Skip to main content

Mamih dan Papih

Papih saya selalu percaya bahwa semua anak dilahirkan pandai dan semua dilahirkan kaya. Papih memasukkan saya ke Perguruan Tinggi karena percaya bahwa pendidikan dapat menempa kita untuk jadi pandai dan kaya. Hanya saja seringkali saya pikir di Perguruan Tinggi, pendidikan malah mengingatkan kita akan hari-hari panjang dan menyakitkan untuk menjejalkan potongan-potongan informasi ke dalam kepala kita, untuk mengingatnya demi ulangan, untuk mengerjakan tes, dan kemudian melupakan apa yang kita baru saja dipelajari setelah ujian itu berlalu.

Atas dasar itulah, kemudian saya pun percaya, bahwa di dunia ini terlalu banyak orang berfikir tentang bekerja lebih keras daripada tentang bagaimana caranya lebih gembira dan menikmati anugerah kehidupan yang besar ini.

Bagaimanapun, saya selalu bangga punya Papih seperti beliau. Beliau yang memberikan saya kehidupan dari keringatnya. Ada yang bilang pada saya, kalau sebenarnya seorang anak lebih jahat dari vampire. Ya! Vampire hanya menghisap darah, tapi kita (seorang anak) bukan hanya menghisap darah, tapi juga cucuran keringat, waktu dan semua energi milik orang yang kita beri predikat “Bapak-apapun itu panggilannya”. Kalau saja, semua air keringat Bapak kita dijadiin satu, mungkin sudah bergalon-galon, nah apa kita berani meminum keringatnya? Pasti ngga, menjijikan, tapi bukankah kita hidup darisana, dari keringat itu..

Ah, jangan lupakan mamih saya. Tentu beliau cantik, sangat anggun, dan kemamihan, ngga terlalu sulit menebak apa alasan papih jatuh cinta pada mamih. Mamih adalah guru saya untuk belajar cinta tanpa syarat, kebaikan hati dan pentingnya peduli terhadap orang lain. Di mata saya, Mamih adalah ahli komunikasi yang hebat dengan caranya yang tenang. Saat di pasar, entah mantra apa yang digunakan dia selalu menawar, bahkan kalau harganya kemahalan biasanya ada serangan semacam ‘mengancam akan beli di yang lain’. Dan itu selalu berhasil.

Mamih dan saya sudah seperti sahabat sendiri, kadang kami ngerumpi tentang siapa-siapa orang di keluarga kami yang beginilah-begitulah. Dan kami selalu sehati, kami ngga menyukai orang yang sama. Kadang Mamih mengajak saya ke pasar untuk membeli baju, dia selalu meminta saran pada saya tentang baju mana yang lebih pantas untuknya, kenapa semua wanita selalu seperti itu! Dan karena saya agak maskulin, pilihan saya dan mamih selalu lain. Dan saya pun bingung, lantas kenapa minta pendapat kalau sudah punya pilihan. Sejak saat itu ketika mamih bilang “Neng bagusan yang mana?” sambil menyodorkan dua pilihan. Lalu saya akan perhatikan gerak-gerik mata mamih mengarah kemana dan bilang “semuanya juga bagus ko mih. Tapi kayanya yang itu lebih bagus”. Bingo! Mamih daritadi kan perhatiin baju yang itu lebih lama pasti dia naksir sama baju itu, hanya saja mungkin dia masih butuh peng-iya-an kalau baju itu oke untuknya.

Papih saya itu dulu seorang duda-tanpa-anak-yang-ditinggal-mati-istrinya, dan mamih saya adalah tetangga dari istrinya yang meninggal itu. You know, ini semacam cinlok karena tiap hari lewat depan rumahnya. Papih sayang banget sama mamih, bahkan nama bengkel papih pun adalah nama mamih. Kalau waktu pacaran papih bilang “aku cinta kamu” lalu mamih jawab “apa buktinya?”. Sekarang terjawab, “bengkel itu buktinya”.

Sekarang pertanyaan “kenapa aang begitu tomboy?” mungkin akan terjawab. Itu karena sejak kecil saya dekat dengan banyak pria dan dibesarkan di arena penuh pria;bengkel. Sampai sekarang saya juga begitu, dan itulah nantinya alasan saya putus dengan beberapa pria. Tunggu, ini kan lagi nyeritain mamih sama papih, jangan nyangkut di masalah putus deh ah.

