Ini pikiran
random saya ketika saya naik ojol, tiba-tiba mikir kenapa ya saya sebagai cewek
doyan makanan pedes? Apakah itu bentuk kemasokisan kolektif? (sorry dark
thought)
Banyak yang
bilang cewek kalau lagi stress pasti makan seblak.. well itu ga salah, dalam
kasus ku, aku suka memanjakan stress ku dengan bakso yang sambelnya tumpah
ruah, rujak yang cabainya 5, mie ayam juga wajib agak merah kuahnya. Pick your
fighters.
Tapi jujur ya, ini fenomena rasanya ada di negara tropis
juga gak sih? Seperti halnya negara tetangga, Thailand terkenal dengan makanan kaya
tom yum, som tum, pad thai. India punya
kari, chicken masala, tandoori. Malaysia tetangga kita juga sama sukanya dengan
makanan pedes. Di banyak bagian dunia, terutama Asia Selatan, Asia Tenggara,
Afrika, dan Amerika Latin, makanan pedes itu lumrah.
Aneh kan, padahal cuaca di negara kita ini panas, kenapa
cari makanan yang bikin keringetan?
Setelah aku ngubek internet, jawabannya ternyata gak sesederhana
“karena lidah orang tropis lebih tahan pedas”.
Di balik itu ternyata, ada cerita tentang iklim,
mikroorganisme, perdagangan rempah, tanaman yang tersedia di suatu wilayah,
kebiasaan sejak kecil, sampai cara tubuh kita belajar menerima sensasi pedas.
Dan menariknya, ilmu pengetahuan sendiri belum punya satu
jawaban tunggal.
Pedas Ternyata Fenomena Global
Makanan pedas bukan hanya soal sambal dari Indonesia. Kalau
melihat berbagai tradisi kuliner dunia, kita akan menemukan sejumlah wilayah
sangat akrab dengan cabai dan rempah-rempah beraroma kuat.
Setiap daerah punya bahasa pedasnya sendiri: sambel goang
dari Sunda, sambel matah dari Bali, rica-rica dari Sulawesi Utara, balado dari
Sumatra Barat, Sambalado dari Ayu Tingting (eits)..
Tetangga kita, rumahnya Mpok Lisa, Thailand, juga
terkenal dengan kombinasi rasa pedas, asam, manis, dan gurih. Kemudian India,
mereka menggunakan cabai bersama lada, jahe, kunyit, kapulaga, dan berbagai
rempah lainnya. Di China, gak semua makanan China pedas, tetapi beberapa
wilayah memiliki tradisi makanan yang sangat kuat dengan rasa pedas. Masakan
Sichuan, misalnya, terkenal dengan kombinasi cabai dan Sichuan pepper. Korea
juga mempunyai banyak hidangan yang menggunakan cabai dalam berbagai bentuk,
misalnya kimchi. Ada juga Meksiko, misalnya di Tacos. Itu cuma sekelumit
saja, tentu tidak semua
negara panas suka pedas.
Kalau cuaca panas otomatis membuat masyarakat menyukai
cabai, seharusnya semua negara tropis dan subtropis punya makanan yang pedas. Faktanya
tidak begitu ya bes.
Bosland (2016) menunjukkan Spanyol, Puerto Rico, Kolombia,
dan Venezuela memiliki iklim panas, tetapi makanan mereka tidak terkenal karena
cabai atau pedesnya. Sebaliknya, di Eropa Utara, Kanada, bahkan Islandia yang
notabene negaranya punya musim dingin, cabe dan makanan pedas menjamur juga. Artinya,
negara dengan iklim yang
panas ≠ negara yang suka pedas.
Dua negara dengan suhu yang sama-sama panas bisa memiliki
tradisi makan yang sangat berbeda. Jadi, kalau suhu bukan satu-satunya alasan,
apa dong yang sebenarnya terjadi?
Info dari anak biologi, cabai sebenarnya tidak benar-benar
membakar mulut kita. Sensasi pedas berasal dari kelompok senyawa yang disebut capsaicinoids,
termasuk capsaicin. Senyawa ini berinteraksi dengan reseptor tubuh yang
berkaitan dengan sensasi panas. Akibatnya, sistem saraf membaca cabai
seolah-olah mulut sedang terkena sesuatu yang sangat panas (Bosland, 2016).
Itulah kenapa setelah makan cabai kita bisa berkeringat,
wajah memerah, atau buru-buru cari minum. Lucunya, meskipun tubuh seperti
sedang memberi alarm bahaya, manusia justru bisa belajar menikmatinya.
Orang yang sering makan pedes, lama kelamaan tingkat pedesnya
itu akan terasa lebih ringan. Ada riset yang bilang paparan berulang terhadap capsaicin
dapat membuat sistem sensorik menjadi kurang responsif terhadap sensasi
terbakar tersebut. Jadi,
“tahan pedas” ternyata bisa dipelajari.
Teori
Pertama: Dulu Rempah Membantu Melindungi Makanan?
Salah satu penjelasan paling terkenal tentang hubungan iklim
panas dan makanan berbumbu datang dari Jennifer Billing dan Paul Sherman.
Mereka mempelajari ribuan resep berbasis daging dari 36
negara dan menemukan pola menarik: semakin tinggi temperatur rata-rata suatu
negara, semakin besar kecenderungan resepnya menggunakan rempah. Rempah
dengan sifat antibakteri yang kuat juga lebih sering ditemukan dalam resep dari
wilayah tropis (Billing & Sherman, 1998).
Secara logika, teori ini terdengar masuk akal. Bayangin
hidup ratusan tahun lalu tanpa kulkas. Di daerah panas, makanan lebih cepat
rusak dan mikroorganisme berkembang lebih cepat. Sementara itu, berbagai rempah
seperti bawang putih, bawang, cabai, jahe, dan lada diketahui memiliki sifat
antimikroba. Maka, muncul hipotesis bahwa masyarakat di daerah tropis secara
bertahap mengembangkan tradisi menggunakan banyak rempah karena kebiasaan
tersebut mungkin membantu mengurangi risiko yang berkaitan dengan makanan
terkontaminasi.
Dengan kata lain, rempah-rempah mungkin dahulu bukan sekadar
soal rasa. Bisa saja memiliki fungsi praktis: biar ga gampang basi/terkontaminasi
(kaya embege, eits prittt).
Tapi ada satu masalah, penelitian yang lebih baru membuat
ceritanya jauh lebih rumit.
Penelitian
Baru: Ternyata Iklim Bukan Jawaban Utamanya
Lebih dari dua dekade setelah penelitian Bapak Billing dan
Sherman, peneliti Bromham et al. (2021) menguji kembali hubungan tersebut
dengan dataset yang jauh lebih besar: 33.750 resep dari 70 tradisi kuliner
yang menggunakan 93 jenis rempah.
Peneliti juga memperhitungkan sesuatu yang penting: apakah negara dengan budaya yang berdekatan atau
memiliki sejarah yang sama sering kali mempunyai pola makanan yang mirip?
Setelah hubungan sejarah dan budaya antarwilayah
diperhitungkan, temperatur tidak lagi mampu menjelaskan variasi penggunaan
rempah dengan baik. Artinya, teori sebelumnya yang bilang bahwa, semakin panas suatu
negara, maka semakin berempah makanannya.. itu teori failed, karena berdasarkan
penelitian ini, hubungannya gak sesederhana itu (Bromham et al., 2021). Penelitiannya
juga bilang bahwa gagasan masyarakat di daerah panas secara khusus
mengembangkan makanan berbumbu terutama untuk mengurangi risiko infeksi dari
makanan, itu hubungan keterkaitannya lemah.
Jadi, apakah teori orang tropis lebih banyak makan pedes untuk
efek antimikroba salah?
Tidak sesederhana itu.
Mudahnya, “rempah dapat menghambat mikroba” adalah satu
hal; “orang tropis makan pedas karena ingin menghambat mikroba” adalah klaim
yang berbeda. Bukti saat ini belum cukup kuat untuk memastikan klaim kedua
(Bromham et al., 2021).
Teori
Kedua: Makan Pedas Bikin Tubuh Lebih Dingin?
Ini mungkin penjelasan yang paling sering kita dengar. Makan
cabai bikin kita keringetan. Keringat yang menguap dari permukaan kulit memang
dapat membawa panas keluar dari tubuh. Maka ada hipotesis kalau masyarakat di
wilayah panas mengonsumsi makanan pedas supaya tubuh menjadi lebih dingin. Masalahnya,
efek tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan.
Dalam udara yang relatif kering dan memiliki sirkulasi baik,
penguapan keringat memang membantu proses pendinginan. Tetapi di wilayah yang
sangat lembap yang justru umum ditemukan di kawasan tropis keringat lebih sulit
menguap. Ada eksperimen terhadap capsaicin yang hasilnya tidak memberikan bukti
kuat bahwa mengonsumsi cabai secara berarti meningkatkan kemampuan tubuh
mengatur suhu ketika berada di lingkungan panas.
Artinya, makan sambal mungkin membuat kita berkeringat
deras, tetapi itu tidak sama dengan mengatakan sambal adalah pendingin laiknya
AC. Teori ini menarik, tetapi tampaknya belum cukup untuk menjelaskan kenapa
tradisi makanan pedas berkembang begitu kuat di beberapa negara tropis.
Penjelasan
yang Lebih Sederhana: Apa yang Tumbuh, Itu yang Dimakan
Ada faktor yang jauh lebih sederhana: apa yang tersedia
di sekitar kita sangat memengaruhi apa yang akhirnya kita makan.
Wilayah tropis dan subtropis mendukung tumbuhnya banyak
tanaman rempah. Lada, jahe, kunyit, kayu manis, cengkeh, pala, dan berbagai
rempah lainnya sejak lama mempunyai hubungan kuat dengan wilayah tropis.
Kondisi agroklimat di negara seperti India dan Sri Lanka,
misalnya, memungkinkan berbagai jenis rempah tumbuh pada zona yang berbeda
(Ginigaddara, 2018). Ingat ini adalah alasan kita dijajah oleh antegh antegh aseng.
Sebaliknya, wilayah beriklim lebih dingin memiliki tradisi
tanaman aromatik yang berbeda. Mustard, parsley, dill, marjoram, thyme, sage,
dan berbagai jenis herbs lebih banyak diasosiasikan dengan masakan dari
kawasan beriklim sedang.
Jadi, perbedaannya bukan sekadar “orang tropis suka rasa yang
strong, orang Eropa suka rasa yang cenderung hambar”.
Ini lebih ke.... yang tumbuh, tersedia, diperdagangkan, dan
digunakan selama ratusan tahun memang berbeda. Lama-kelamaan, bahan-bahan
tersebut ikut membentuk identitas kuliner suatu masyarakat.
Tetapi ada satu kejutan lagi.
Cabai yang sekarang identik dengan banyak masakan Asia
ternyata bukan berasal dari Asia.
Cabai Ternyata Pendatang yang Viral
Kalau cabai sekarang terasa begitu melekat pada makanan Asia,
faktanya cabai berasal dari benua Amerika. Setelah perjalanan dan perdagangan
global berkembang pada abad ke-15 dan ke-16, cabai menyebar melalui jaringan
perdagangan menuju berbagai wilayah lain. Setelah diperkenalkan ke Asia, cabai
kemudian beradaptasi dengan baik dan akhirnya menjadi bagian penting dari
berbagai masakan lokal.
Ini menunjukkan bahwa makanan tradisional sebenarnya terus berubah.
Sebuah bahan baru bisa datang dari tempat yang sangat jauh,
diterima masyarakat, disesuaikan dengan bahan lokal, dimasukkan ke dalam resep,
lalu diwariskan selama beberapa generasi. Lama-kelamaan, bahan “asing” tersebut
terasa seperti bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kuliner. Sejarah
perdagangan rempah memang memainkan peran besar dalam membentuk kebiasaan makan
masyarakat (Van der Veen & Morales, 2015).
Jadi, iklim membantu menjelaskan apa yang bisa tumbuh.
Perdagangan menjelaskan bagaimana bahan berpindah. Tetapi masih ada satu
pertanyaan: kenapa
setelah cabai datang, masyarakat terus memakannya?
Di sinilah budaya masuk.
Dari
Kebiasaan Menjadi Identitas
Manusia adalah omnivore, kita bisa mengonsumsi apa saja.
Tetapi kemampuan itu sekaligus menciptakan masalah: bagaimana kita tahu makanan
baru itu aman dan enak untuk dimakan?
Salah satu jawabannya adalah budaya.
Keluarga dan masyarakat mengajarkan kepada kita apa yang
dianggap makanan, bagaimana cara memasaknya, rasa seperti apa yang dianggap
“benar”, dan kombinasi bumbu seperti apa yang terasa familiar.
Karena itu, selera tidak sepenuhnya lahir bersama kita.
Banyak bagian dari selera justru dipelajari.
Penelitian Ludy & Mattes (2012) membandingkan orang yang
makan pedes scara reguler dengan mereka yang tidak terbiasa juga menunjukkan
pentingnya faktor pengalaman dan budaya dalam membentuk preferensi terhadap
rasa pedas
Kalian pasti pernah lihat kan bule kena kalau awal ketemu
sambel yang cabenya level satu saja, sudah pasti dia kepanasan. Lambat laun, kalau
terus menerus dicekoki sambel, tingkat
toleransinya akan meningkat. Sambal kemudian bukan lagi sesuatu yang
“menyiksa”, tetapi bagian dari rasa yang dianggap normal.
Bahkan sebagai orang Indonesia, saking kita sudah menormalisasi
sambel, justru ketika sambalnya tidak ada, makanan justru terasa seperti “ada
yang kurang”.
Hal yang sama dapat terjadi pada masyarakat dalam skala yang
lebih besar. Resep diwariskan, cara memasak dipelajari dari keluarga, makanan
tertentu hadir dalam perayaan dan pertemuan sosial, lalu rasa tersebut perlahan
menjadi bagian dari identitas sebuah daerah atau negara.
Jadi,
mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “kenapa tubuh orang tropis suka
pedas?”, melainkan “bagaimana masyarakat belajar menyukai pedas?”
Setelah Terbiasa, Kita Malah Mencari Sensasinya
Ada satu sisi lain dari makanan pedas yang sangat manusiawi:
sensasinya sendiri bisa menjadi menyenangkan, setidaknya bagi sebagian orang. Bosland
(2016) yang bilang di risetnya kalau pengalaman makan pedas dapat berubah
menjadi sesuatu yang menantang sekaligus menyenangkan (Bosland, 2016). Itulah
kenapa ada orang yang setelah kepedasan berkata, “Nggak kuat lagi,” tetapi lima
menit kemudian tetap tambah sambal.
Semakin sering seseorang terpapar cabai, semakin terbiasa
pula sistem sensorinya terhadap sensasi tersebut.
Pedas akhirnya bukan lagi sesuatu yang harus ditoleransi.
Pedas menjadi sesuatu yang dicari.
Dan mungkin ini juga menjelaskan kenapa kebiasaan makan
pedas begitu mudah bertahan lintas generasi. Apa yang awalnya diperkenalkan oleh lingkungan,
pertanian, atau sejarah akhirnya dipertahankan karena orang benar-benar
menyukai rasanya.
Jadi,
Kenapa Orang Tropis Suka Pedas?
Kita harus melihat semuanya sebagai sebuah perjalanan
panjang: lingkungan menyediakan bahan, perdagangan menyebarkannya,
masyarakat memasukkannya ke dalam masakan, budaya mewariskannya, dan lidah
manusia belajar menyukainya.
Mungkin itu sebabnya pertanyaan “Kenapa orang tropis suka
pedas?” sebenarnya punya jawaban yang jauh lebih menarik daripada sekadar
“karena cuacanya panas”. Kita makan bukan hanya dengan lidah. Kita juga
makan dengan sejarah, lingkungan, dan budaya yang membentuk kita. Dan
mungkin itulah sebabnya, bagi sebagian orang Indonesia, makan tanpa yang pedes2
terasa seperti ada yang belum selesai.
Referensi
Billing, J., & Sherman, P. W. (1998). Antimicrobial
functions of spices: Why some like it hot. The Quarterly Review of Biology,
73(1), 3–49.
Bosland, P. W. (2016). Hot stuff—Do people living in hot
climates like their food spicy hot or not? Temperature, 3(1), 41–42.
Bromham, L., Skeels, A., Schneemann, H., Dinnage, R., &
Hua, X. (2021). There is little evidence that spicy food in hot countries is an
adaptation to reducing infection risk. Nature Human Behaviour, 5,
878–891.
Ginigaddara, G. A. S. (2018). Wonders of spices in Sri
Lanka. In Indian Spices: The Legacy, Production and Processing of India's
Treasured Export.
Ludy, M.-J., & Mattes, R. D. (2012). Comparison of
sensory, physiological, personality, and cultural attributes in regular spicy
food users and non-users. Appetite, 59(1).
Sinsawasdi, V. K., & Dhevabanchachai, N.-T. (2022). Thai
cuisine identity. In The Science of Thai Cuisine: Chemical Properties and
Sensory Attributes.
Van der Veen, M., & Morales, J. (2015). The Roman and
Islamic spice trade: New archaeological evidence. Journal of
Ethnopharmacology, 167, 54–63.
Wang, S., Cheng, L., He, S., & Xie, D. (2019). Regional
pungency degree in China and its correlation with typical climate factors. Journal
of Food Science.
Comments
Post a Comment