Skip to main content

Overthinking Day 2: Kenapa belajar melepaskan itu sulit?

Ada satu hal yang aku sadari belakangan ini ketika aku merasa malam terasa lebih panjang dari siang.

Aku ada di titik dimana aku tidak lagi mengkritisi cinta atau mengharapkan cinta untuk membuatku merasa lebih baik.

Mungkin karena cinta kadang membawa penderitaannya sendiri.

Mungkin karena dengan mencintai nggak selalu sama dengan dicintai kembali, dan itu kadang terasa menyiksa.

Mungkin karena cinta yang seharusnya mendekatkan dengan kedamaian, malah menjerumuskan pada keresahan.

Aku harap kita cukup kuat.

Malam ini aku sadar. Kita memang kuat, tapi kadang kita sedang lelah. Dan dalam kelelahan, kita perlahan belajar melepaskan.

Belajar melepaskan sebelum belajar memaafkan.

Lalu kenapa belajar melepaskan itu sulit?

Aku memahaminya dengan kesempitan pikirku saat ini…mungkin sebagai manusia, kita justru memilih untuk menggenggam kencang apa yang seharusnya dilepaskan. Menghabiskan waktu bersama dengan yang seharusnya dilepas, membuat jiwa semakin sulit berpisah.

Dan diksi..

Diksi mengenai fakta ini, diberatkan dengan kata baru “move on”

Lepaskan dulu. Baru nanti kita bergerak pindah ke tempat baru.

 

NB. Kadang juga kita merasa bahwa melepaskan artinya menyerah. Ingatlah, ada masanya jika kamu tidak melepaskan, itu artinya kamu menyerah pada dirimu sendiri. Aku harap kamu selalu memiliki keberanian untuk selalu memilih dirimu, dan tidak pernah menyerah pada dirimu sendiri 😊

Waduk Jatiluhur :)

Comments

Popular posts from this blog

Entry 4 - Gratitude Journal: Happy Memories

Write about the memories that made you happy! Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ayah ibuku. Banyak kenangan indah yang bisa aku jadikan sebagai mantra Patronus-ku. Sangat sulit memilih mana yang bisa aku jadikan mantra utama penangkal duka lara. Kalau aku meninggal, core memoriesku mungkin bisa menentukan mana best of the best memories, kalau sekarang masih bingung milihnya. Aku suka hari-hari kenaikan kelas, pembagian raport, dan wisuda. Karena ada kebahagiaan terlimpah ruah setelah bisa melewati kesulitan berlevel, ada kesenangan terpancar saat kita bisa mengukir senyum bangga orang tua. Momen itu yang menjadi batu pondasi kalau kelak aku lupa apa itu rasanya bagaia. Momen bahagia baru terasa setelah serentetan lelah dan luka kita lalui, kita naik level, kita jadi lebih baik. Dan kenangan itu membuatku bahagia. Aku juga suka hari-hari normal yang berlalu dengan penuh kedamaian. Ada kewarasan yang tersimpan dalam sebuah rutinitas. Ada rasa aman ketika tahu kita bisa beristir...

Insecurity soal punya anak

Kadang, di tengah malam yang tenang, setelah scrolling TikTok parenting dan baca berita Indonesia gelap, saya suka mikir sendiri: “Yakin nih saya mau punya anak?” Pertanyaan itu bukan muncul karena saya gak suka anak-anak. Saya suka sekali anak-anak —terutama yang lucu, pinter, dan bisa dikembalikan ke orang tuanya setelah main. Tapi makin ke sini, keinginan punya anak justru diselimuti awan tebal bernama…  insecurity . Saya membayangkan, suatu hari nanti anak saya bikin thread viral di Sosmed X (atau apapun namanya nanti), judulnya: “Kenapa ortuku tega melahirkanku ke dunia penuh entropi dan anti-revolusi ini?” Langsung terkencar-kencar. Bisa-bisa dia jadi anak yang pegal hati karena dilahirkan, dia pasti sama seperti saya yang membenci struktur makroekonomi maupun jejak karbon dirinya. Dia pasti mempertanyakan keputusan saya, dan saya belum punya jawaban ilmiah apa pun. Kecuali satu: Karena bapaknya orang baik, dan orang baik itu gak boleh punah. Next masalahnya, saya dan suami...

Bukan Si Pencuri Rasa Syukur

Salah satu alasan saya ingin masuk surga yang paling underrated adalah ingin bisa membaca buku bagus yang pernah diciptakan oleh semua penulis di dunia. Skeptis jika penulisnya terdampar di Jahanam; itu prerogatif Tuhan.  Menghabiskan sore duduk minum pistachio latte sambil membaca buku pemenang Pulitzer Prize, dan sesekali ditampar semilir angin taman yang bentukannya mirip Keukenhof. Penduduk surga boleh minta apa aja kan?  Di surga semua buku harus wangi buku, wangi yang bikin kutu buku dimabuk kepayang. Buku di sana juga harus bikin pembacanya berimajinasi dalam 4D, seolah ketika membacanya otak kita langsung membuat dimensi baru yang bisa dijelajahi secara real time. Di surga itu juga tersedia buku yang ketika di dunia dibredel, mungkin bukunya bernuansa kiri atau tentang kritik pada pemimpin yang sibuk terbakar di neraka. Buku yang hilang karena perang, akan kembali. Buku yang dibakar karena ketamakan, akan melimpah. Manuskrip yang tidak rampung karena penulisnya keburu ...

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten...