Skip to main content

At my lowest iman

Back when I was travelled for the first time to conference in Thailand, I used to think Islam was the most complicated religion. Okay wait... How to say RIBET in English? (Mau pake kata “troublesome” yang padanannya nyusahin, tapi nggak tega, hhmm huhu)

But as I grow older, I realized that maybe... I just lack of exposures to diverse and heterogenous cultures. The thought of islam having a complex ritual and somewhat arduous religion is a result from living as majority... the uniformity is inevitable. Sometimes I think I become Muslim just for the sake of being comfortable hahaha. It is an easy choice~

Okay let’s get back to what we are talking earlier... Islam feels troublesome. Which one I refer to troublesome? Of course the solat.. five times a day, AN OBLIGATION! It is a sin if you are not do it! You need a proper place and attire to do it! Ugh! The ritual and the understanding what, how and why! I know, I am not religious enough. Sometimes it feels too dry, just for the formality and maybe not that meaningful.

Macem juknis deh keberadaannya. Ada. Dilakukan. Udah gitu aja ((di luar negri ada juknis ga?)) HAHAHA

Gimana sih ga konsisten banget nulis in English aishh (!)

Okay, it might resemble Term of Reference, necessary but some thought of it existence as formality.

Talking about complexity, we are not even talking about fasting and hajj.

But lately since I am home. I start to think about one verse... that basically told why we are here.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

I did not create jinn and humans except to worship Me.

- Az Zariyat: 56

As I am writing this, I realized that it is natural if the act of worshipping God makes us spare our time, did the ritual at any given time, with all the requirements completed.

Because that is why we are here!

If we stretch that, the only thing that is worthy of us going complicatedness are things related to our religion. Don’t you agree? Yang boleh ngeribetin kita, memang sepantasnya urusan terkait Tuhan, justru yang lainnya nggak.

Sorry if I sounded like I am giving you lecturer and started to bore you, anyway... this is just a train of thought.

Hopefully, I could always remember that even if my fluctuated iman is at the lowest.

Here is a picture of architectural mosque to emphasized the complicatedness of my religion on tangible asset. The picture taken by my dearest friend, people said the mosque built using a mixture of egg whites, lime, sand and clay!


Grans Mosque of Sultan Riau in Penyengat Island

Comments

Popular posts from this blog

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Ada Apa dengan Mas-Mas Jawa?

Kalau kamu adalah seorang perempuan, apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata ‘Mas-Mas Jawa’? Apakah seksi, idaman, gagah, karismatik terlintas meski hanya sekilas? Tak dipungkiri lagi mas-mas jawa adalah komoditas utama dalam pencarian jodoh. Cewe-cewe entah kenapa ada aja yang bilang, “pengen deh dapet orang jawa.” Alasannya macem-macem mulai dari yang sekedar impian masa kecil, pengen aja, sampe dapet wangsit dari mbah Jambrong. Saya ngga ngelak, pria jawa memang identi dengan kualitas terbaik. Mungkin Abang, Aa, Uda, Bli, Daeng, atau Bung juga suka merasa daya saing di pasar rendah, apakah dikarenakan passing grade Si Mas-Mas tinggi? Atau karena ada quality control sebelum masuk pasar? Hmm. Mari disimak beberapa hal yang membuat mas jawa menjadi undeniable (ngga bisa ditolak) 1. Killer smile Mungkin tatapannya orang Jerman atau seringainya kumpeni itu bisa membunuh. Tapi untuk seorang mas-mas jawa, yang membunuh itu senyum. Bikin klepek-klepek. Takar

Bumiayu

Welcome to the beautiful earth! Bumiayu. Back then I used to speak flawless javanese. But now, you can’t even tell that i ever had medok accent (aku ora ngapusi iki). Bumiayu was the first place I learned about manner and etiquette. Javanese have different level of politeness in their language. They have kromo javanese and ngoko javanese. Kromo javanese used to talk with the elderly and someone that you should respect, whereas ngoko javanese is used when you’re talk to your friend or your junior. The same thing happened with Japanese and Korean. They do had formal and informal language.