Skip to main content

Sifat Orang PDKT-an yang Ngga Banget



Berbicara dari pengalaman, sifat buruk seseorang kadang terlihat saat kencan pada masa PDKT. Dan itu ngga banget. Ingatlah, kata ‘ngga banget’ itu berarti seseorang tidak memenuhi spesifikasi yang saya harapkan.

Mungkin perempuan lain justru beranggapan kalau hal itu menarik atau mempesona, ya balik lagi ke selera lah ya. Di bawah ini hal-hal sepele yang bikin saya nilai seseorang dan kaya “eww..ngga banget nih..”
1.) Orang yang Apa-apa Berpusat di Dirinya

Food is more important than dance, okay..
Kita semua pasti pernah ketemu sama orang yang mendominasi percakapan dan bilang “GW TUH YA // GW SIH // GW ORANGNYA // MENURUT GW // KALAU GW NIH // GW KESEL DEH // LO NGGA TAHU KAN GW GW GW GW GW GW GW GW.”
Rasanya pengen nyumbat kuping pake batu dan nyolok mata tuh orang. Baru kencan pertama nih saya udah tahu dia kerjaannya apa, dulu dia SD dan TK dimana, gimana neneknya jadian sama kakeknya, hobi ayahnya apa, adiknya punya aib apa. Dan itu bukan karena saya nanya, tapi karena saya mendengarkan dan cukup sopan untuk selalu berusaha menyimak lawan bicara.
Dan saya hanya kebagian 10% percakapan, dia mungkin ngga tahu apapun tentang saya.
Kencan yang begitu biasanya juga bilang, “KALO KAMU? // CERITA DONG // TRUS TRUS??” yang saya maknai sebagai ‘Gantian dong lu ngomong sepatah dua patah, tapi abis ini gw cerita lagi..’
Orang-orang begini terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Ini bisa jadi indikasi kalau seseorang itu egois dan sombong, apalagi kalau sudah ada kalimat seperti, “Duh gw tuh ya pengen banget berhenti ngantor.. tapi masalahnya bos gw minta stay.”

2.) Tukang Kritik dan Pemberi Saran yang Ngga Diminta

Gitu ya mbak?
Kencan dengan seseorang yang self-centered membuat kita menderita menghabiskan waktu dengannya.
Tapi apakah hal itu menjadikan saya punya hak untuk memintanya diam dan bilang, “Ada yang pernah ngasih tahu ngga kalau kamu tuh banyak omong? Coba deh bicaranya kurangin, lebih banyak mendengarkan, dan lebih peduli sama orang lain (ketimbang sama diri lo yang congkak dan senga).”
Jelas tidak. Saya tidak punya hak sama sekali untuk mengkritik atau memberi saran yang sebenarnya ngga diminta, apalagi kalau di kencan pertama.
Karena saya pun tidak suka ketika ketemu orang yang belum lama kenal, dia sudah mulai bilang, “Kamu tuh kurang-kurangin lah belanjanya..mana buat invest masa depan??”, “kamu tuh jajannya yang ngga sehat mulu ya.. berubah dong”, atau “kamu kapan sih mau komitmennya..harus inget umur loh.”
Kalau dia berpikir saya seperti itu, tidak apa-apa. Saya sama sekali ngga menyalahkannya. Tapi kalau sampai dibicarakan gitu, itu artinya kan dia pikir saya tidak menilainya. Seriusan deh bung, sejak awal saya sudah ngejudge anda. Saya kasih tahu ya, semua perempuan punya penilaian, dan penilaian mereka lebih detail dari yang anda bayangkan.
Bisa dipastikan yang kaya begini ngga akan ada kencan berikutnya. Simpan kritik maupun saran itu untuk diri anda sendiri ya..
3.) Pengeluh

Dengerin apa kata Mbah
“Hidup kok gini-gini aja ya // Yaelah gini amat sih pelayanannya // Sebel ngga sih // Aku capek deh // Ngantor tuh bullshit”
Seseorang mengeluh itu wajar. Tapi seseorang yang mengeluh tidak pada tempatnya itu mendatang kan sebuah “erghhhh”. Kenyataannya semua orang punya masalah, namun beberapa orang cukup dewasa dalam menyikapinya secara bijaksana. Dengan bersabar, atau cari solusi konkretnya, bukan sekedar di mulut terus jadi penghancur mood.
Yang paling saya tidak suka dari seorang pengeluh adalah dia membawa banyak bibit kebencian, sehingga begitu mudahnya ditebarkan, bahkan pada seseorang yang (di masa depan) berpeluang menerima cintanya.
4.) Ngga Humoris (Beda Selera Humor)
Konon, kalau dua orang tidak kompatibel selera humornya, mereka itu ngga ditakdirkan bersama.
Itu bukan konon lagi.
Sebagian orang ada yang serius banget hidupnya sampe ngga ngerti konsep komedi, dan justru menertawakan tragedi. Sebagian lainnya, punya sense of humor sangat berbeda dengan kita sehingga diperlukan toleransi yang mendalam untuk ikut tersenyum.
Orang-orang di atas tidak bisa masuk kategori yang bisa diajak relationship. Kenapa? Ya karena takdirnya begitu.
5.) Judes Sama Orang Lain yang Ngga Berkepentingan Dengannya

I am sure he's suffer already.
Banyak yang mengatakan, “Baik atau ngga seseorang bisa dilihat dari bagaimana dia memperlakukan waiters”. Secara garis besar, kita bisa perhatikan gimana sikapnya menghadapi orang yang ngga punya kepentingan apa-apa sama dirinya.
Kadang keliatan aja sih. Apalagi kalau judesnya selevel naik tingkat sama marah, misal sama tukang parkir sewot bilang “Emang kenapa? Suka-suka gw dong” atau sama kasir, “Mbak gimana sih?”
Tipikal orang yang kalau kesenggol teriak “Jalan yang bener dong. Punya mata ngga sih?”
Judes. Major turn off.
Percaya deh, orang yang ngga bisa nunjukin kesopanan sama orang lain, ngga pantas mendapatkan rasa hormat dari kita.
Buat yang bilang, “Tapi kan ang, dia ganteng banget..”, saya sih hanya bisa bilang “Okay, jalanin relationship sama dia, datang lagi ke saya setelah 10 tahun ya.”
6.) Ketahuan Berbohong Di Depan Saya

Menghalalkan segala macam cara
Pas lagi makan tiba-tiba ditelpon temennya, trus jawabnya, “iya bentar..nih gw juga lagi di jalan.”
Eh gimana gimana? Lagi makan angkringan apa gimana nih? Padahal baru suapan kedua, terus klarifikasi, “itu temen gw.. tenang aja, kita makan dulu aja.”
Pembohong pasti berkelit, ‘lah kan demi lu juga dia bohong’. Bohong itu apapun alasannya, tetep aja yang salah situ bung. Camkan loh, perempuan yang bangga jadi alasan lakinya bohong itu pasti ya juga hobi bohong dengan alasan lakinya.
Teorinya, orang yang berbohong di depan kita, suatu saat ada masanya kitalah yang dibohongi. Hari ini di depan anda dia berbohong pada temannya, lain waktu nih dijamin dia berbohong pada anda mungkin di depan temannya.
7.) Suka Sesuatu yang Saya Ngga Suka atau Ngga Suka Apa yang Saya Suka


Gahhhhhh.. yang satu ini menghakimi sepihak ya. Tapi jujur aja memang sepenuhnya urusan taste, dan saya ngga punya kewajiban untuk cari pembenaran.
Ini sepele sih, masih bisa di“oke lah, kita lihat lagi deh”, tapi tetap ini pemicu sebuah errrgghh..
Bagi saya orang yang dengerin jenis musik EDM, grunge, darkmetal itu errrggghhh..
Atau yang “i am into french new wave cinema.” Soalnya selera film saya mainstream abis, lihat rating gede, ditonton.
Lebih parah lagi kalau dia bilang, “gw ngga suka nonton anime. Anak kecil doang yang nonton begituan”, atau “duh gw ngga suka makan fast food.”
Lo lo pada yang komen, “Kok kamu ngga open-minded ang? Barangkali suka loh ntar.”
Saya kasih tahu ya, saya pernah deket sama orang yang selera musiknya tuh theme song gitu, macem Hans Zimmer, Harry Gregson Williiams, you name it lah musisi yang garap scoring film. Bener memang, bisa ditolerir karena kadang gantian juga kan musiknya, tapi lama-lama muak juga.
So jawabannya, “Saya ngga gampang berubah. Pahami kalau selera itu ngga bisa dipaksa. Ngga suka ya ngga suka.”
Masih ngeyel nih bilang, “Nah kalau orangnya kamu cinta banget gitu, bisa ngga mentolerir perbedaan?”. Gini ya. Terlepas dari perkara cinta, saya rasa perbedaan itu ada memang untuk ditolerir. Realistisnya kalau yang anda tanyakan terjadi, berarti saya tidak giat mencari orang yang saya cinta banget terus kompatibilitasnya juga tinggi.
Satu lagi, tenang aja buat yang merasa tastenya sekarang ngga banget, taste itu setahu saya membaik seiring bertambahnya umur. Ya tunggu aja lah..


Semoga membantu menjawab masalah para cowok yang suka PDKT sana-sini, good luck with hiding your major turn off. Dan semoga bermanfaat untuk para cewe nih yang lagi di-PDKT-in, get yourself some standard, setidaknya apa yang saya tulis jadi panduan sederhana.
Good day, good people!

Comments

Popular posts from this blog

10 Lagu #RekomendasiAang

Postingan kali ini akan terasa mudah karena saya suka mendengarkan lagu dan saat bosan melanda yang saya lakukan adalah update tentang musik. Lagu ini mungkin mood-nya akan terasa berlainan satu sama lain, tapi percayalah lagu ini menurut saya sangat menarik, entah itu musiknya atau liriknya. Jadi hari ini, kalau kuota melimpah, kenalilah saya lebih dekat dengan mendengarkan apa yang pernah saya dengarkan. Niscaya waktumu terbuang percuma. Tapi setidaknya kamu tahu apa yang aku sukai. Dan mungkin kelak kamu bisa berbagi tentang apa yang menurutmu aku akan menyukainya juga. Cekidot! 1. ONE OK ROCk – Stand Up Fit In  Video dari lagu ini mengingatkan saya pada encek-encek yang jago kimia, dan makanannya sebenernya enak. Tapi masih dinyinyirin warga so penting. Liriknya anak SMA banget sih, merasa kalau diri sendiri ga bisa ‘fit in’, terus dengan mata penuh tanya dan kejengahan, si encek mulai beradaptasi jadi encek amerikan. Sampe durhaka kepada umi dan abi, jadi aja

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten

Sebuah Keresahan Bersama

Katanya kaum millennials memiliki kesamaan, rentang tahun kelahiran yang sama sehingga menyebabkan kondisi saat dibesarkan sama, lantas berakibat pada persamaan masalah yang dihadapi. Contoh: Meski telah lulus masih menjadi beban orangtua. Meski sukuk laris dibeli kaum kita, tapi rumah tetap masih ngontrak. Meski semakin gencar viralnya nikah muda dan nikah murah, toh yang melajang grafiknya tak pernah turun. Meski isi Instagram semakin seragam dengan foto bayi, toh tabungan pendidikan anak belum terpikir. Meski pekerjaan banyak dan menumpuk, distraksi media social masih saja jadi penyakit dan kita nampaknya tidak ingin sembuh. Kesadaran akan kesehatan mental membuat mental semakin tidak sadar. Sedikit cemas, banyak rindunya. Itu kata Payung Teduh sih, hehe. Kemarin aku belajar bahwa dalam hidup ini banyak sekali orang yang toxic , andai sebelum berkenalan pada setiap diri manusia ada label precaution. Tentulah kita hanya hidup sendirian. Di minggu lalu aku jug

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh