Skip to main content

Kentut

Saya pernah nonton variety show-nya Negri Gingseng, Hello Counselor. Acaranya membahas problematika, kesulitan, dan penderitaan seseorang. Kind of curhat, but the problem usually soooo silly and weird, you can’t even imagine.
Disitu ada host sama penonton. Host berfungsi juga sebagai panelis tanya jawab tentang permasalahan tersebut. Tanya jawabnya dua arah, dari sisi yang punya masalah dan yang jadi biang masalah. Hingga pada satu titik mereka coba memberi solusi. Terus penonton ngejudge itu masalah bukan untuk kemudian voting. Nah yang paling banyak dapet vote, nanti dapet hadiah.
Ada satu episode yang menarik yang melibatkan hal paling manusiawi : kentut.
Kali itu ada seorang ibu paruh baya, ucluk ucluk datang dia, lewatin perosotan, terus mandi bola bentar gitu kan. Tentulah dia datang karena punya masalah.
Dia ngeluh kalau suaminya udah ngga cinta lagi karena dia kentut mulu. Ditanya kan sama panelis, “Emang bener ya Ibu suka kentut? Berapa sering?”
For a stranger asked something like this, it maybe really annoying. But Koreans can pulled that off. I assumed that her farting smell worse than her husband.
“Hmm, ngga pernah ngitung. Paling maksimal 20 kali sehari.”
Nah trus dikonfirmasi sama si Bapak. “Wih ngga nyadar lu, lu kentut hampir ratusan kali, yang kecil-kecil prepet-prepetannya diitung dong.”
Terus kan ditanya, “Emang Ibu kenapa kok kentut mulu?”
Si Ibu menimpali, “Kayanya ada masalah metabolisme gitu. Pernah ke dokter dan katanya sih wajar aja.”
Kan panelis mulai bingung, nih kenapa sih kentut doang alah. Udah mulai pada mikir kan, pasti nih Si Bapaknya sensian atau rese.
“Bapak emang kenapa ya kok kentut doang dimasalahin?”
“Soalnya saya pernah baca artikel di koran tentang penelitian dampak kentut pada tikus. Dan hasilnya menunjukkan kalau kentutnya perempuan itu bisa membunuh tikus lebih cepat. Jadi kentut perempuan itu bahaya, beracun.”
WHAAAATTT??!! Konyol. Sebenarnya semua kentut itu beracun.
Konon, beberapa habit ngga bisa ditolerir oleh sebagian orang. Sekarang saya tahu itu bukan konon lagi.
Team Hello Counsellornya membenarkan penelitian tersebut. Udah pada bingung kan, nih salah satu harus ngalah biar bisa damai.
“Ibu, emang ngga bisa ya kalau kentut ke kamar mandi dulu gitu, atau kemana lah yang penting jauh dari Bapak.”
“Iya kadang-kadang saya kalau kentut ngejauh kok. Cuma sayang ada yang keluar duluan sebelum saya sempet pindah gitu kan. Ngga tahan soalnya.”
Langsung disamber si Bapak, “Apaan! Awal nikah doang gitu, sekarang brat-bret-brot dimana aja. Ampe berisik dah tu rumah ama suara kentutnya.”
Why I suddenly think that this couple come from Jakarta.
Panelis mulai kerepotan. Nanya kedua anaknya akhirnya. Anaknya cewe cowo. Yang satu sudah bekerja, mungkin berusia 25, yang satu masih sekolah.
“Ini kalian sebagai anak tanggapannya gimana nih orangtua kalian berantem karena kentut?”
“Kami sih inginnya masalah ini cepet selesai. Soalnya kadang masalah sepele juga kalau ngga diomongin gitu tar jadi besar. Makanya kita bawa masalahnya ke sini.”
Iya juga sih. Kalau melihat gelagatnya agak sulit untuk memediasi mereka berdua tanpa seseorang yang punya kuasa lebih besar.
“Emang kalian ini udah berumah tangga sejak kapan bu?”
Saya lupa deh berapa lamanya, tapi yang jelas cukup lama sehingga bisa kentut depan satu sama lain.
Lanjut panelis mau ngasih wejangan, “Hmm gini ya Bu, Pak, pernikahan itu sifatnya kerjasama dua orang. Jadi kalau keduanya sudah ngga berusaha untuk menjaga pernikahan tetap utuh, ya pasti bakal ada masalah. Sekarang saya tanya Ibu sama Bapak, masih mau bekerja sama ngga menjaga pernikahan kalian utuh?”
Diem dulu. Lama. Kayanya memori masa muda satu-satu muncul, entah gimana deg-degan tuh saya. Wah ini kalau di acara ini sampe ada yang cerai gimana?
Eh tapi karena kelamaan di selah sama seorang panelis, “Ibu masih cinta ngga sama Bapak?”
Langsung dijawab cepet, “Masih.”
“Bilang dong, ungkapkan, Bapak pengen denger tuh..”
“Aku cinta sama kamu, Pak.”
Damn, kadang memang ketika ngga ngeliat cahaya di ujung terowongan, satu-satunya jalan adalah menciptakan api. Percikan api udah muncul.
“Pak, gimana nih perasaan Bapak sendiri sama Ibu? Masih cinta?”
“Ya masih.”
“Nyatakan dong, Ibu kan juga mau denger langsung dari mulut Bapak.”
Si Bapak malu-malu, kaya baru jadian aja gitu. Lama banget tuh malunya. Di variety shownya Korea emang kalau diem aja tuh ada batasnya, karena harus ngomong terus, takut penonton ganti channel karena kelamaan.
“Pak, gimana?”, tandas panelis yang ngga sabar.
Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, “Aku juga cinta kamu, Bu.”
Wuih adem kan, karena keduanya masih saling cinta, panelis menyarakan untuk lebih saling pengertian satu sama lain. Si Ibu diminta untuk menjaga makanannya, dan kentut bener-bener jauh dari hidung suaminya, kalau perlu hirup sendiri tuh udara yang dia cemari. Si bapak dianjurkan untuk lebih memaafkan, bersabar dan bertoleran, karena kentut itu tandanya sehat, terus juga menghirup udara kentut memang beresiko, tapi kalau pola hidup, tingkat stress dan makanan dijaga pasti akan sehat.
Bayangkan ya, masalah yang kayanya sepele itu bisa berakibat suatu permusuhan dan hampir memecahkan kalau ngga segera ditangani.
So I remember someone said this :
“Love is when your spouse farting in front of you, and you find it cute and still want to live with her.”



Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh