Skip to main content

Menjauhi yang Serius, Eh Salah, Menjauhi Virus

Katanya mereka yang menyimpan pengalaman hanya untuk dirinya sendiri telah melakukan kejahatan dan pengkhianatan intelektual. Kalau begitu, kali ini akan kuceritakan padamu sebuah pengalaman. Bukan kok, bukan tentang liburan ke rumah nenek, ih emangnya aku anak SD apaaa.

Lalu, katanya mari kita berdoa semoga dijauhkan dari virus dan didekatkan dengan yang serius. Lha justru yang terjadi padaku adalah sebaliknya.

 

Oke. Jadi ini tentang menjauhi yang serius.

 

Aku masih ingat. Tahun 2017, ada orang baru di kehidupanku. Manusia ini anaknya temannya Ayahku. Ayahku dan Ayahnya berdua dulu dekat. Tapi, aku justru dikenalkan padanya oleh Kakak Perempuannya, karena Ayahnya sudah meninggal. Kakak perempuannya meminta nomor hpku pada Ayahku. Ayahku dengan mantap memberikan nomorku. Emang nih Ayah ku kadang nyebelinnya sebelas dua belas sama Ayah Rojak apa gimana deh  Kok ya ga briefing dulu gitu.

 

Tau ga sih sebagai orang Jawa, kesopanan itu udah ada dalam DNA. Akhirnya ga bisa nolak waktu dikontak dan ditanya-tanya sama Kakak perempuannya. Kakak perempuannya ngegas abis ngenalin diri di WA langsung bilang “Aku mau jodohin kamu ya sama Adek aku. Ayah kamu udah setuju!”

Aku yang saat itu banyak tugas kuliah hanya bisa mendem “Waduh ini apaan sih. Aku kan masih sekolah woy!”

 

Tapi yang diketik sebagai balasan “Kenalan aja dulu, mbak. Aku ga janji dan ga tau ke depannya gimana.” Dasar kamu terlalu baik!

 

Ternyata itu manusia bekerja di Surabaya dan akan ke Bandung minggu depan. Di satu sisi ngerasa ini kejadian semuanya cepet banget. Udah kaya trend batu akik gitu kan, JENG JENG JENG!! Sebenernya yang ada di benakku saat itu, PANIK ini gimana aku ketemu orang baru, apalagi keluarga kenal. Aku canggung banget pasti. Terus masalahnya juga aku tuh ga punya sesuatu yang aku tau atau aku suka dari manusia tersebut. Nanti mau ngapain.

 

Minggu depannya, akhirnya ketemuan. Alhamdulillahnya Kakak Perempuan dia ikut, sama suaminya juga. Ketemuan di tempat makan. Terus abis itu ditinggal berdua aja dengan alasan Kakak Perempuannya mau belanja. Aku sebelumnya ga pernah melakukan open recruitment buat nyari temen, tapi mungkin ini mendekati. Aku sendiri sih biasa aja. Karena emang masih ga tau harus berekspektasi apa. Sadar banget kalau ini dijodohin secara ga formal. Ya mungkin usaha si Kakak Perempuan ini yang ingin segera melihat Adiknya ada yang ngurus.

 

Saat itu suasana aneh. Aneh banget. Akan aku jelaskan tentang manusia ini. Dia orang Jawa, satu kampung halaman denganku di Brebes, tapi dibesarkan di Surabaya. Dia lebih tua dari usiaku terpaut tiga tahun. Dia baru pulang dari bekerja di Jepang. Dia tampil sederhana, ala-ala budak korporat kalau lagi weekend-an. Serba casual.

 

Kalau kalian kenal aku, aku tuh emang kalau pertama ketemu pendiem, masih membaca keadaan. Tapi kalau aku merasa klik, aku bisa langsung bawel, berisik bahkan nyebelin. Dan yang ini…… NGGAK KLIK!! Ini yang bahaya! Dia menanyakan hal-hal basic kaya perkenalan dan beberapa pendapat aku. Dan semua pembicaraan terjadi satu arah. Waduh udah kaya arus mudik, saudara-saudara. Meski pada akhirnya, aku kasian dan membantu juga. Membuat percakapan kan susah. Harus diapresiasi. Tanya balik. Tau apa yang aku notis? Ini orang medhok banget ngomongnya. Dengan logat yang super kenthel dan ngomong yang cepet.

 

Ga banyak yang aku ingat. Karena jujur aja, dia ngajak main pas lagi musim UTS dan aku stress saat itu panen semua masalah 😭😣😓. Setelah dari tempat makan, dia ngajak ngopi. Dalam otak anak rajin sepertiku, yang aku inginkan adalah pulang dan belajar. Ibu dan Ayahku pasti bangga banget nih punya anak kaya aku wkwk.

 

Akhirnya aku nolak dan minta pulang aja. Terus pulangnya kenapa harus dianterin sih. Canggung banget rasanya. Mungkin karena tau ini ada embel-embel dijodohin jadi ga nyaman kali ya. 

Pembicaraan udah kaya idung pilek, yang satu lancar yang satu mampet. Iya, aku masih diem-diem aja, karena aku juga bingung harus gimana. Daripada gimana-gimana, mending ngga gimana-gimana kan? IYA GITU POKONYA MENDING DIEM AJA KAYA BADAK BERCULA SATU DI PINGGIR KANDANG. 

 

Escalated quickly. Dia WA juga. Bilang makasih dan bakal ke Bandung lagi karena akan ada kerjaan di Bandung. Dijawab seadanya, sama-sama iya mangga. Terus terjadilah UTS. Lupa lah aku tuh. Beres UTS, dia nanya-nanya hal yang berkaitan sama Bandung. Jadilah intens WA’an. Tapi tetep pride, ga pernah membalas pertanyaan “lagi ngapain?” selain ke pacar dan keluarga. Menurutku memang indicator sebuah hubungan dekat itu ya itu udah berani nanya lagi ngapain, atau nanya udah makan belum. Nah dia udah berani. Terus suka aku pertegas dengan ga aku balas. Ya gimana kan ga paham juga ini arahnya mau gimana dan kemana. Jadi dia tuh gw friendzone. Tidak bermaksud jahad hanya saja kembali ke tujuan awal, ingin mengenal lebih jauh. Iya sejauh ini sih, mas nya sangat baik, sopan dan telaten menghadapi aku dan kampusku yang rusuh banget banyak kelas dan tugas.

Terus akhirnya mas nya ke Bandung lagi. Baru yang ini karena suasana tidak sedang terlalu stress, aku bisa lebih rileks dan mencoba memahami mas nya dengan kepala dingin. Loh ternyata seru juga. Lanjut, bisa dikatakan kita dekat. Indikatornya apa? Sering telponan sampe malem. Tapi selalu aku pamit duluan karena masih pengen nonton drama Korea, bilangnya aja mau tidur. Ehehehehhe taktik jitu untuk tetap bisa menjadi menikmati hidup #LifeHacks 👍

 

Terus di kampusku ada beasiswa ke Jepang. Padahal asal apply, keterima DONG. Dan saat itu mas nya udah ngodein mau ngajak menikah. APAAN SIH INI. Nikah itu belum ada di daftar hal yang harus dilakukan dalam waktu dekat. Akhirnya aku bilang, "mas ini aku kayanya bakal lanjutin ke Jepang. Terus kayanya selama di Jepang, aku ga bisa berhubungan sama Mas. Kalau mau nunggu, silakan. Kalau ngga ya ga apa-apa. Karena aku ngga bisa kalau fokusnya harus terbagi."

Mas nya bilang apa? “Iya dek sukses ya di Jepang.” Padahal mas nya itu udah ngasih buku Bahasa Jepang dan sering banget ngasih wejangan tentang Jepang.

 

Aku tuh EGOIS banget aku emang sialan. Tapi mau gimana, aku bukan tim sukses LDR, karena tiap LDR selalu gagal. Ujungnya tar aku cuekin dan perlahan aku lupakan. EFFORT banget bagiku LDR menguras energi.

 

Udah gitu, selama di Jepang, bener aja. AKU LUPA DONG… Keseruan hidup di sana bikin aku ga kontak mas nya sama sekali. 

 

Fast forward setahun kemudian. Nenekku bilang sama aku, “yang dulu deket sama kamu sekarang udah menikah, dan ibunya bilang sama nenek, ‘itu si aang nolak anakku karena masih mau sekolah ya, padahal kan bisa nikah dulu sambil lanjut sekolah’, terus sama nenek jawab, iya itu kemauan anaknya Bu, kita tidak bisa menghalangi apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka anggap terbaik”

 

Nenekku Pahlawanku kata Wali emang bener nih. Tapi entah kenapa aku ngerasa ditampar, kenapa dulu aku pake bilang "kalau mau nunggu, silakan." Kenapa sih? Itu ALAY BANGET. Harusnya aku emang sadar dari awal kalau aku ga secinta itu untuk mau berkorban wkwk. Jadinya yaudah layu sebelum berkembang. Karam sebelum berlayar. Terus juga kenapa ibunya bilang gitu sih sama nenekku, aku jadi ga enak…apa yaaa.. kayanya ga tepat kalau bilang aku nolak anaknya karena aku mau sekolah. Kan udah dikasih pilihan juga loh kalau mau nunggu atau ngga. Tapi emang ga jamin juga udah nunggu bakal dihayuin. YA AMPUN KAMU INI ANG!

 


Dalam kasusku "Jangan bilang, kalau mau nunggu, silakan. Kalau ujungnya ditinggal juga."

Setelah perjodohan nonformal itu banyak pelajaran penting diambil, sekarang Ayahku ga sembarang kasih nomorku. Kalau ada yang minta dikenalin, pasti dia izin aku dulu. Beberapa kali temennya Ayahku ada aja yang nanya, tapi karena inget nenekku, aku jadi makin fiks mau cari sendiri aja… Karena pilihanku tentu saja itu yang aku anggap terbaik.

 

Segitu aja curhat kali ini. Kisah yang ini kayanya ga banyak yang tau kecuali beneran teman dekatku. Selamat dengan membaca tulisan ini, kamu jadi lebih tau tentang aku lebih banyak. Meski tidak bermanfaat, terus mencoba dan pantang menyerah ya! Hehe.

 

Untuk Aku dan Kamu dan Siapapun, hari ini pesanku satu:

It gets better when it should. It gets worse when it is time to go down. That is why since everything in life is temporary, if things are going well, we should cherish and enjoy it. If things are going bad, we should not worry because it will not last forever.

SEMANGAT YA MENJAUHI YANG SERIUS NYA!! Eh Eh SALAH, SEMANGAT YA MENJAUHI VIRUSNYA!!

 

Salam serius tanpa virus,

 

Aang 💖

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh