencang apa yang seharusnya dilepaskan. Menghabiskan waktu bersama dengan yang seharusnya dilepas, membuat jiwa semakin sulit berpisah. Dan

Overthinking Day 1: Masih adakah harapan untuk kemanusiaan?

Kadang kalau liat ulah manusia akhir-akhir ini, suka mikir mungkin emang manusia itu nggak layak hidup di dunia ini? Kayak, ada aja kita tuh ngerusaknya. Kalau ga secara ekologis, moral, atau polusi apapun itu. Keberadaan kita tuh sebenernya layak nggak sih? Somehow… if I tried to think about it. Kita pantes ga sih buat bumi ini? Yang kita sebut sebagai kemanusiaan ini masih ada harapan nggak sih? Dan.. kalau masih ada harapan… apakah kita sudah berprilaku seperti kita akan bertahan? Seperti kita……pantas bertahan? Logikanya kalau emang kita layak.. kalau emang kemanusiaan ini masih ada harapan.. Orang-orang tuh.. HARUSNYA, cepet-cepet vaksin biar nggak melahirkan varian virus baru yang lebih berbahaya. Harusnya mastiin tiap anak, dapet obat, makanan bernutrisi, air bersih, dan edukasi terbaik. Namun buktinya, manusia menunjukkan prilaku yang membuat kita semua selalu berpikir, kemanusiaan sudah mati. Manusia sudah tidak layak dipertahankan. Memang bukan tentang benar atau salah, tapi k

Self-love aja nggak cukup!

Belakangan ini lagi mikir sebuah ide tentang self-love. Katanya, lo harus mencintai diri lo sendiri sebelum lo mencintai orang lain . Sebenernya kalimat itu benar, tapi nggak sempurna. Kalau misalnya bener bahwa semua orang harus cinta dirinya sebelum cinta sama orang. Lantas kenapa masih sedikit sekali orang yang penuh cinta kasih, lembut, bersahaja, dan sangat menyenangkan? Misalnya aja masih kurang banyak kita temui warga sini dengan budaya tidak menyebar hoaks, mau gotong royong dalam mendidik masyarakat, bersih dari politik kotor, dan lainnya. Apa emang karena kita mencintai diri sendiri dulu, makanya kita jadi sulit mencintai orang lain dan mungkin sedikit banyak memicu endemi narsistik? Rasa paling bener, rasa paling “aku lah pusat dunia ini”, rasa paling “ya yang penting mah bukan aku”… Membicarakan konsep ini tuh sulit loh karena di satu sisi akan ada rasa marah. Aku nggak bermaksud menyalahkan atau mencari kambing hitam, tapi aku pengen kita memahami diri kita lebih jelas

Dear anyone daughters (just in case you are falling in love!)

I remember the last time I fall in love. I think at that time, I was worried about so many things. Usually, things that could be labeled SOOOOOOO WOMANNN. I feel like I am afraid that I am not beautiful enough. I am not that slim. At the end, I start to worry about how the men perceived me. It was probably, the thought of “men are all about visual, and their weakness is on the eyes.” Yes, that is unsettling. Being in love is sometimes means you being irrational. You know, today…when I carefully think about it. If I try to really put effort on the look, let’s say wearing make up and touch up every now and then… or let’s say I do extreme plastic surgery. Would that person like me back? What about the public response to that? I think what will come is that I will feel restless.. cuk iki loh insekyur-mu ra uwis-uwis tho .. hmmm, that’s probably what what triggers mental disorders in people who are addicted to plastic surgery. So, dear anyone daughters, I want to propose new theory.