Skip to main content

Setia pada Kata Hati

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” – Pramudya Ananta Tur

Beberapa hari lalu saya sadar telah kehilangan salah satu kebiasaan yang memang sudah sejak lama saya ingin hilangkan. Kebiasaan ngelus orang yang ngga sengaja kesenggol. Misalnya saja waktu itu di Damri Bandung, saya tidak sengaja menyikut kepala ibu-ibu, posisinya kami berdua berdiri dan siku tangan saya menyentuh kepalanya karena bis yang berhenti dan bergerak tanpa aba-aba. Sontak saya langsung mengelus kepala ibu-ibu tersebut sambil bilang maaf. Dalam hitungan detik, saya merasa canggung. NGAPAIN SIH LU ANG, ngga bisa apa tangannya ga usah pegang-pegang.

Ini karena saya sering sekali bergaul dan setongkrongan sama bocah, jadi kelakuan terkadang sangat nanaonan pisan. Elus-elus sembarangan! Lu kira teko jin? 

ini teko secara fungsi buat isi aer, kenapa jadi buat nyegel jin ya -__-

Kebiasaan ngaco itu sempet bikin saya sariawan, stress banget kadang tiba-tiba tangan reflex gerak sendiri mau ngelus cowo yang bukan muhrim. Astagfirullah ukhti.. Untung selalu ga jadi karena pas mau dielus langsung sadar diri, pernah banget tangannya hampir mau mendarat di lokasi dan kesadaran itu menahan tanganku sehingga dia menggantung begitu saja di udara. Maaf saja cukup kok~

Teruss.. kebiasaan yang berhubungan dengan gerakan tangan lainnya adalah ngeplakin orang kalau lagi overly excited. Kebiasaan ini diadopsi saat lagi booming-boomingnya Running Man, variety show asal Korea yang isinya games lari-larian tapi bodor. Orang Korea itu kadang kalau lagi seru syekaliih bercandanya suka ketawa sambil tepuk tangan dan gebuk-gebuk manja orang sebelahnya, saya jadi terbawa. Kalau ketawa juga kadang tangan saya memukul manja lawan bicara saya. Ngga paham lagi maksudnya apaaaa cobaaaa, memastikan lawan bicara saya tidak tembus pandang???? KENAPA SIH LU TUH..

Jadi ini pernah kejadian, saya lagi ngobrol sama bos. Ngobrolnya di kursi yang lebih empuk alias kursi yang ada di ruang tamu orang kayahh ituu, jadi saya duduknya ga begitu jauh. Bersebrangan jarak, tapi masih bisa saling menggapai. Halah naon sih. Terus Bapak Bos ngelucu, dan beneran lucu, jadi saya ketawa. Pas momen saya ketawa karena lucu, saya keplak dong tangannya si bapak! Lalu dengan dongonya sadar kalau beliau adalah the bozz here, dan tidak sepatutnya dikeplak manja begitu. Kemudian mengutuki diri sendiri, AKU BARUSAN MELAKUKAN APAA ITU?? AKU SIAPA?? INI DIMANAA?

Karena itu pertama kali saya ngeplak dia, saya waswas dan deg-degan, takut dikeplak balik lebih keras. #loh Pokoknya takut dia ngga terima gituu..

Untungnya bapak bos reaksinya biasa aja, dan bikin aku lebih tenang. Fiiuuhh~
Sayangnya, kebiasaan tersebut masih terus berlangsung. Ingin aku menghentikannya sebelum berdampak negative pada hajat hidup dan kemaslahatan umat.

Saya lagi mikir, kok kebiasaanku ngelus orang kalau kesenggol ituuu hilang dengan sendirinya ya? Apa karena saya niatkan dengan sungguh-sungguh ya.

Ini serius gaes, sebelum berangkat kuliah S2 ke Jepang, saya evaluasi diri besar-besaran, takutnya ada kebiasaan saya yang membuat se-Indonesia dihakimi secara buruk oleh negara lain. Termasuk kebiasaan ngelus-ngelus orang yang kesenggol itu saya renungkan secara matang dan keputusannya kebiasaan itu harus bubar. Kata hati saya menganjurkan seperti itu, maka saya setia pada yang dikatakan hati ini.

