Skip to main content

Posts

Scene terbaeqqq~

Kadang kalau lagi nonton film suka ada adegan dimana pas tokoh utama mau menjemput ajal, dia flashback ke masa yang paling berkesan di hidupnya. Sebut saja itu best scene alias scene terbaik dalam hidup kita. Sampe sekarang, aku masih sering bertanya-tanya, kalau aku meninggal, scene mana yang bakal tiba-tiba mampir merangsek masuk ke dalam pikiranku. Kalau boleh nebak scene mana yang paling menyenangkan dan berkesan, salah satunya scene bareng sahabat-sahabatku pas lagi traveling. Sampe saat ini, aku pikir, momen itu adalah salah satu momen terbaik meskipun pas mengalaminya aku nggak tahu itu adalah momen terbaik~ Kalau bisa nebak scene lainnya, tentu saja wisudaan. Terutama ketika liat orang tua menangis haru dan terasa bangga melihat perjuangan menuntut ilmu dan memperoleh gelar. Sampai tulisan ini diketik, aku kepikiran, kalau misalnya masih ada umur, semoga ada seseorang yang bikin semua scene biasa-biasa saja pun terasa ‘worth all my life’. Semoga di penghujung hayat bisa terseny
Recent posts

After the Penthouse

Truth to be told, kalau kita terlahir dari keluarga biasa saja kadang kita merasa bahwa kelas sosial itu nyata dan kita ga suka sama anak orang kaya. Salah satu drama Korea yang lagi booming saat ini adalah Penthouse, inti ceritanya drama orang tajir.. Ketika menonton kisah terkait si kaya yang memiliki segalanya dan si miskin yang hanya memiliki semangat hidup dan perubahan. Saya mengutuk kaum kaya dan mendukung si miskin. Hati ini kesal sendiri melihat semua ketertiban dan ketulusan kayaknya ga bisa diimplementasikan pada manusia tajir melintir itu.. Dalam lubuk sanubari terdalam bermuhasabah, kenapa sih anak orang kaya jalan hidupnya dibuat semudah itu, kenapa semua orang memperlakukan mereka lebih baik, dan kenapa enak banget ga ada prihatin dan susahnya? Tapi kalau dengan kejernihan pikir…. tentu hal tersebut juga di luar kendali anak-anak orang yang terlahir kaya raya ini.. Dipikir lagi, ada beberapa hal nggak menyenangkan karena lahir dengan sendok emas. Dulu pernah baca bu

Keberkahan dari Disalahpahami

Dulu banget pas baca The Subtle Art of Not Giving a F*ck, kepikirannya cuman dua. Ternyata di dunia ini banyak ya yang terganggu sama pemikiran orang lain, dan ternyata ini pun dialami oleh bule yang memiliki traits confidence dan seharusnya mampu menampilkan sisi superiornya. Menurutku buku tersebut lahir dari keresahan orang-orang yang bertanya, “gimana ya caranya supaya gue berhenti peduliin apa kata orang?” Lagi-lagi seiring aku mendewasa, aku tau pertanyaan tersebut salah. Faktanya semua orang emang peduli apa yang dipikirkan oleh seseorang tentang dirinya. Fakta lainnya peduli sama apa yang dipikirkan oleh semua orang, sudah jelas, adalah sebuah kesalahan. Seenggaknya, yang harusnya kita lakukan adalah menyelaraskan apa yang kita ketahui tentang diri kita dengan apa yang dipikirkan orang tentang kita. Dalam implementasi lanjutannya, kita justru perlu mengubah apa yang dipikirkan orang mengenai kita menjadi berguna buat diri kita sendiri. Improvisasi personal, misalnya? Ka

Soul Purification

Ujug-ujug tahun ini pengen baca buku keagamaan yang ringan dan ga terlalu mendakik-dakik. Jatuhlah pilihan kepada kitab yang direkomendasikan sama Ustadz Oemar Mita , yap tentang menyucikan jiwa, menjernihkan hati dengan akhlak yang mulia. Soul purification yang ada di judul refer pada kitab bernama ‘Tazkiyatun Nafs’. Pas baca buku itu… kesiksa batin karena selama ini mungkin jiwa emang terlalu kotor. Bawaannya pengen gelar sajadah, nangis tobat. Dalam hal penyucian jiwa, sebagai manusia kita tidak terikat lagi pada hal keduniawian, persoalan yang berkelindan dengan ‘ego manusia’ pun lenyap. Urusan-urusan kesehariaan semuanya teramat debu, jiwa kita yang asli hakikatnya merindukan Sesuatu yang Agung, Sesuatu yang disebutkan dengan 99 nama lainnya. Boro-boro inget tetek bengek kerjaan, kekesalan yang belum terlepas, atau cinta sepihak yang tidak akan terbalas. Semua yang kita lakukan emang harusnya diniatkan, dilaksanakan, dan dievaluasi atas dasar karena Allah. Selain itu, baca buku i

Bertampang Ramah

Kalau diingat lagi, sebenernya aku dan semua tongkronganku memiliki paras yang bertipe sama: ramah. Tidak intimidatif. Kalau ada orang yang mau numpang nanya, pasti kita jadi kandidat terpilih untuk jadi tempat bertanya. Kalau ada orang asing mau minta tolong nitip barang karena mau ke kamar mandi bentar, pasti kita dianggap orang terpercaya dan bisa diandalkan untuk menjaga barang tersebut. Aku yakin temen-temenku juga pernah mengalami kejadian kaya gini… lagi diem aja, dicolek orang, padahal kita lagi membentengi diri supaya ga dihipnotis dengan berkontemplasi dan berdzikir, kemudian kita jadi siaga, terkatakanlah “punten neng mau nitip dulu ya.. mau ke WC bentar”… Aku kadang suka mikir, apa ya yang bikin seseorang memutuskan untuk nanya atau nitip barang gitu aja. Apa karena menurut penilaian orang tersebut, kita-kita ini tampangnya shiddiq, amanah, fathonah? Tapi seiring berjalannya waktu dan meluasnya pergaulan, ada fenomena baru yang terjadi… Ada juga temen Instagram yang n

Meminta Maaf atas Hal yang Tidak Diketahui

Pak Ustadz pernah bilang, syukur kepada Allah itu sesungguhnya tidak terbatas pada nikmat yang telah dianugerahkan, tapi juga pada apa-apa yang tidak dimiliki, karena bisa jadi apa yang tidak kita miliki itulah yang menjaga kita lebih dekat dengan Tuhan dan menjadi pribadi yang baik. OK, this the clue to say anjay! ANJAYyyyy!  #AangBeingAang #AangAlay2021 Urusan bab bersyukur pada hal yang tidak dimiliki memang telah dipelajari di silabus kehidupan Tahun Ajaran 2020. Lalu.. Di 2021 Januari, ada pelajaran baru yang cukup membagongkan yaitu, meminta maaf atas hal yang tidak diketahui. Tentu saja sebagai manusia biasa, ada hal yang menyakitkan seseorang bahkan bisa saja terjadi pada orang yang kita tidak tahu siapa dia, dimana dia saat ini atau bagaimana mekanisme menyakiti itu bisa terasa secara langsung maupun tidak langsung. Pembelajaran hari ini terjadi karena ternyata (bisa jadi dan sangat mungkin terjadi dengan peluang yang sangat besar mencapai 99,999%), saya ngga sengaja n

Seni Hidup: apa emang hidup itu ada seninya?

"To die is poignantly bitter, but the idea of having to die without having lived is unbearable"  - Erich Fromm Sebelum aku baca buku The Art of Living karya filsuf Erich Fromm, aku rasa aku ngga pernah mikirin apakah hidup itu punya gaya tertentu atau dilakukan berdasarkan ilmu tertentu. Pemahaman mendalam tentang hidup ngga begitu saja terpikirkan karena kita hidup. Yang kita semua pasti sadari, hidup kadang menyenangkan dan lebih sering memberi pelajaran. Tapi sulit untuk memahami bahwa sebelum hidup yang kita punya sekarang, pada masanya hidup itu cuma “just being”. Lo hidup jadi diri lo, udah. Itu seni. Pusing ga? Ya udah bacanya sambil rebahan dong.. Karena aku baik dan rajin, aku jelasin biar kamu ikutan smart kaya aku ya.. Jadi.. zaman dulu tuh ga ada prinsip ownership alias prinsip kepemilikan, bayangin dong ya ribuan tahun lalu dimana hidup kaya bangsa Mongolia yang nomaden, berkomunitas, dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sederhana seperti beternak, bercoco