Skip to main content

Hukum Murphy


Hukum Murphy berbunyi : apapun yang bisa jadi bencana, pasti akan berujung jadi bencana.

Suatu hari saya lagi jalan-jalan di mall, tanpa alasan yang jelas, saat itu saya males banget ketemu orang yang saya kenal, apalagi kalau ketemu murid. Tahu-tahunya pas lagi mikir begitu, muncullah segerombolan murid yang manggil-manggil ‘ibu..ibu.. lagi ngapain?’ Inilah yang dinamakan hukum Murphy, kasusnya cukup ringan. Mungkin dalam kasus yang lebih pelik, saya bisa saja ketemu mantan dengan gebetan barunya. Dan dalam kasus yang sangat mengenaskan, gebetan barunya lebih cantik dari saya.
Hukum Murphy ini sering terjadi, hanya saja kebanyakan orang ngga tahu apa istilahnya. Sekarang sudah tahu kan?

Lihat hukum ketiga
Katanya Tuhan itu sebaik yang kita sangkakan. Nah, itulah kerangka dasar dari hukum Murphy. Kalau dalam pikiran kamu sesuatu yang buruk akan terjadi, otomatis kamu tuh nyangka kalau Tuhan itu bakal ngejahatin kamu, padahal engga, emang kamunya aja ngga bener. Percayalah sesuatu yang buruk itu seringkali terjadi.

Pernah ngga sih kita lagi terburu-buru mau datang ke suatu acara, dan di perjalanan kok malah macet, ada truk mau muter balik lah, ada kereta lewat lah, ada arak-arakan pawai anak TK lah, ada jerapah nyebrang lah.

Awal-awal mengalami kejadian semacam ini, saya kesel, karena takut akan resiko terburuk dan konsekuensi yang akan saya terima. Memang kesalahan saya, seseorang selalu bisa berangkat lebih pagi. Seseorang yang terlambat, sejujur apapun alasannya, tidak menjadikan kesalahannya berkurang.

Dan skenarionya bisa ditebak? Ketika sampai TKP, acara bahkan belum mulai, masih banyak yang belum datang, dan kecemasan-kecemasan yang kita bayangkan hanya nambah-nambahin keriput aja.

Apa yang terjadi?

Ini yang saya namakan humor Tuhan. Beberapa kesempatan saya bahkan bisa tersenyum dan bergumam, “Wah, Tuhan lagi bercanda nih.”

Saya tahu bukan hak saya untuk so kenal sama Tuhan.

Saya cuma terlanjur berpikir dan beranggapan begitu semenjak SMA.

Dulu pas saya SMA, saya berangkat ke sekolah dianter Ayah saya naik vespa. Pernah ngga sih pas udah rapih, siap mau berangkat, tiba-tiba pengen buang air besar. Di lain kesempatan, ayah saya yang ingin buang air besar.

Saya biasanya berangkat jam 6.30, dan kalau ada tetek-bengek lainnya itu probabilitas saya telat makin besar.

Seringkali saya udah takut banget nih datang terlambat, tahunya gurunya belum datang, malah masih pada ngaji, ketemu temen pula di gerbang. Langsung senyum lega. See, Tuhan lagi ingin kita tersenyum dengan skenarionya yang kita ngga pernah baca.

Tapi di suatu kesempatan Hukum Murphy kejadian sama saya, at it worst.

Saya telat datang, pelajaran pertama itu PKn. Disetrap. Sendirian.

Dan memang sepanjang perjalanan itu saya udah mikirin, “Haduh nih pasti telat nih. Pasti ini mah, pasti gw diapa-apain nih. Semoga ada yang telat juga deh.”

Yap, sudah berburuk sangka sama Tuhan, saya juga mendo’akan hal yang buruk kejadian sama orang lain. Alhasil, kena getahnya kan.

So, sekarang sih saya ngga pernah mengalami Hukum Murphy lagi. I have learned it the hardest way. Kalau dibercandain sama Tuhan masih sering, jadi jangan salahin saya kalau kadang saya ketawa atau tersenyum sendirian. Semoga kamu selalu berbaik sangka pada Tuhanmu ya, hari ini, esok dan seterusnya.

Comments

  1. Hahaha. Sy jg suka mikir gt lho ang, malah sampe ga sengaja keucap "Allah lagi ngajak bercanda nih"

    Terus dimarahin Ibu. "Kamu teh. Masa Allah bercanda. Ga ada di asmaul husna juga"

    *ya kali bu, emangnya bercanda itu termasuk sifat baik

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Entry 4 - Gratitude Journal: Happy Memories

Write about the memories that made you happy! Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ayah ibuku. Banyak kenangan indah yang bisa aku jadikan sebagai mantra Patronus-ku. Sangat sulit memilih mana yang bisa aku jadikan mantra utama penangkal duka lara. Kalau aku meninggal, core memoriesku mungkin bisa menentukan mana best of the best memories, kalau sekarang masih bingung milihnya. Aku suka hari-hari kenaikan kelas, pembagian raport, dan wisuda. Karena ada kebahagiaan terlimpah ruah setelah bisa melewati kesulitan berlevel, ada kesenangan terpancar saat kita bisa mengukir senyum bangga orang tua. Momen itu yang menjadi batu pondasi kalau kelak aku lupa apa itu rasanya bagaia. Momen bahagia baru terasa setelah serentetan lelah dan luka kita lalui, kita naik level, kita jadi lebih baik. Dan kenangan itu membuatku bahagia. Aku juga suka hari-hari normal yang berlalu dengan penuh kedamaian. Ada kewarasan yang tersimpan dalam sebuah rutinitas. Ada rasa aman ketika tahu kita bisa beristir...

Insecurity soal punya anak

Kadang, di tengah malam yang tenang, setelah scrolling TikTok parenting dan baca berita Indonesia gelap, saya suka mikir sendiri: “Yakin nih saya mau punya anak?” Pertanyaan itu bukan muncul karena saya gak suka anak-anak. Saya suka sekali anak-anak —terutama yang lucu, pinter, dan bisa dikembalikan ke orang tuanya setelah main. Tapi makin ke sini, keinginan punya anak justru diselimuti awan tebal bernama…  insecurity . Saya membayangkan, suatu hari nanti anak saya bikin thread viral di Sosmed X (atau apapun namanya nanti), judulnya: “Kenapa ortuku tega melahirkanku ke dunia penuh entropi dan anti-revolusi ini?” Langsung terkencar-kencar. Bisa-bisa dia jadi anak yang pegal hati karena dilahirkan, dia pasti sama seperti saya yang membenci struktur makroekonomi maupun jejak karbon dirinya. Dia pasti mempertanyakan keputusan saya, dan saya belum punya jawaban ilmiah apa pun. Kecuali satu: Karena bapaknya orang baik, dan orang baik itu gak boleh punah. Next masalahnya, saya dan suami...

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten...

Bukan Si Pencuri Rasa Syukur

Salah satu alasan saya ingin masuk surga yang paling underrated adalah ingin bisa membaca buku bagus yang pernah diciptakan oleh semua penulis di dunia. Skeptis jika penulisnya terdampar di Jahanam; itu prerogatif Tuhan.  Menghabiskan sore duduk minum pistachio latte sambil membaca buku pemenang Pulitzer Prize, dan sesekali ditampar semilir angin taman yang bentukannya mirip Keukenhof. Penduduk surga boleh minta apa aja kan?  Di surga semua buku harus wangi buku, wangi yang bikin kutu buku dimabuk kepayang. Buku di sana juga harus bikin pembacanya berimajinasi dalam 4D, seolah ketika membacanya otak kita langsung membuat dimensi baru yang bisa dijelajahi secara real time. Di surga itu juga tersedia buku yang ketika di dunia dibredel, mungkin bukunya bernuansa kiri atau tentang kritik pada pemimpin yang sibuk terbakar di neraka. Buku yang hilang karena perang, akan kembali. Buku yang dibakar karena ketamakan, akan melimpah. Manuskrip yang tidak rampung karena penulisnya keburu ...