Terus apalagi yah? Oh ya, mamih saya overprotektif sekali. Semenjak saya tumbuh menjadi gadis yang cantik(hoeks banget hahaha), mamih sering ngga ngizinin saya bepergian jauh dan lama. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berkoalisi dengan papih supaya saya bisa pergi, karena hanya papih lah yang percaya kalau saya mampu jaga diri. Tapi jangan heran, proses ini akan lebih rumit, karena papih saya sedikit militer. Seperti polisi, dia selalu butuh bukti dan alasan pembelaan yang tepat. Jadi saat saya pergi bersama pacar, biasanya saya juga dikerumuni sahabat-sahabat saya, dan saya akan janji kalau pulang ngga akan lebih dari jam 9 malam diantar pacar atau minta jemput. Kalau oranglain merasa terbebani, saya justru merasa sangat disayangi disini.

Papih saya baik pada teman wanita dan pria saya, tapi papih selalu terlihat gahar pada pacar saya. Kamu mau tahu, cahya itu pernah bilang sama saya seperti ini “ang, papih kamu galak ga sih? Kemarin pas di rumah, cahya sengaja ngeliatin papih kamu supaya nanti pas tatapan muka cahya mau senyum sama dia. Eh pas tatapan muka, cahya dipelototin udah gitu cahya senyum malah papih kamu melengos ang”. Padahal kalau temen-temen cowo lain main, papih malah bilang “itu ang di kulkas kan ada jeruk, bawain dong buat tamunya”, mana sambil senyum lebar banget lagi. Malang nasibmu, cahya! Hhaha. Loh ko jadi ngomongin cahya sih hayu fokus ah.

Nah mamih saya itu rajin banget ngaji, dia sholehah banget, istri idaman deh, ngga kaya anaknya ini cewe tapi bergajulan. Dia rutin ikut majelis ta’lim,dan karena inilah nantinya kelurga cahya kenal dengan keluarga saya. Karena eh karena mamih saya dan mamah cahya itu satu majelis. Kalau mamih tipe orang yang ingin kenal dengan teman-teman saya dan pacar saya. Mamih selalu nanya tentang latar belakang teman saya, dan tentu saja saya akan cerita sejujurnya. Tapi kalau soal pacar, mamih yang akan tanya sendiri. Di antara semua pacar saya, Cahya lah yang paling dekat dengan mamih. Kadang kalau main kerumah mereka ngobrol, mereka sampai tertawa, dan terlihat akrab. Mamih bilang kalau cahya itu terlalu putih kaya cewe, dan Cahya langsung keselek karena pas saya cerita cahya lagi makan. Semua pacar saya yang main ke rumah pasti dikomenin aneh-aneh sama mamih. Dan, kalau pacar-pacar saya bawa makanan ke rumah, saya ngga di bolehin ikut makan apa yang dibawa pacar, kata mamih “jangan neng, takut udah dikasih pelet. Kamu ngga boleh ikut makan”. Konyol bukan. Tapi saya nurut saja, meski kenyataannya kelurga saya ngga ada yang seperti terpelet, haha.

Mamih saya ngga pintar masak ketika awal menikah. Mamih banyak belajar masak dari tetangga dan ibu-ibu rumpi, sampe sekarang dia jago banget. Akhir-akhir ini tiap saya pulang dari Bandung, mamih mulai ngajarin saya masak, mulai dari ngupas bawang merah, oh saya menghabiskan 3menit untuk satu bawang, mamih saya rekor deh saya baru ngupas satu, dia udah ngupas 4. Sekarang saya juga udah lumayan gesit pegang pisau. Dan ngga takut lagi nyemplungin sesuatu ke dalam wajan berminyak.

Mamih dan papih itu orangnya kocak, lucu banget. Hampir tiap hari ada aja ketawa tentang apapun. Tapi kadang kalau lagi ngga ada duit, mereka suka jadi sensi, tapi wajarlah semua orang juga gitu kan. Mereka juga masih kaya orang pacaran, kalau keundangan atau jalan-jalan maunya berduaan. Dan sayalah tim suksesnya, saya jagain rumah dan nemenin adik-adik.

Duh tangan saya pegel ngetik sebanyak ini. Oke kesimpulannya : Anak yang aneh, berasal dari keluarga yang aneh. Ngga jadi masalah aneh atau ngga, yang jelas aku kangen keluargaku.

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh