Skip to main content

Sudah Setengahnya

Sudah tanggal 16. Artinya sudah 15 hari berlalu semenjak pertama kali menulis teratur di bulan Mei.

Hari ini sesuai permintaan Bang Wiro, ingin sekali membahas terkait apa perubahan yang terjadi setelah rajin menulis. Kita bikin list aja ya, agar lebih gercep.


  1. Menulis terasa lebih enteng. Seperti ngambil gelas ke dapur buat minum saat haus. Terjadi begitu saja. Ada saatnya menulis terasa seperti beban. Meski awalnya aku ingin sekali membiasakan diri agar menulis terasa seperti kebutuhan dan kelak terasa semudah menarik nafas. Setelah melalui tanggal 15, aku semakin percaya bahwa niat dan tindakan adalah paket lengkap untuk mewujudkan semua keinginan. Aku sekarang lebih ringan dalam mengalirkan pemikiranku melalui kalimat. Hanya saja ya itu, masalahnya terkait waktu dan kemalasan, jelas sih alasan hanyalah alasan.
  2. Semenjak mengikuti challenge 31 Hari Menulis, kadang menulis terasa seperti sebuah keharusan. Belum bisa tidur kalau belum nulis yang untuk hari itu. Pernah sampe malem banget dan mepet-mepet jam 12 karena belum selesai nulisnya. Ya ampun, udah kaya deadline tugas kuliah dosen yang paling galak. Tapi aku suka, dengan begitu aku jadi lebih disiplin. 
  3. Karena menulis, aku jadi lebih banyak belajar lagi. Beberapa tulisan ada yang ambis pengen pake data. Jadi harus searching. Mengumpulkan informasi yang penting dan meramunya menjadi menarik merupakan hal yang masih harus aku pelajari. Huhu, sungguh sulit ya ingin menelurkan tulisan berkualitas dan bisa memberi manfaat.
  4. Alhamdulillah, jadi belajar ngobrol sama diri sendiri. Mengorek luka lama dikit. Sungguh menyadari bahwa luka itu penanda kalau sesuatu pernah terjadi. Kemudian juga jadi banyak memikirkan apa saja yang telah dilalui selama ini, flashback kecil-kecilan itu membuatku makin bersyukur, meski kadang yang diteguk rasanya pahit, tapi selalu ada hint manis yang nongol ugal-ugalan. Terima kasih kepada penulis skenario terbaik di jagad raya ini~
  5. Jadi termotivasi ingin selama setahun penuh menulis di sini. Alasannya sederhana, ga punya diary. Ketinggalan di Bandung, dan malas juga beli diary, hemat kertas dong beb. Kebetulan semenjak awal April pulang ke rumah di Cikampek dan meninggalkan kosan di Bandung. Diaryku kutinggal di Bandung. Akhir Maret aku masih ingat isi diaryku adalah curhatan mengenai seseorang. Pun blog ini kiranya akan menjadi diary-ku, ia akan berisi orang-orang yang berdiam di kepala dan hatiku.
  6. Aku jadi bisa lebih memahami gaya tulisanku dan melihat beberapa gaya berbeda, kadang serius, kadang bercanda, kadang sungguh tidak penting. Rasanya aneh memerhatikan perubahan tersebut. Seperti melihat kolase fotografi yang kontras. Aku rasa itu semua merupakan bagian dari diriku, aku menerimanya, namun terkadang masih gemas aku dibuatnya. "Kok bisa ya aku nulis kaya begitu ih bukan aku banget??" masih sering terasa loh.. 
  7. Efek samping lainnya: Aku jadi hapal lagu dangdut. Mbak Woro Widowati utamanya~ Karena kalau malam musiknya bagian adekku yang cowo, dan dia hobi banget nyetel dangdut yang akustikan. Awalnya aku ragu tapi lama-lama keenakan juga. Hahaha.

Dear Bang Wiro, terima kasih sudah menjadi admin 31 Hari Menulis yang baik, yang juga mengilhami tulisan yang sangat singkat ini. Entah bagaimana takdir mempertemukanku dengan akun twitter 31 Hari Menulis. Dan kebetulan banget saat itu lagi pengen rajin menekuni hobi nulis. Dulu sekali, sebelum menjadi budak akademia di kampus Dago, cita-citaku adalah jadi penulis. Meski jauh dari kata penulis asli, ini kuanggap sudah setengahnya.

Sudah setengahnya untuk bisa mempercayai bahwa menulis itu menyenangkan. Dan jika pun menulis terasa menyulitkan, mungkin selama ini menulis nya masih kurang banyak sehingga masih butuh pembiasaan. 

Yuk untuk kamu yang belum menulis, menulislah, mungkin kamu akan tahu sisi lain darimu yang tidak pernah kamu kenali sebelumnya~ Seperti aku, yang masih saja terus ngulik diri sendiri 💖

Comments

Popular posts from this blog

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Ada Apa dengan Mas-Mas Jawa?

Kalau kamu adalah seorang perempuan, apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata ‘Mas-Mas Jawa’? Apakah seksi, idaman, gagah, karismatik terlintas meski hanya sekilas? Tak dipungkiri lagi mas-mas jawa adalah komoditas utama dalam pencarian jodoh. Cewe-cewe entah kenapa ada aja yang bilang, “pengen deh dapet orang jawa.” Alasannya macem-macem mulai dari yang sekedar impian masa kecil, pengen aja, sampe dapet wangsit dari mbah Jambrong. Saya ngga ngelak, pria jawa memang identi dengan kualitas terbaik. Mungkin Abang, Aa, Uda, Bli, Daeng, atau Bung juga suka merasa daya saing di pasar rendah, apakah dikarenakan passing grade Si Mas-Mas tinggi? Atau karena ada quality control sebelum masuk pasar? Hmm. Mari disimak beberapa hal yang membuat mas jawa menjadi undeniable (ngga bisa ditolak) 1. Killer smile Mungkin tatapannya orang Jerman atau seringainya kumpeni itu bisa membunuh. Tapi untuk seorang mas-mas jawa, yang membunuh itu senyum. Bikin klepek-klepek. Takar

Bumiayu

Welcome to the beautiful earth! Bumiayu. Back then I used to speak flawless javanese. But now, you can’t even tell that i ever had medok accent (aku ora ngapusi iki). Bumiayu was the first place I learned about manner and etiquette. Javanese have different level of politeness in their language. They have kromo javanese and ngoko javanese. Kromo javanese used to talk with the elderly and someone that you should respect, whereas ngoko javanese is used when you’re talk to your friend or your junior. The same thing happened with Japanese and Korean. They do had formal and informal language.