Skip to main content

Jika aku meninggal..

Meninggalkan dunia ini merupakan pemikiran yang menakutkan. Tapi aku pikir aku orang yang baik, mungkin beberapa dosaku akan menjerumuskanku ke neraka, tapi setelah itu aku akan naik ke surga, PD banget deh lu sis.. Hmm terlepas dari itu, aku ga tau berapa lama aku akan terjebak dengan siksa api neraka. Hidih. Kayanya aku kebanyakan baca komik Siksa Neraka nih pas kecil, jadi ngeri sendiri membayangkan siksa kubur dan azab yang perih saat di neraka. HUHU

siksa kubur yang paling greget adalah dibakar lebur secara repetitif.

Sebenernya aku nulis ini karena salah satu sahabatku meminta untuk menulis “5 hal yang ingin dilakukan sebelum mati”. Jelas hal pertama yang aku lakukan adalah memikirkan persoalan “jika aku meninggal”

Dulu kayanya aku pernah memikirkan dengan cara apa aku ingin meninggal, jujur saja jawabannya masih sama. Kematian yang cepat. Dan kalau boleh milih, aku ingin mati karena penyakit yang ngga bikin bingung atau bikin sedih. Jadi inginnya meninggal dalam hitungan detik, ga di rumah sakit, dan penyakitnya cukup terkenal. Mau meninggal aja milih-milih banget deh akuuu..

Kemudian, kalau aku meninggal, aku ingin orang-orang bersedih secukupnya saja. Boleh kok menangis. Tapi kalau besoknya harus kerja, aku ingin orang yang menangis itu masih bisa tersenyum meski dipaksakan. Toh kamu sedih pun, aku ga akan hidup lagi.. Dan aku tahu diriku, aku juga pasti sedih lihat kamu sedih karena aku..

Aku juga ingin semua orang yang mengenaliku bisa berpikir rasional dan mengingat bahwa aku telah hidup dengan baik. Mungkin sambil mengenangku, aku ingin orang-orang menangis hanya untuk merasa lega dan bisa kembali lagi rasional setelah isakan terakhirnya. Aku beri waktu satu hari sampe enam bulan untuk bersedih. Setelah itu, cukup do’akan aku.

Ketika menuliskan ini, aku tersadar, “Did I live a good life?”. Sungguh sebuah tamparan. Dan sadar fase kedua cukup bikin kesal, “Selama ini, aku hidup dalam mode autopilot.” Aku tahu tujuanku, tapi aku ngga terlalu neko-neko. Dalam beberapa hal aku cenderung menerima apa yang ditawarkan takdir. Aku ngga keukeuh berambisi pada kekayaan ataupun tahta kekuasaan. Lalu berpikir, apa hal ini akan aku sesali sesaat sebelum meninggal? Tentu.. Selain menyesal karena ibadahnya ga five stars. Apakah aku akan menyesal karena ga pernah ‘menyetir’ arah hidupku sendiri?

Jujur saja, aku sendiri tidak pernah tahu passionku apa, dulu sih masih bisa bilang, passionku jadi penulis. Tapi kalau sekarang ngga berani bilang karena ngga pernah sebegitu mengusahakannya juga. Kesannya selama ini emang kaya ga ada semangatnya menyambut pagi datang dan purposeless dalam menyikapi hidup, ya Bahasa kalemnya selalu hidup let it flow... Kalau aku meninggal, aku kepikiran ini ngga yah?

Kalau diteliti lagi, sebenernya mode hidup autopilot ini yang bikin aku sampe di kehidupan ku yang sekarang. Kelemahannya itu adalah beberapa pembelajaran mungkin luput dan bahkan mungkin aku sendiri ngga sadar kalau terjadi proses pembelajaran. HUFTS. Untunglah aku sadar sekarang. Di bawah pengaruh kafein, aku akhirnya paham salah satu kalimat yang pernah aku baca “If you want an enemy, the ego is sufficient. If you want advice, death is sufficient.” (Baddiuzzaman Said Nur) Memikirkan tentang meninggalnya aku membuatku dapat memberikan feedback pada diri sendiri.

Sebelum aku meninggal, aku ingin lebih banyak mendengarkan kata hati lagi. Kok bisa sih aku nyuekin diri sendiri. Maksudku… kadang aku ngga mengaktifkan secara efektif self-awareness ku loh.. seolah-olah aku tuh bagian debu kosmik jagat raya, yang melayang begitu aja tanpa daya upaya dan niat ngapain kek gitu..iya ada sih niat ngapa-ngapain, tapi tetep sih masih bisa dikategorikan “tidak seambis itu”

Eh gimana?? Apakah ini sebuah permulaan untuk aku menjadi ambis?

Jelas tidak juga ya. Karena justru poinnya terletak pada….meyakinkan diri bahwa jika aku meninggal, you did have a good life ang. Caranya kupikir ngga selalu harus dengan meraih hasrat-hasrat perkapitalisan, mungkin caranya sesederhana harus terus merayakan hidup ini.. Seperti meringankan ucapan syukur. Berterima kasih pada setiap menit yang berlalu.

I will be still passionless, but at least I know that I am doing okay and very happy about it.

Pertanyaan lain yang di fase sadar yang ketiga adalah, apakah aku telah cukup memberikan cinta pada orang disekitarku? I don’t know why but sometimes I feel like I am not giving enough love. I am afraid that I leave someone feel loveless.

Oh betapa egoisnya akuu.. Mungkin karena darah Jawaku ini membuatku selalu menahan diri untuk tidak semudah itu memverbalkan cinta, karena prinsipnya cinta itu dibuktikan dengan tindakan. Hari ini merasa bahwa aku tidak pernah mengucapkan aku sayang sama orang tuaku atau bahkan sama saudara-saudaraku. Suka heran juga, jika aku dengan kesadaran yang penuh tahu suatu saat aku akan meninggal, mengapa aku tidak hidup dengan penuh cinta yang melimpah ruah gitu ya? Apa mungkin orang-orang suci itu selalu dalam kesadaran 24 jam sehari bahwa dia akan meninggal di detik berikutnya. AHHH PUSING SEKALI MAU MENINGGAL AJA BANYAK PIKIRAN!

PS. Selamat lebaran! Mohon maaf atas kesalahanku. Begitupun jika aku meninggal, maafkan aku juga ya! 😚

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Ada Apa dengan Mas-Mas Jawa?

Kalau kamu adalah seorang perempuan, apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata ‘Mas-Mas Jawa’? Apakah seksi, idaman, gagah, karismatik terlintas meski hanya sekilas? Tak dipungkiri lagi mas-mas jawa adalah komoditas utama dalam pencarian jodoh. Cewe-cewe entah kenapa ada aja yang bilang, “pengen deh dapet orang jawa.” Alasannya macem-macem mulai dari yang sekedar impian masa kecil, pengen aja, sampe dapet wangsit dari mbah Jambrong. Saya ngga ngelak, pria jawa memang identi dengan kualitas terbaik. Mungkin Abang, Aa, Uda, Bli, Daeng, atau Bung juga suka merasa daya saing di pasar rendah, apakah dikarenakan passing grade Si Mas-Mas tinggi? Atau karena ada quality control sebelum masuk pasar? Hmm. Mari disimak beberapa hal yang membuat mas jawa menjadi undeniable (ngga bisa ditolak) 1. Killer smile Mungkin tatapannya orang Jerman atau seringainya kumpeni itu bisa membunuh. Tapi untuk seorang mas-mas jawa, yang membunuh itu senyum. Bikin klepek-klepek. Takar

Bumiayu

Welcome to the beautiful earth! Bumiayu. Back then I used to speak flawless javanese. But now, you can’t even tell that i ever had medok accent (aku ora ngapusi iki). Bumiayu was the first place I learned about manner and etiquette. Javanese have different level of politeness in their language. They have kromo javanese and ngoko javanese. Kromo javanese used to talk with the elderly and someone that you should respect, whereas ngoko javanese is used when you’re talk to your friend or your junior. The same thing happened with Japanese and Korean. They do had formal and informal language.