Kalau untuk kebiasaan yang ngeplakin orang karena lagi overjoy, saya takutnya ada yang ngga nyaman atau justru nyaman (?) Jelas saya harus hilangkan sih! Karena bagaimanapun rawan sekali ya denan adanya si korona iniii. Pegang-pegang tar malah kulit semakin kering karena keseringan hand sanitizer dan cuci sabun. Azab kecil-kecilan. Begitu kata hati saya barusan. πŸ™Œ

Mau terus terang, kebiasaan lain yang cukup absurd yang dilakukan tangan saya lainnya adalah saya sering nebar gula putih di pojokan. Gulanya ini buat mamam si semut. Salah satu binatang yang saya favoritin adalah semut. Di kosan, saya selalu punya stok gula, just in case yang lagi saya pake habis. Kalau kalian melihat saya ngambilin jatah gula hotel, itu biasanya juga untuk donasi harian pada perut semut yang kenapa kecil banget segede upil gelondongan ya Allah.. 

Kekagumanku pada semut bermula ketika SD, saat itu lagi mandi dan tiba-tiba mataku menangkap gerakan semut kecebur bak mandi yang sedang melambaikan tangan megap-megap. Namanya anak SD yang penuh imajinasi, saya seolah bisa dengar semut itu minta tolong diselamatkan. Jadilah saya tim SAR dadakan, saya pindahkan semut tersebut ke tempat yang kering dan lebih aman. Semut itu komat-kamit mengucapkan terimakasih sambil kedua kaki depannya terangkat dan antenna bulunya yang halus gerak tak karuan. Saya cuma senyumin sambil dijawab 'iya macama gan' dalam kalbu.

Semenjak saat itu, semut adalah teman (buset berasa line Tsubasa Ozora, bola adalah teman)

Bola adalah teman karena kalau bola adalah pacar, kamu pasti halu plus bucin, tsubasa

Terus pas mau studi di Jepang itu, aku menimbang-nimbang ini sebenarnya kebiasaan bagus atau hanya kegoblokan yang sustainable ya? Yup, jawabannya tentu yang kedua. Karena setelah saya selidiki, semut ini independent but weak creatures. Semut merupakan koloni hardworker yang saling peduli satu sama lain dengan cara yang masya allah tabarokallah banget deh. Juga, satu-satunya binatang feminis, karena mereka melayani queen dong. Wkwk.

Jadi pertanyaannya ngapain aku kasih makan, kalau mereka itu by default bakal berusaha keras untuk mencari secomot gula. Tapi entah kenapa mengikuti kata hatiku… aku ngga menghilangkan kebiasaan ini, meski harusnya ada motif kuat, hemat gula di rantau misalnya. Namun ternyata di Jepang jarang banget semut. Pas lihat ya pas di taman, bukan di rumahan kaya di Indonesia, hehe.. πŸ˜œ

Jadi kutipan di awal pembuka semua cerita tentang kebiasaan buruk yang diinisiasi tangan ini adalah reminder untuk saya sendiri, kaum terpelajar sudah seharusnya punya hati dan selalu diasah. Before anything else, there is human value. Always thrive for serving humanity yaaaa kamu para pembacaa!!! πŸ˜š

***

Oh iya mau cerita, sore ini aku Tokma, sebuah swalayan besar di Cikampek. Di Tokma tadi liat deretan rak parfum, dan baru sadar….BERBELANJA PARFUM WILL NEVER BE THE SAME.. Biasanya kan kalau mau beli parfum suka diendus-endus dulu tutupnya, sekarang ketutupan masker, dan terlalu berisiko kalau mau memaksakan mengendus pun. Apakah aku akan setia dengan parfum yang itu-itu saja sebelum vaksin ditemukan. WKWK kaya mau kemana aja deh~ lagian pake parfum juga tercium nya pasti sepotong, kan pake masker juga orang-orang tuh..

Seru banget ya jalan-jalan ke Swalayan doang, berasa kaya perjuangan menaklukan hutan rimba. Tapi aku masih heran deh kenapa kok ada yang ngga pake masker, harusnya emang disiagakan nih satpam untuk melarang bunda dan ayahanda yang selonong boy ga ikut protokol… Yang kamu lakukan itu bangcat, selevel di atas jahad! 

Gue telpon juga nih biar ngejemput itu orang pada yang ga maskeran

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . πŸ˜™ Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh