Skip to main content

Sukinem

Pertanyaan pertama: apakah kau pernah menggunakan otak dan hatimu bersamaan?

Pertanyaan kedua: apakah orientasi hidupmu untuk bangun lalu bersikap realistis dan bukan untuk mengejar mimpimu?

Bila kedua jawaban tersebut adalah ''ya'', maka kau normal. Karena aku tahu benar, bahwa aku gila. Ini sama sekali bukan sebuah uji statistik, bukan pula sebuah pikiran iseng yang mendatangi ketika keadaan diri sedang kosong tanpa kegiatan. Tiba-tiba saja pertanyaan itu menghampiriku suatu ketika --tanpa merasa perlu untuk menjelaskan alasan yang melatarinya-- dan menggandengku untuk menelusuri jalur perjalanan masa silamku. Pembacaan ini boleh saja dilanjutkan, atau bisa saja dihentikan. Terserah opsi mana yang kau pilih.

Malam itu, cahaya bulan hinggap di atas lembaran-lembaran daun dan celah ranting pohon apel. Percaya atau tidak nasibku sama dengan nama kota tempatku tinggal, ya, aku tinggal di Malang. Jika aku bercerita, maukah kau membaca? Ah, kau mengangguk. Baiklah, izinkan aku curhat.

Nasib malangku ini sudah dimulai ketika aku masih dikandungan. ibuku mengalami apa yang namanya ngidam. Yaaaaa…. hampir rata-rata orang yang hamil biasanya ngidam. Ngidam apa ibuku??? Awalnya ngidamnya buah-buahan. Pertama mangga yang ada di pohon tetangga sebelah. Tapi karena banyak uletnya ibu memutuskan untuk mengganti ngidamnya dengan durian. Tragedi tebasan kulit durian di tangan ibu yang menyebabkan luka 1 cm di jari dan membuat karatan tangan ibu,membuat ibu pun mengganti lagi ngidamnya dengan buah yang lain lagi sampai seluruh jenis buah tetapi tidak ada yang berhasil. Dan akhirnya ibu memutuskan untuk ngidam sekoteng. Lho kok??? Yaaaa… ga tau juga kenapa milih sekoteng.

Pada saat matahari tenggelam, ibu sudah bersiap untuk membeli sekoteng karena biasanya tukang sekoteng datengnya malem-malem. Pintu rumah pun dibuka, ibu duduk diruang tamu dan sambil memegang mangkok sekoteng ibu berdoa agar tukang sekoteng segera dateng. Sudah hampir menunjukkan pukul 11.23 malam, terdengar bunyi mangkok ditabuh “ Teng…teng..teng…”, ibu pun melonjak kegirangan dan segera berjalan ke depan gerbang.Ternyata bunyi itu adalah bunyi tukang somay. Ibu pun kesal. Biasanya tukang somay kalau jualan cuma pake teriakan “ SOMAAAAY..” tapi sekarang enggak, tukang somay pun berkilah bahwa dia lagi sariawan. Akhirnya ibu pun kembali duduk di ruang tamu, dan tiba-tiba tertidur.

Pada malam, malamnya minggu kedua pada beberapa bulan kemudian, tukang sekoteng akhirnya datang juga. Sambil mengelus perut hamilnya ibu berkata “ Nak, tukang sekoteng datang”. Ibu berlari menghampiri si Emangnya dan tanpa basa-basi langsung membeli sekoteng dengan merek sekoteng Hello Kitty yang tertulis digerobaknya.

Ternyata tukang sekoteng itu adalah Joker yang menyamar, karena ia diberi tugas oleh Voldemort untuk menculik aku. Ya, setelah aku lahir, aku langsung diculik tukang sekoteng itu. Aku dibesarkan oleh Voldemort. Hingga pada suatu saat, “Sukinem, sudah saatnya kamu bekerja untukku.. hahahaha” ujar Voldemort.

“Tapi.. tapi.. tapi..” jawabku.

“Tidak ada tapi-tapian, ayo cepat kerja. Atau kau mau aku jadikan tumbal?”.

“Oh tidak bissaaaa”. Aku pun diberinya ‘kecrekan’.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari telah ku lewati dengan kesedihan. Aku anak jalanan, aku pengamen. Tiap hari aku disiksa oleh Voldemort, dan si Joker… dia bangkrut, karena sekoteng yang ia jual diduga mengandung formalin. Hah? Berarti.. aku, maksud aku, ibu aku makan sekoteng yang ada formalinnya dong? Astaga. Malangnya diriku..

Suatu saat, aku sudah tidak tahan dengan siksaan itu, aku hampir gila. Aku ingin membunuh Voldemort. Ketika dia tidur, aku menyelinap ke kamarnya. Aku hanya membawa jarum, koin, dan keju. Bodohnya diriku.

