Skip to main content

Bagaimana jika.. dan jawabannya…

Postingan ini akan memiliki mekanisme dan alur seperti: Aang bertanya dan Aang pula yang menjawab, karena ini blog aang ya terserah aang saja, iya kan? Permainan "bagaimana jika" terus terang saja merupakan games kesukaanku karena karakternya mirip denganku: imajinatif namun tidak mengandung resiko berarti. 

Kamu bisa bermain bersamaku dengan menjawab setiap pertanyaan yang aku buat sendiri malam ini! Katanya berbicara pada diri sendiri juga merupakan kebutuhan loh.. Aku harap bagaimana jika ini bisa memfasilitasi hal tersebut!

Mari kita mulai!

Bagaimana jika kamu tidak pernah terlahir ke dunia ini? Akankah manusia kehilangan sosok bermakna?

 Jika aku tidak pernah lahir ke bumi, tentu manusia kehilangan sosok bermakna. (((AING TEA GITU)))

 Bagaimana jika kamu tidak melakukan apa yang seharusnya tidak kamu lakukan? Akankah kamu menjadi bijaksana?

 Kebijaksanaan itu mungkin buah kebodohan, tapi kebodohan bukanlah bibitnya. (((IYAIN AJA SIH ANJIR DARIPADA BINGUNG MENDING JAJAN.)))

Bagaimana jika hari ini kamu pergi karena Tuhan lebih menyukaimu berada di-sisiNya? Apakah kamu meninggalkan penyesalan dan membuat orang di sekitarmu berduka?

 Jika aku pergi, banyak yang berduka, karena aku selalu berharap seperti itu. Tapi aku ingin orang lain bersedih sebentar saja. Plis gaes, kalau aku meninggal nangisnya sebulan aja, jangan kelamaan tar jadi miskin ih karena bersedih mulu. Ingat aku tidak suka orang miskin.

 Bagaimana jika hari ini seseorang yang sangat kamu cintai memilih menetap bersamamu? Apakah kamu akan selalu menjaga perasaannya dan menghormatinya selayaknya kamu menginginkan ia selalu tinggal di sisimu?

Jika seseorang yang kucintai memilih menetap, tentu aku akan membuatkannya rumah di hatiku! Sini, sini.

 Bagaimana jika Trump itu orang baik dan tidak seperti yang orang sangkakan? Apakah kita lantas menjadi orang jahat?

 Trump bisa saja baik dan jahat, itu normal. Jika dia baik, mengapa aku agak tidak menyukainya ya? Iya~

 Bagaimana jika besok kamu menemukan sebuah lemari yang membawamu berpetualang ke dunia sihir yang penuh keajaiban? Akankah kamu pergi?

 Jika di dunia ini ada lemari Narnia, aku tidak ingin pergi karena aku lebih suka tidur di rumah. MAGER BEB.

Bagaimana jika kukatakan padamu aku ini sebenarnya adalah alien yang ingin mengenal rasmu lebih dekat? Akankah kau percaya?

Aku sering sekali berpikir bahwa aku ini sesungguhnya adalah alien, karena aku sering tidak sengaja berpendapat “manusia itu menarik ya”, padahal aku sendiri manusia. Mungkin karena aku manusia. eh gimana -________________________-

Bagaimana jika yang dikatakan Nietzcshe bahwa Tuhan telah mati itu benar? Apakah kamu akan kecewa?

 Jika Tuhan telah mati, tentu aku kecewa, itu suatu kekurang-ajaran yang dahsyat. Tapi aku butuh alasan kenapa Tuhan mati, mungkin kalau Tuhan sakit, aku akan mempertimbangkan apakah sakitnya itu juga bentuk kekurang-ajaran atau tidak. Maafin aku ya Allah :(

 Bagaimana jika salah satu dari "bagaimana jika" yang pernah dimainkan manusia di muka bumi menjadi kenyataan? Yang mana menurutmu kekonyolan yang memiliki probabilitas paling tinggi?

 Jika bagaimana jika menjadi nyata, aku rasa semua tema bagaimana jika yang berbau teknologi punya kans besar untuk menjadi nyata karena manusia bumi ini cukup gila dan memiliki banyak waktu senggang.

 Bagaimana jika kebahagiaan itu ternyata tidak pernah ada? Apakah label yang tepat untuk perasaan yang selama ini kamu duga sebagai kebahagiaan?

 Hmm mungkin kebodohan. Aku bodoh banget jatuh cinta sama kamu dan Aku bahagia banget jatuh cinta sama kamu, mirip kan?

 Bagaimana jika sudut pandang seseorang dapat diseragamkan? Akankah kamu memilih hidup di dalam dunia seperti itu?

Tentu tidak, aku tidak ingin kembali ke SD dan hidup selamanya sebagai anak Sekolah Dasar. Oh, menurutku sekolah bentuk penyeragaman paling lumrah.

Bagaimana jika kamu bisa memilih seseorang untuk kamu nikahi? Apakah kamu yakin dengan pilihanmu, dan bukan pilihan Tuhan?

Tentu yakin! Kalau tidak, panggil aku bodoh. Hai jodohku, cepet yuk, aku udah siap nih. Aku mau ngunci jawabannya nih, ga usah lempar ke grup lain!

 Bagaimana jika kita memang benar hidup dalam sebuah simulasi?

 Menarik, simulasi yang dinamis. Outputnya selalu harus diuji, karena akan selalu ada hasil yang tidak diterka! Aku tidak masalah jika hidup dalam simulasi, toh aku bisa apa -_-

 Bagaimana jika hari ini kamu kehilangan benda yang paling penting dalam hidup kita? Seperti apa rasa sedih, kecewa, atau marah yang akan kamu perlihatkan?

 Sedih dengan wajah kecewa dan perasaan marah, semua emosi berebut memencet tombol. Hufts..

 Bagaimana jika kamu bukanlah kamu? Menurutmu, siapa yang paling tepat menjadi kamu selain kamu?

 Jika aku bukan aku, lalu aku siapa?  KOK AKU LIEUR.

 Bagaimana jika kamu menyadari bahwa kehidupan ini tak ada gunanya? Apakah kamu akan memilih hidup?

 Tidak. Kematian tampak menarik, tapi aku yakin orang yang memilih hidup adalah orang yang hebat. KALIAN RUARRR BIYASA, wahai makhluk hidup!~


Dan untuk kalian yang sedang ragu:


Comments

Popular posts from this blog

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Ada Apa dengan Mas-Mas Jawa?

Kalau kamu adalah seorang perempuan, apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata ‘Mas-Mas Jawa’? Apakah seksi, idaman, gagah, karismatik terlintas meski hanya sekilas? Tak dipungkiri lagi mas-mas jawa adalah komoditas utama dalam pencarian jodoh. Cewe-cewe entah kenapa ada aja yang bilang, “pengen deh dapet orang jawa.” Alasannya macem-macem mulai dari yang sekedar impian masa kecil, pengen aja, sampe dapet wangsit dari mbah Jambrong. Saya ngga ngelak, pria jawa memang identi dengan kualitas terbaik. Mungkin Abang, Aa, Uda, Bli, Daeng, atau Bung juga suka merasa daya saing di pasar rendah, apakah dikarenakan passing grade Si Mas-Mas tinggi? Atau karena ada quality control sebelum masuk pasar? Hmm. Mari disimak beberapa hal yang membuat mas jawa menjadi undeniable (ngga bisa ditolak) 1. Killer smile Mungkin tatapannya orang Jerman atau seringainya kumpeni itu bisa membunuh. Tapi untuk seorang mas-mas jawa, yang membunuh itu senyum. Bikin klepek-klepek. Takar

Bumiayu

Welcome to the beautiful earth! Bumiayu. Back then I used to speak flawless javanese. But now, you can’t even tell that i ever had medok accent (aku ora ngapusi iki). Bumiayu was the first place I learned about manner and etiquette. Javanese have different level of politeness in their language. They have kromo javanese and ngoko javanese. Kromo javanese used to talk with the elderly and someone that you should respect, whereas ngoko javanese is used when you’re talk to your friend or your junior. The same thing happened with Japanese and Korean. They do had formal and informal language.