Skip to main content

Pernah dong denger orang ....

Pernah dong denger orang ngasih saran “just be yourself”, ngga banget ya? Gimana kalau si ‘yourself’ disini adalah orang jahat yang merugikan banyak orang atau ternyata pemales yang suka repotin keluarga? Just be yourself itu pantesnya dijadikan nasehat galau buat sahabat-sahabat Nabi, bukan untuk orang biasa kaya kita.. Petuah untuk kita yang bener tuh “be the best of yourself.”
Pernah dong denger orang yang minta putus dan bilang, “kamu terlalu baik buat aku”, ngga banget ya? Kan harusnya bahagia ketemu yang baik banget. Kalau baiknya kebanyakan bisa dikurangin, lah kalau ngga baik sama sekali, nambahinnya susah. Logikanya kalau mau mutusin tuh bilangnya, “maaf ya, aku terlalu baik buat kamu.”
Pernah dong denger orang bilang “kita sahabatan ya sampai tua nanti”, ngga banget ya? Kan harusnya sampe mati dan di akhirat masih sahabatan dong. Kalau salah satu masuk surga ajakin, senang bersama. Kalau salah satu masuk neraka, jangan ajak-ajak, gila lo sahabat masa kaya gitu sih, yang di neraka tuh jadi bahan rumpian lah. Nanti di sidang amal malah drama terus dipanggilin guru BK kan repot. Ya manusia penuh noda seperti kita setidaknya saling mengingatkan, “nanti kita sahabatan ya teerrruusss sampai jadi bidadari surga.”
Pernah denger dong orang curhat panjang dijawab cuma “yang sabar ya”, ngga banget ya? Ngga niat nih dari awal dengerin curhat. Yang bikin ngga sabar justru bukan masalah yang sedang dihadapi, tapi orang yang mendengarkan curhatan kita. Bijaknya sih diberi wejangan, solusi nyata yang progresnya bisa dinilai. Orang keren sewajarnya memfollow up curhatan sebelumnya dengan bertanya, “gimana masalahnya sekarang sudah berkurang? Perlu dibantu?”
Pernah dong denger orang rese yang nyalahin orang lain terus atau perkakasnya “wah ini gara-gara lo/instrumennya sih.. coba ngga gitu... pasti gini”, ngga banget ya? Gagal sih gagal aja. Kalah sih kalah aja. Ga usah pamer kesedihan dan merasa lebih benar. Harusnya orang kaya gini hidupnya di tengah hutan dikelilingi harimau dan beruang, jadi kalau dia salah, ngga ada waktu buat nyalahin orang karena sudah keburu jadi sarapan. Alangkah lebih indah kalau setiap kesalahan disertai dengan ucapan, “dijadikan pelajaran ya yang ini. saya akan lebih baik lagi untuk ke depannya.”
Pernah dong denger orang nyindir status seseorang, “jomblo sih”, “ya udah punya istri mah gitu”, “apalagi udah punya anak”, “waduh punya cucu bentar lagi nih jatah hari”, ngga banget ya? Kok repot sih mencampuri hidup orang lain. Memang beberapa orang mendapat kebahagiaan dari menertawakan kebahagian orang dan mengganti labelnya dengan kesedihan. Berubah lah. Nanti di neraka dikatain loh dari surga, “lo sape?
Pernah dong denger orang ngomongin orang “ih kok gitu sih.. liat deh.. liat deh..” ngga banget ya? Baiknya ngatain orang itu dalam hati sendirian, lalu evaluasi tersebut disampaikan secara personal kepada yang bersangkutan. Main hakim sendiri ini buah beracun dari pohon bernama demokrasi. Coba dong jadi lebih peduli terhadap sesama, kan enak kalau saling memahami dan mengkritik. “hey tadi aku liat kamu.. menurutku kamu sebaiknya gini loh karena anu dan ono.”
Pernah dong kamu membaca tulisan “pernah dong denger orang ngomong bla bla bla, ngga banget ya?” Iya itu mah saya saja sedang mengkritik. Dan saya juga sedang belajar untuk hidup dan tumbuh bersama kritik, tapi jangan kebanyakan, geli soalnya, eh klitik itu mah.
Ya udah segitu saja dulu. Pernah dong denger orang ngomong sesuatu dan kamu merasa kaya “ada loh cara lebih baik untuk bilang itu..”
Kalau kamu udah mikir gitu yuk lah sama-sama kita menyempurnakan keserampangan mulut ini.
Sebelum berkata ada baiknya dipikir tiga hal ini.
1. Bener ngga nih?
2. Penting ngga nih?
3. Baik ngga nih?




Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh