Skip to main content

Scene terbaeqqq~

Kadang kalau lagi nonton film suka ada adegan dimana pas tokoh utama mau menjemput ajal, dia flashback ke masa yang paling berkesan di hidupnya. Sebut saja itu best scene alias scene terbaik dalam hidup kita. Sampe sekarang, aku masih sering bertanya-tanya, kalau aku meninggal, scene mana yang bakal tiba-tiba mampir merangsek masuk ke dalam pikiranku.

Kalau boleh nebak scene mana yang paling menyenangkan dan berkesan, salah satunya scene bareng sahabat-sahabatku pas lagi traveling. Sampe saat ini, aku pikir, momen itu adalah salah satu momen terbaik meskipun pas mengalaminya aku nggak tahu itu adalah momen terbaik~

Kalau bisa nebak scene lainnya, tentu saja wisudaan. Terutama ketika liat orang tua menangis haru dan terasa bangga melihat perjuangan menuntut ilmu dan memperoleh gelar.

Sampai tulisan ini diketik, aku kepikiran, kalau misalnya masih ada umur, semoga ada seseorang yang bikin semua scene biasa-biasa saja pun terasa ‘worth all my life’. Semoga di penghujung hayat bisa tersenyum sambil mengingat semua best scene itu. Halo, kamu. See you soon ya my best scene!


take in Purwakarta~


 

Comments

Popular posts from this blog

Entry 4 - Gratitude Journal: Happy Memories

Write about the memories that made you happy! Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ayah ibuku. Banyak kenangan indah yang bisa aku jadikan sebagai mantra Patronus-ku. Sangat sulit memilih mana yang bisa aku jadikan mantra utama penangkal duka lara. Kalau aku meninggal, core memoriesku mungkin bisa menentukan mana best of the best memories, kalau sekarang masih bingung milihnya. Aku suka hari-hari kenaikan kelas, pembagian raport, dan wisuda. Karena ada kebahagiaan terlimpah ruah setelah bisa melewati kesulitan berlevel, ada kesenangan terpancar saat kita bisa mengukir senyum bangga orang tua. Momen itu yang menjadi batu pondasi kalau kelak aku lupa apa itu rasanya bagaia. Momen bahagia baru terasa setelah serentetan lelah dan luka kita lalui, kita naik level, kita jadi lebih baik. Dan kenangan itu membuatku bahagia. Aku juga suka hari-hari normal yang berlalu dengan penuh kedamaian. Ada kewarasan yang tersimpan dalam sebuah rutinitas. Ada rasa aman ketika tahu kita bisa beristir...

Insecurity soal punya anak

Kadang, di tengah malam yang tenang, setelah scrolling TikTok parenting dan baca berita Indonesia gelap, saya suka mikir sendiri: “Yakin nih saya mau punya anak?” Pertanyaan itu bukan muncul karena saya gak suka anak-anak. Saya suka sekali anak-anak —terutama yang lucu, pinter, dan bisa dikembalikan ke orang tuanya setelah main. Tapi makin ke sini, keinginan punya anak justru diselimuti awan tebal bernama…  insecurity . Saya membayangkan, suatu hari nanti anak saya bikin thread viral di Sosmed X (atau apapun namanya nanti), judulnya: “Kenapa ortuku tega melahirkanku ke dunia penuh entropi dan anti-revolusi ini?” Langsung terkencar-kencar. Bisa-bisa dia jadi anak yang pegal hati karena dilahirkan, dia pasti sama seperti saya yang membenci struktur makroekonomi maupun jejak karbon dirinya. Dia pasti mempertanyakan keputusan saya, dan saya belum punya jawaban ilmiah apa pun. Kecuali satu: Karena bapaknya orang baik, dan orang baik itu gak boleh punah. Next masalahnya, saya dan suami...

Bukan Si Pencuri Rasa Syukur

Salah satu alasan saya ingin masuk surga yang paling underrated adalah ingin bisa membaca buku bagus yang pernah diciptakan oleh semua penulis di dunia. Skeptis jika penulisnya terdampar di Jahanam; itu prerogatif Tuhan.  Menghabiskan sore duduk minum pistachio latte sambil membaca buku pemenang Pulitzer Prize, dan sesekali ditampar semilir angin taman yang bentukannya mirip Keukenhof. Penduduk surga boleh minta apa aja kan?  Di surga semua buku harus wangi buku, wangi yang bikin kutu buku dimabuk kepayang. Buku di sana juga harus bikin pembacanya berimajinasi dalam 4D, seolah ketika membacanya otak kita langsung membuat dimensi baru yang bisa dijelajahi secara real time. Di surga itu juga tersedia buku yang ketika di dunia dibredel, mungkin bukunya bernuansa kiri atau tentang kritik pada pemimpin yang sibuk terbakar di neraka. Buku yang hilang karena perang, akan kembali. Buku yang dibakar karena ketamakan, akan melimpah. Manuskrip yang tidak rampung karena penulisnya keburu ...

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten...