Skip to main content

We Are One

Lagi gada kerjaan, bingung mau ngapain. Langsung masuk kamar dan tutup pintu, aku buka galeri di henpon dan iseng-iseng buka folder yang berisikan album dengan nama ‘we are one’, di dalamnya penuh sama foto kenangan X 1, XI IPA 1, XII IPA1.

Dan terciptalah note ini. Butuh otak yang jernih loh buat nulis ini.. Ah rasanya menyedihkan banget (suasana mendadak mellow). Terlalu cepat kebersamaan kita untuk jadi sebuah kenangan. Aku baru sadar akhir-akhir ini, saat semuanya mulai berganti.

Dulu, kita duduk di kelas yang dianggap berbeda, yang selalu harus lebih baik. Kita dipertemukan dengan biaya yang mahal, kawan. Kita terus dituntut berpacu, kita pura-pura belajar dengan semangat sambil membayangkan mimpi di kepalan tangan kita.

Banyak hari-hari yang udah kita lalui bareng,dan aku masih canggung untuk menyebutnya kenangan. Hari dimana kita tidur-tiduran dikelas, main remi, bolos pelajaran siang dan dicibiri guru-guru, nangis karena masalah pacar atau sahabat, makan-makan bareng, it's a very beautiful scene and I really really miss it.

Candaan, celaan, dan perkataan kotor selalu muncul dalam percakapan yang terurai di kelas kita, kawan. Gak tau apa yang sedang dibicarain (baca:capruk) atau kadang curhat. Tapi di dalam candaan, celaan itu sebenarnya kita saling membangun satu sama lain. Ga sedikit masalah yang kita hadapi, ga jarang juga diantara kita terjadi konflik yang sebenarnya sepele kaya pas rebutan AC sama kelas sebelah. Tapi, dengan kita bersama dan tertawa, masalah itu hanya tergantung dan berlalu begitu saja.

Ga banyak lagi waktu untuk kita bersama di tempat itu, kawan.. aku ngga tau apa aku akan menemukan sosok kalian di tempat yang baru nanti? Tempat itu sepertinya masih asing untuk melakukan keseharian seperti kita dahulu.

Biar guru dan orang mau bilang apa tentang kita semua, yang aku tau, kita semua satu, kawan. Kita semua orang yang penuh semangat, penuh harapan, ngga pernah putus asa, KARENA KITA BERSAMA.

LOVE YOU ALL.

Comments

Popular posts from this blog

Entry 4 - Gratitude Journal: Happy Memories

Write about the memories that made you happy! Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ayah ibuku. Banyak kenangan indah yang bisa aku jadikan sebagai mantra Patronus-ku. Sangat sulit memilih mana yang bisa aku jadikan mantra utama penangkal duka lara. Kalau aku meninggal, core memoriesku mungkin bisa menentukan mana best of the best memories, kalau sekarang masih bingung milihnya. Aku suka hari-hari kenaikan kelas, pembagian raport, dan wisuda. Karena ada kebahagiaan terlimpah ruah setelah bisa melewati kesulitan berlevel, ada kesenangan terpancar saat kita bisa mengukir senyum bangga orang tua. Momen itu yang menjadi batu pondasi kalau kelak aku lupa apa itu rasanya bagaia. Momen bahagia baru terasa setelah serentetan lelah dan luka kita lalui, kita naik level, kita jadi lebih baik. Dan kenangan itu membuatku bahagia. Aku juga suka hari-hari normal yang berlalu dengan penuh kedamaian. Ada kewarasan yang tersimpan dalam sebuah rutinitas. Ada rasa aman ketika tahu kita bisa beristir...

Insecurity soal punya anak

Kadang, di tengah malam yang tenang, setelah scrolling TikTok parenting dan baca berita Indonesia gelap, saya suka mikir sendiri: “Yakin nih saya mau punya anak?” Pertanyaan itu bukan muncul karena saya gak suka anak-anak. Saya suka sekali anak-anak —terutama yang lucu, pinter, dan bisa dikembalikan ke orang tuanya setelah main. Tapi makin ke sini, keinginan punya anak justru diselimuti awan tebal bernama…  insecurity . Saya membayangkan, suatu hari nanti anak saya bikin thread viral di Sosmed X (atau apapun namanya nanti), judulnya: “Kenapa ortuku tega melahirkanku ke dunia penuh entropi dan anti-revolusi ini?” Langsung terkencar-kencar. Bisa-bisa dia jadi anak yang pegal hati karena dilahirkan, dia pasti sama seperti saya yang membenci struktur makroekonomi maupun jejak karbon dirinya. Dia pasti mempertanyakan keputusan saya, dan saya belum punya jawaban ilmiah apa pun. Kecuali satu: Karena bapaknya orang baik, dan orang baik itu gak boleh punah. Next masalahnya, saya dan suami...

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten...

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga ...