Skip to main content

Pembicaraan mengenai “privilege”

Btw, buat yang gatau apa itu privilege, itu artinya semacam hak istimewa yang diperoleh karena keadaan bawaan alamiah dari sononya. Misalnya kamu terlahir sebagai anak horang kayah, kamu dapet privilege atau hak istimewa untuk lebih mudah mendapat akses Pendidikan di kelas internasional yang lobi sekolahnya berasa lobi hotel Raffles dan ruang OSIS nya bernama Student Center… Sedangkan anaknya Ibu Nani yang punya warung di gang situ, cuman bisa sekolah di sekolah negri yang depan lapangannya selalu ada pohon rindang dan dinamain DPR (Depan Pohon Rindang). Banyak sih privilege yang lain, ada privilege kecantikan, privilege kepintaran, privilege suara bagus, privilege [insert seribu satu anugrah Yang Maha Kuasa here]……

Jadi.. kemarin ada diskusi terbuka di twitter, kalau tidak mau disebut keributan. Sesungguhnya apapun yang bisa diambil hikmahnya bisa dilabeli diskusi, wkwk. Tersebutlah dua kubu netizen. Kubu satu merasa bahwa privilege itu sebenernya ga ada, yang ada itu kamu kurang kerja keras. Kubu lainnya berpendapat sangar bahwa privilege itu sangat nyata dan manusia di kubu satu itu ngomong dari menara gading makanya persoalan wong cilik ini ga paham.

Diskusi itu bermula karena viralnya postingan kesuksesan anak Tukang Becak untuk berkuliah hingga cumlaude dan sekarang lulus studi S3 dari Inggris. Masya Allah tabarokallah..

Lalu setelah itu, bervariasi opini mulai membumbui berita bahagia tersebut hingga berbalik menjadi ghibah, si ini sih gini dan si itu sih gitu. Gue tebak sih dipicu karena salah seorang YouTuber yang digandrungi anak muda yang ngetwit menyuarakan pendiriannya terkait kubu satu. Twit tersebut disamber sama yang beda pendapat. 


Aku sih tidak ikut mengomentari langsung di platform sana, cukup di mari aja, biar lebih leluasa bisa berpanjang-panjang ria.

Kalau kamu tanya aku yang mana, jelas aku di kubu yang merasa privilege does exist and so real. Dulu banget di Instagram pernah ada yang nanya, kasih tau dong caranya biar bisa kuliah ke Jepang, langsung aku jawab “aku kuliah karena privilege”, wkwk songong.

Jadi gini….. (bentar kita gelar tiker dan seduh teh anget dulu)

Kesadaranku bermula pas aku lagi naik angkot pagi-pagi mau berangkat sekolah. Aku melihat anak-anak kecil ngamen lagu orang dewasa, ada juga yang jualan tissue cacat produksi, ada juga yang ngelap kaca mobil yang mentereng. Semua anak itu menghabiskan paginya di perempatan yang terkena lampu merah. Sialnya saat itu aku lagi dapet, jadi semua perasaan itu aktif, dan yang aktifnya paling menggebu-gebu itu ada tiga: sedih, marah dan lapar.

Pas lagi stop di lampu merah itu dalem angkot, aku merasa SEDIH, kok bisa sih mereka ngga sekolah, kalau lagi sedih tuh gaes liat yang begini aja pengen nangis tau ngga.. Terus langsung merasa kalau hidup tuh ngga adil beserta narasi ingin jadi orang yang lebih sukses biar bisa membantu menaikkan taraf hidup mereka.

Sambil udah berkaca-kaca, aku ngebayangin mereka hidupnya pasti susah dan beratt banget ya, bukannya main sama temen sebaya di sekolah malah harus banting tulang mencari puing-puing recehan. Kenapa mereka ga sekolah yang gratis kan ada. Sekali lagi aku sadar, mau sekolah gimana kalau misalkan laper banget buat gerak aja mau pingsan-pingsan karena belum makan, mending usaha lah dapet duit. PUSING EMANG NGURUSIN TETEK BENGEK DUNIAWI..

Di situ lah kusadar, aku punya hak yang lebih baik karena keadaan mentakdirkan aku lahir dan besar dalam keadaan yang lebih baik. Ketika itu, aku ga tau konsep itu disebut privilege. Cuman udah kepikir banget, “ini kalau bukan karena gue lahir jadi anak orangtua gue, gue bukan siapa-siapa sih”

Orangtuaku alhamdulillah hidupnya cukup, meski pas awal kuliah diwanti-wanti “kamu tuh kuliah bukan karena kita kebanyakan duit ya, tapi karena kami ingin mewariskan kamu ilmu supaya kelak bisa bermanfaat untuk kamu dan syukur-syukur untuk sekitar kamu”… Hidupku juga selalu cukup dan ngga seprihatin itu. Berbeda dengan anak-anak di stopan lampu merah tadi yang pait banget.

Makanya menurutku ini tuh sebenernya yang salah bukan orangnya yang ngga berusaha keras kok, mereka tuh cari duit sepagi itu, ngga kerasnya dimana ya bang? Ini persoalan kemiskinan yang kalau dilirik sepintas hanya puncak gunung es aja. Sebenernya permasalahannya ya di sistem.

Mbak anak Tukang Becak tersebut bisa dibilang beruntung, mungkin banyak yang membantu sehingga Mbak nya sebenernya bisa terselamatkan lagi dan lagi. Dan setelah dibaca, Mbak nya dapet beasiswa Bidik Misi, artinya dalam hal ini beliau juga privilege dapet kesempatan tersebut, otaknya bagus terus semua nya pas banget lagi ngebuka jalan buat Mbak nya. Jadi inget orang dalem ITB yang bilang, ada yang dapet beasiswa, anak luar pulau Jawa tapi ngga punya ongkos berangkat… GIMANA COBAAA BAYANGKAN??

Permasalahan di sistem ini, aku rasa mulainya dari kemiskinan sih ya. Kalau mau buka data bisa dilihat indeks rasio GINI yang menunjukkan distribusi ketimpangan pendapatan dengan 0 sebagai nilai yang menunjukkan tidak ada ketimpangan, sedangkan 1 menunjukkan ketimpangan yang paling hakiki. Pada diagram di bawah menunjukkan kalau turunnya angka kemiskinan tidak serta-merta menurunkan gap ketimpangan pendapatan.


Kenapa kemiskinan jadi akar masalah dari privilege ini? Soalnya.. Kalau lo miskin otomatis tertutupnya akses pada pengetahuan, pembelajaran, pengalaman jadi lebih tinggi, dan itu yang bikin jadi masalah.

Aku merasa bahwa meski punya privilege, tapi tetep banyak orang yang punya lebih buanyaakkk privilege. Misalnya.... anak zaman sekarang yang punya akses informasi lebih mudah, mereka jadi tahu gimana kuliah di Jerman, di Harvard, di Rusia, di Amerika, di Turki, dan berbagai belahan dunia lainnya. Pas aku SMA, yang kepikiran cuma Bandung atau Jogja gaes. Itu Cambridge School of English aja aku baru tau kemarin ada yang begituan..

Kebayang nanti kalau aku punya anak, mau diberi pilihan aja, mau sekolah monggo, mau home schooling monggo, mau langsung jeburin diri menjadi praktisi monggo. Do'aku hanya semoga kelak bisa memberinya banyak privilege, lebih baik lagi kalau yang menjadi anakku itu semua anak Indonesia :) Jerome kalau balik Indo jadi mendiknas, mau apply deh aku jadi wamen, berbeda pendapat kan perlu demi mendapat kerangka pikir yang lebih trengginas. HAHAHA


PS. Hari ini saya abis menulis paper, jadi pas mau nulis bahasanya rada njelimet juga. Maafin~ Kemudian, kemarin itu saya ngga sempat nulis karena banyak kerjaan terus dipotong ini dan anu :( Ya Allah izinkan aku istiqomah dong plis..

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh