Selasa lalu 11 Agustus, aku dan Mas Wika menonton film The Last House. Sebelumnya kami sekilas memahami filmnya tentang apa dari trailer nya. Filmnya bercerita tentang suatu musibah di muka bumi yang bikin semua rumah terkunci, dan layaknya pembatasan social Ketika COVID, semua orang gak bisa kemana-mana. Tentunya ceritanya ga Cuma tentang itu, ada juga monster mengerikan yang siap menjadi klimaks cerita. Aku rasa filmnya bagus dan aku tidak terlalu memperhatikan plot hole nya, hanya ingin menikmati ceritanya. Kisah apik tentang kekuatan keluarga, kehangatan orang tua dan bonding orangtua dan anak.
Sepanjang nonton ada beberapa teladan yang sepertinya perlu aku pelajari sebagai seorang istri:
1) Ketika tahu suaminya membeli senjata tanpa koordinasi dulu dengan isterinya, si istri langsung bertanya, “kenapa kamu melakukan itu?”
Suaminya menjawab “karena beberapa malam aku bermimpi buruk dan di mimpi itu aku ga ngerasa aman.”
Respon istri mendengar dalih dari suami ini sangat penting, istri menimpali “Apakah kamu sekarang merasa aman?”
Di sini jujur aku melihat diriku, kadang hal seperti ini terjadi di rumah tangga, ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa koordinasi, kamu merasa tidak dilibatkan dan kamu mempertanyakan bahkan menghakimi orangnya. Tapi mungkin istri yang baik itu seharusnya seribu kali lebih memahami dan mencoba menempatkan diri di posisi pasangan kita. Suami tersebut merasa aman setelah membeli senjata, dan istrinya hanya dalam hitungan detik meng-ok-kan sebagai tanda masalah selesai. Masalah tersebut tidak lantas diungkit atau diingat lama, berita baiknya senjata tersebut justru akan berguna kelak. Dan aku rasa gut feeling suaminya cukup baik. Kita tidak pernah tahu apa yang kita butuhkan, sampai suatu saat kita benar-benar membutuhkannya bukan?
2) Always looking at the bright side. Ada satu hal keren yang ga mungkin kepikiran oleh manusia pesimis, yaitu sang istri berinisiatif untuk meminta anaknya belajar main piano. Kalau dipikir dengan logika remaja, buat apa belajar piano ketika dunia di luar rumah sedang berantakan? Ku rasa ibunya ini sangat dewasa. Dia tahu karena justru hidup harus tetap berjalan.
3) Pendelegasian kerja kotor ke suami, dan suaminya nurut2 aja. Di sini beberapa kali ada kejadian yang menguras emosi, misalnya Ketika anjingnya mati. Istrinya ga mau ngurusin, bukan berarti dia lemah atau nggak bertanggung jawab, terlihat dia memang sedang ga punya kapasitas emosional untuk menghadapi itu.
Dan suaminya... ngurusin semua itu dan nrimo2 saja. Ga ada gontok2an atau perhitungan, “Kok semuanya aku?” Ada hari ketika kita kuat dan pasangan kita gak. Rumah tangga itu tidak dibagi 50:50 setiap saat. Yang penting, ketika salah satu sedang gak mampu membawa bebannya, yang lain bersedia mengangkat sedikit lebih banyak, that was beautiful for me.
4) Saling memahami before anything else. Ngeliat film ini bikin aku berpikir apa cowok kalau dimarahin suka jadi emosional ga jelas begitu ya? Di penghujung cerita sang istri meletus amuknya karena ga tahan sama suaminya yang perlahan kehilangan sparks sebagai suami, ditambah anak cewenya yang saat bersamaan demam butuh antibiotic, si suami nabrak2in mobil ke pagar garasi dengan menekan pedal sebrutal mungkin, ujarku“emosian bgt”..
Aku rasa pria memang kadang tidak diajari bagaimana memproses ketakutan, frustrasi, dan tekanan, mereka tidak punya channel untuk melampiaskan emosi semudah perempuan ngedumel2, mereka lebih memilih diam dan stress sendiri, ujungnya ya nekad melakukan hal berbahaya seperti memacu pedal mobil di ruang sempit, dan menabrak2an mobilnya ke pagar garasi.
Yang menarik dari pasangan di film ini adalah setelah semua
kekacauan itu, mereka terus berjalan.
Tidak sibuk mencari siapa yang paling salah, tidak
menghitung siapa yang sudah berkorban lebih banyak, tidak menjadikan kesalahan
hari ini sebagai senjata untuk besok. Malah setelah itu si istri ikut andil
besar dan bilang, “kamu kan sudah, sekarang giliranku ya yang bantu keluarga
ini”~
Mereka hanya... terus menerus belajar mencoba memahami satu
sama lain.
Dan mungkin justru itu pelajaran terbesar yang aku bawa
pulang dari The Last House.
Pernikahan ternyata bukan tentang dua orang yang selalu tahu
apa yang harus dilakukan. Kadang keduanya sama-sama takut, sama-sama capek,
sama-sama salah mengambil keputusan, bahkan sama-sama kehilangan arah.
Tapi ketika satu orang sedang tidak sanggup, yang lain
mengambil alih. Ketika satu orang takut, yang lain mencoba berani dan memberi
kekuatan. Ketika keadaan di luar rumah nggak bisa dikendalikan, setidaknya kita
berusaha menjaga dan memelihara kehangatan yang ada di dalam rumah.
Mungkin menjadi pasangan bukan soal selalu melakukan hal
yang benar, tetapi tentang tetap memilih berada di sisi yang sama ketika
keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Comments
Post a Comment