Skip to main content

Kerandoman adalah Bentuk Survival Mode

Mungkin di sini banyak yang merasa bahwa semenjak WFH, PSBB, GWS, HBD, WYATB, GBU, ILY eh gimana… hahah maafin. Mungkin di sini banyak yang sadar bahwa setelah WFH, waktu luang jadi semakin banyak. Waktu yang biasa digunakan untuk mobilitas dan bercanda riang dengan teman sejawat di pantry atau kantin jadi terpangkas. Bisa diganti dengan ngangkat jemuran Mamah Papah, atau diganti jadi buka tutup tirai dan jendela rumah hehe. Weits, kali aja di balik tirai tersebut ada hadiah mobil atau uang tunai 200 jeti.

Halo semuanya!! Masih kuat menahan diri dari iklan marjan, hawa nafsu untuk ngatain orang dan godaan betina dan pejantan tangguh kan? Semoga, aamiin! Untuk yang puasa, semangat ya puasanya! Untuk yang ga puasa, semangat ya ngga puasanya! Untuk yang bingung puasa atau ngga, semangat ya bingungnya! Pokoknya sebagai pengikut jamaah ukhuwah hedoniyah yang bersahaja, aku akan selalu menyemangati kamu dan mendukung apapun keputusan kamu~ Ehem.

Jadi kamu selama WFH udah merenung dan kesurupan Plato belum? Soalnya aku udah dong... Sebelumnya sempet diajak ikut Kelas Isolasi sama Mas Agun. Kelas Isolasi ini isinya bahas Filsafat. Jujur aja, aku merasa efek samping filsafat di aku itu selalu begitu. Aku selalu merasa mengerti pas dijelasin, tapi pas udah beres kelas ya buyar semuanya. Emang abstraksi level prinsipil itu ga cocok sama aku. Bukan ga bisa, tapi kaya bukan jodohnya aja gitu. Mungkin karena didikan analitik kali ya, makanya kalau diajak berfilsafat selalu ingin komen “KONKRETNYA APAAA?” “REALISASINYA GIMANA?” ((komdis lapangan banget ini emang))

Loh ini mau ngomongin apa sih sebenernya? Jadi gini…. Ketika prakorona ini hidup kita kan sibuk banget tuh. Sampe kadang aku ngerasa aku ngga punya waktu untuk punya mimpi baru dan ngga ada kesempatan untuk berusaha meraih mimpi tersebut.

Ketakutan terbesarku sama banget kaya pas aku ngerjain ujian Experimental Design, masih teringat jelas soal ujiannya susah banget, kaya Ujian Chunin (UMPN, Ujian Masuk Perguruan Ninja), eeeeaaaa… Di ujian tersebut, aku hanya bisa mengerjakan beberapa soal, setelah itu sisa waktu dihabiskan dengan memandang ke luar jendela sambil bermuhasabah “aku ngapain aja sih sama hidup aku… apakah pilihanku ini jalan yang bener?… kok aku goblo”, ya pokoknya aku udah pengen menggali liang aja sampe Terusan Panama. Kalau kalian belum pernah mengalami yang kaya gini, fiks hidup kalian kurang menantang. Ayo coba parkur sekarang!

IYA. Aku takut banget di masa tua nanti, aku nyesel dan bilang “AKU PAS MUDA NGAPAIN AJAAAA??!!!!”

Seperti yang dinyinyirin Professor Harold Hill “You pile up enough tomorrows, and you’ll find you are left with nothing but a lot of empty yesterdays.”

Memikirkan hal tersebut, aku jadi mikir, apa aku telah menghabiskan masa prakorona dengan baik? Apakah kemarin-kemarin yang aku lalui sudah cukup berarti? (eh aku kok mendadak kaya Lirik Hindia gini ya -____________-)

Nah pas banget pertengahan bulan lalu aku baru inget kalau di rumah ada laptop zaman kuliah circa 2015 (zaman sebelum jadi Pengabdi Duit Gajian), aku buka HDD Internalnya. Dan tadaaaaaa… Aku kini berada di pintu gerbang untuk menggoblok-goblokkan diri sendiri lagi…

Ternyata aku dulu najis dan random abis. Kenapa banyak banget file ga jelas sih. Ada foto bayi, beberapa bayi bahkan gatau itu bayi siapa. Ada foto bak sampah. Ada foto pohon dan bunga. Banyak. Banget. Aku maunya apa sih. Ada foto gorengan. Kenapa gorengan harus difoto? Sampe aku terpekur mikir “ini motivasi dan faedahnya aku ngambil foto begini apa ya?” Aku sampai pada kesimpulan bahwa mungkin saat itu otakku belum jadi secara sempurna. Jadi si neuron satu sama lain ga nyambung sehingga informasi tidak utuh itu menyebabkan tindakanku jadi tidak beralasan dan tidak bisa di-trace asbabun nuzul-nya.

Hanya saja, surprise!! Ada beberapa kerandoman yang aku masih ingat lakukan dan itu terekam potret. Aku sampe ngakak sendirian inget-ingetnya, terus dimarahin sama Mamah karena kekencengan ketawanya. Oke, kita bahas salah tiganya ya.

Satu, aku sempet namain mangkok aku dengan nama dosen Favorit aku. Pak Rahmat. Ini tuh sebenernya terinspirasi dari Nabi Muhammad yang ngasih nama pedangnya. (iya aku tau, harusnya ngga mangkok juga sih). Saat itu aku ingat bahwa semua barang elektronik lah yang aku kasih nama. Dan mangkok ini berhak dikasih nama. Dia istimewa. Karena tiap pagi aku selalu butuh dia, buat tempat makan bubur, lontong kari, surabi, sampe koko krunch plus dancow. Jadi dia selalu ada di saat aku membuka mata. Sungguh terharu. Kenapa pak rahmat akhirnya dipilih? I have no idea. Itu kayanya reflex aja gitu karena aku suka cara pandang Pak Rahmat akan hidup dan bersikap. Ga nalar lagi sih akupun kenapa sampe diwujudkan. Astagfirulloh, ini ingatan aku kenapa hanya beberapa megabit saja sih. Ini spidolnya yang ga bisa dihapus loh ya. Tapi seingetku akhirnya ilang juga, Sunlight emang ampuh.

Tanda Cinta pada Pak Rahmat

Dua. Jadi aku tuh anaknya suka pergi ke perpus kalau kuliah kosong. Pokoknya aku merasa nyaman di perpus, sudah aku anggap rumah sendiri. Kerandoman dahsyat yang sering aku lakukan adalah…. Aku kadang ngambilin koran yang dipajang, terus aku isiin TTS yang ada di koran tersebut. Pake pulpen. Nyalinya gede banget ya. Ngga tau suka sayang aja gitu, tapi sayang aja ga cukup buat jadian, HEH! Wkwkwk, ngga.. aku suka gatel aja ngeliatnya, jadi aku isiin. Kasian yang bikin udah cape-cape. Aku rasionalisasinya gitu. Bahkan sampe aku S2 pun, aku masih suka melakukan hal yang sama. Memang, manusia tidak semudah itu berubah gaes.

Berbakti pada perpustakaan

Ketiga, aku suka pake nama samaran kalau bertamu ke kosan temenku. Jadi kosan temenku itu canggih, ada buku tamu, udah kaya kondangan buat absen souvenir kaliiii.. Nah aku kalau ke kosan dia (tenang dia cewe kok), aku selalu pake nama Naysilla. Iya nama panjangnya Naysilla Mirdad binti Jamal Mirdad.. Lah. Wkwk, kenapa harus nama samaran? Saat itu, aku mikir ‘kayanya ngga perlu deh ini nama asliku, berlebihan, privasi ah, emang aku mau ngapain???? Aku kan cuma nonton VCD bajakan aja rame-rame.. hufts’

Sesajen nonton cantiks

Terus kenapa Naysilla? Jujur inimah, dulu aku nontonin sinetronnya Naysilla Mirdad yang dia main sama Dude Herlino. Mulai dari Intan, Jodohku, Cahaya, Doa dan Karunia. Terus aku suka kasian dan nangis gara-gara si Naysilla, dia baik banget ya Allah sering banget disakitin dan dijahatin tapi tetap tegar hingga akhirnya dapet ending bahagia. Dari situ muncul ide, kalau punya nama samaran pengennya Naysilla, symbol ketegaran dan kekuatan hati. ALAY LU ANG. Ahahaha. ((OOT sekarang juga kalau ke resto sama temen deket suka booking pake nama Naysilla, ga tau biar apa tidak bisa dijelaskan dengan kata dan perasaan))

Pada akhirnya, all this little random act makes me want to believe that life is okay, no matter how hard it is. Dengan menjadi aneh dan ga jelas gitu mungkin itu salah satu mode bertahan hidup Aang saat itu. Wih salahkan neuron yang berkembang terlambat~ Huhu

Sekian aja untuk hari ini. Plz jangan ilfil, aku anak baik-baik kok Mari berteman!


Salam MUALAIKUM,

-Naysilla-

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh