Salah satu alasan saya ingin masuk surga yang paling underrated adalah ingin bisa membaca buku bagus yang pernah diciptakan oleh semua penulis di dunia. Skeptis jika penulisnya terdampar di Jahanam; itu prerogatif Tuhan.
Menghabiskan sore duduk minum pistachio latte sambil membaca buku pemenang Pulitzer Prize, dan sesekali ditampar semilir angin taman yang bentukannya mirip Keukenhof. Penduduk surga boleh minta apa aja kan?
Di surga semua buku harus wangi buku, wangi yang bikin kutu buku dimabuk kepayang. Buku di sana juga harus bikin pembacanya berimajinasi dalam 4D, seolah ketika membacanya otak kita langsung membuat dimensi baru yang bisa dijelajahi secara real time. Di surga itu juga tersedia buku yang ketika di dunia dibredel, mungkin bukunya bernuansa kiri atau tentang kritik pada pemimpin yang sibuk terbakar di neraka. Buku yang hilang karena perang, akan kembali. Buku yang dibakar karena ketamakan, akan melimpah. Manuskrip yang tidak rampung karena penulisnya keburu meninggal, akan terbit. Kita akan sibuk menjadi pengembara pustaka. Itu kan surga yang kita nanti?
Oh.. Dan yang paling penting, di surga tak ada rasa kantuk ketika menyisir kata demi kata dalam paragraf buku.
Tunggu.. Tunggu.. Ini juga penting.
Konon di surga yang berbahasa Arab itu, kita dianugerahi menjadi superhuman yang tidak punya keterbatasan komunikasi. Artinya di surga kita bisa membaca semua buku dalam bahasa aslinya. Tanpa kehilangan greget, tanpa sesat pikir. Presisi seperti polisi.
Ahh.. kapan aku bisa masuk surga ya? Jangan bilang “ketika mati”, karena aku masih ingin hidup.
Jika di surga ada perpustakaan, aku harus minta dibangunkan perpustakaan yang seperti apa kiranya? Perpustakaan yang pernah kusambangi melahirkan rintihan darurat membaca Indonesia. Tentu, perpustakaan yang aku impikan seperti Long Room di Trinity College Library. Langit-langit tinggi, lampu hangat, kesunyian yang menenangkan, AC central bersuhu 25° C.
Terkadang ketika membaca suatu buku, kita terdorong untuk mengintip isi Lobus Frontal sang penulis. Di surga, fitur ini juga bisa diakses, kita bisa memahami sisi lain baru karena tahu apa yang terjadi dengan penulisnya, tidak sekadar menerka-nerka, tidak sekonyong-konyong menjadi si paling paham. Pembaca rakus, inilah saat yang membahagiakan. Kita mungkin akan kehabisan daftar to-be-read yang selama ini bercokol di Goodreads.
Ajal, kapan kamu datang? Jika esok, tolong sampaikan pesanku pada Tuhan “bangunkan aku perpustakaan di surga”
Tuhan, aku tidak percaya diri apakah aku bisa masuk surga dalam sekali hisab. Maka dari itu, aku di sini berandai, dan tulisan ini bukan si pencuri syukurku. Kiranya ia menguatkan keinginanku untuk menjadi warga yang baik di tengah himpitan nestapa WNI. Aku gak rewel kok, Tuhan. Aku hanya perempuan demanding yang overthinking.
Oiya, katanya buku adalah satu-satunya hiburan tanpa iklan. Kita sering lupa bahwa kitalah iklannya. Ah benar, di surga membaca buku terjadi tanpa haus validasi intelektual. Tidak ada algoritma buku viral, tak pernah muncul rasa tertinggal karena tidak terlibat dalam diskursus buku bestseller. Kita membaca karena ingin dipeluk aksara, tenggelam dalam jutaan kehidupan lain. Jenis bahagia yang tidak bisa dicerna selain oleh mereka yang cinta membaca.
Aku sudah rindu akan hari di mana jemariku tersihir ketika menyentuh buku di surga.
Sebentar… ini aku harus disiksa dulu di neraka ya biar demi masuk surga dan melunasi tuntutan rinduku? AAARRRGGGHHHH, matilah aku. Mati dua kali. Berkali-kali.
Tenang.. Kita tarik napas, sebuah perjuangan panjang, bukan hil yang mustahal.
Sudah biasa perjuangan itu.. Hari-hari di bumi, seperti hari-hari melelahkan lainnya, hari-hari tanpa orgasme akal. Tuhan, restui kami, para pembaca, untuk bisa membaca buku lagi, dan lagi, dan lagi, di surga nanti.
Panjang umur, penjaga kewarasan.
Dalam masa yang kekal, jika engkau mencariku, carilah dan temui aku di sudut perpustakaan. Kita akan membaca kembali, bersama, meneguk candu yang mengibarkan keindahan abadi.


Comments
Post a Comment