Aku merasa diriku sedikit psikopat, sambil aku makan keju dan berencana menusukkan jarum itu di kepala Voldemort, dan koin itu akan aku gunakan untuk naik bis ke Grogol membuang mayatnya. Tiba-tiba ada sebuah sinar. Ada seseorang. Ah! Harry Potter datang dan berkata “Hei dia musuhku, apa-apaan ini??!!”. Aku pun curhat kepadanya. Harry berkata lagi “Kalau kamu yang membunuhnya, lalu bagaimana jadinya filmku yang berikutnya. Dasar dodol!!!”

Karena suara gaduh kami, Voldemort terbangun.

“Aya naon ieu? Gandeng! Ngga tau apa aku lagi bobo”, kata Voldemort sambil mengucek matanya, dan menggaruk hidungnya yang belum jadi itu. Hei sejak kapan Voldemort berbahasa sunda, ah aku ingat dia kan berteman dengan banyak pedagang sekoteng dulu. Dengan sigap aku kabur, hanya ini jurus paling tepat. Tanpa komando siapapun, sekencang mungkin aku menggerakkan kakiku.

Tapi, apa yang terjadi? Aku tersungkur oleh kerumunan selimut, yang dilemparkan oleh Voldemort saat ia terbangun dari tidurnya. Brukk.. Dug.. Bledag.. “Hahahaha”, terdengar ada suara orang yang menertawakanku. Akupun melihat ke belakang. Dan.... Ah, sialan! Mereka berdua menertawakanku. Tapi tiba-tiba, mereke berhenti tertawa dan langsung saling menyerang satu sama lain. Aku saat itu hanya bengong, dan merasa tidak dipedulikan.. “STOP!!!! Stop berkelahi kalian berdua! Ini kan cerita tentangku, bukan cerita tentang kalian berdua! Huh, kalo gini. Loe, loe, gue, END!”, aku meninggalkan mereka berdua dari kamar itu.

Aku keluar dari rumah Voldemort, saat itu hujan sedang deras. Tapi.. sebentar, kok jalan di depan gerbang itu kering sih?! Aku pun tersadar, ternyata hujan itu berasal dari pembantu Voldemort yang sedang menyiram bunga. “Oh my God! Mang, cukup cukup! Berhenti dong nyiramnya! Ga liat apa aku kesiram!”, amukku padanya.

“Aduh, maaf maaf ya Sukinem. Mang ga liat”, ujarnya dengan datar.

Aku pun mengacuhkannya, aku langsung berlari keluar gerbang.

“aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggggg!” aku berteriak kencang karena merasakan ada yang menarik tanganku.

“sssstttt,jangan berisik” ujar lelaki itu. Aku mengamati wajahnya dengan seksama.

Saha nya? Asa kenal, ujarku dalam hati. Oh Yaa! Aku tau!

“Ente Fa’ank kan? Vokalis Band wali?,” tanyaku antusias

“hahaha, ternyata!” ujarnya sambil senyum-senyum ga jelas. “sudah banyak yang mengiraku seperti itu. Tapi sebenarnya aku adalah tukang somay yang dulu di sangka Mang sekoteng oleh ibumu. Aku disini untuk menyelamatkanmu.”

Aku terdiam. Tak tau harus mengucapkan apa. “ kalau begitu, mari kita pergi sekarang!”

“eeit, tunggu dulu,” ujarnya sambil membentang tikar di depan gerbang. Ia menarikku duduk dan mengambil tas rasnselnya yang besar. Pasti itu perkakas untuk menyelamatkanku, begitu dugaanku.

Namun ternyata, ia mengeluarkan kosmetik-kosmetik MLM yang sedang naik daun di dunia sihir.

“tau ga kenapa ente di culik Voldemort?” tanyanya pelan. Saat itu aku menyadari bahwa ia memakai maskara anti air yang membuat matanya tidak hitam.

“tidak. Memang kenapa gitu?”, kataku sinis.

“ini ni yang buat dia jadi jelek tanpa hidung.” Katanya sambil menunjukkan botol cream kecantikan. “ ini tu ga ada SPF15 nya, jadi bisa bikin kulit siapapun melepuh. Tuh buktinya sekarang voldemort ga punya hidung. Karena itu dia nyulik ente dan sampai umur ente cukup di jadiin tumbal. Dia mau ngambil wajah ente!” bisiknya pada kalimat terakhir.

Tanpa pikir panjang, ku rampas kosmetik yang kata Fa’ank gadungan itu mengandung SPF15 dan segera mungkin kuberlari menuju pintu rumah voldemort. Namun, sekali lagi aku merasakan rintik-rintik air yang mengenai wajahku yang mulus.

“mang! Aku kesiram lagi ni. Mang teh tukang kebun atau pemadam kebakaran?” tanyaku kesal.

“ maaf neng, mang kira pohon” katanya sekali lagi tanpa ekspresi.

Aku mengetuk pintu. Tak sabar bertemu dengan voldemort untuk memberinya obat yang selama ini ia cari sampai-sampai menculikku. Pada ketukan ketiga pintu terbuka. Wajah Harry yang mengingatkanku dengan Kim Bum menyambut.

“ Voldemortnya ada?” tanyaku

“lagiiiii...... Kerammmaaaasssss,” katanya dengan nada seperti salah satu produk Shampoo di televisi.

Ggggrrrrr....sekali lagi aku bingung dengan kegilaan yang aku alami selama hidup. Aku pun menerobos masuk dan duduk di depan perapian. Disana kulihat Nagini--ular voldemort—sedang asyik menonton acara Tarung Dangdut yang sedang di siarkan. Tak lama setelah itu, voldemort datang dengan handuk di kepalanya. Aku memandangnya heran, bukannya voldemort ga punya rambut ya?batinku. matanya bengkak, kulitnya melepuh(dan setelah sekian lama, aku baru menyadarinya).

“ Voldemort!” kataku menggelegar! “Sekarang aku punya obat untuk menumbuhkan kembali hidungmu!” kataku riang.

“ benarkah?” tanyanya.

“ya! Dalam waktu 2 minggu wajahmu akan bersih merona,” lanjutku.

Voldemort menangis keras karena terharu. Batinku iba sehingga secara tak sadar aku memeluknya diiringi dengan pelukan hangat juga dari joker dan Harry. Akhirnya,aku bisa pulang.


PS:
Penulisnya ada 4 orang; AANG NOVIYANA UMBARA, GRIYA LALITA FIRDAUSY, INTAN ISTI ROGAYAH dan ASTECIA PARAMITHA. Mereka superduper ngaco dan gila level tak hingga.


Postingan ini juga diterbitin di majalah Anak Kimia UPI loh.. :)

Comments

Popular posts from this blog

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga

Apakah menulis essay dengan bantuan bot itu etis?

Beberapa hari lalu sempet liat postingan di twitter mengenai bot yang bisa menulis essay , konon… bisa mempermudah pekerjaan mahasiswa. HAHAHA. Sebagai seseorang yang bekerja di lingkungan akademisi, cuma menggeleng kepala. Hey nanti kalau pekerjaan kamu di masa depan diambil alih bot, jangan salahin bot-nya ya! Kan emang bot nya toh yang selama ini belajar. Sungguh terlalu, Martinez! Martinez siapa ang? Gatau…. Pengen aja mencela, tapi ga mungkin mencela menggunakan nama Bambang, karena itu nama dosenku ☹ Berdasarkan taksonomi Bloom, mensintesis atau create itu letaknya pada hirarki paling tinggi. Jelaslah kalau menciptakan tulisan yang berisi ide, gagasan dan mensistemasinya dalam kesatuan paragraf bukan sembarang yang mampu melakukannya. Diperlukan kemampuan berpikir level yang tinggi atau high order thinking skill . 😙 Meskipun entah kenapa menurutku, essaybot ini keliatan banget bot nya. Tulisannya ga punya sentuhan manusia, kaya ga punya hati.. WOW itu tulisan apa mantan deh

Ada Apa dengan Mas-Mas Jawa?

Kalau kamu adalah seorang perempuan, apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata ‘Mas-Mas Jawa’? Apakah seksi, idaman, gagah, karismatik terlintas meski hanya sekilas? Tak dipungkiri lagi mas-mas jawa adalah komoditas utama dalam pencarian jodoh. Cewe-cewe entah kenapa ada aja yang bilang, “pengen deh dapet orang jawa.” Alasannya macem-macem mulai dari yang sekedar impian masa kecil, pengen aja, sampe dapet wangsit dari mbah Jambrong. Saya ngga ngelak, pria jawa memang identi dengan kualitas terbaik. Mungkin Abang, Aa, Uda, Bli, Daeng, atau Bung juga suka merasa daya saing di pasar rendah, apakah dikarenakan passing grade Si Mas-Mas tinggi? Atau karena ada quality control sebelum masuk pasar? Hmm. Mari disimak beberapa hal yang membuat mas jawa menjadi undeniable (ngga bisa ditolak) 1. Killer smile Mungkin tatapannya orang Jerman atau seringainya kumpeni itu bisa membunuh. Tapi untuk seorang mas-mas jawa, yang membunuh itu senyum. Bikin klepek-klepek. Takar

Bumiayu

Welcome to the beautiful earth! Bumiayu. Back then I used to speak flawless javanese. But now, you can’t even tell that i ever had medok accent (aku ora ngapusi iki). Bumiayu was the first place I learned about manner and etiquette. Javanese have different level of politeness in their language. They have kromo javanese and ngoko javanese. Kromo javanese used to talk with the elderly and someone that you should respect, whereas ngoko javanese is used when you’re talk to your friend or your junior. The same thing happened with Japanese and Korean. They do had formal and informal language.