Skip to main content

Insecurity soal punya anak

Kadang, di tengah malam yang tenang, setelah scrolling TikTok parenting dan baca berita Indonesia gelap, saya suka mikir sendiri:
“Yakin nih saya mau punya anak?”

Pertanyaan itu bukan muncul karena saya gak suka anak-anak. Saya suka sekali anak-anak —terutama yang lucu, pinter, dan bisa dikembalikan ke orang tuanya setelah main. Tapi makin ke sini, keinginan punya anak justru diselimuti awan tebal bernama… insecurity.

Saya membayangkan, suatu hari nanti anak saya bikin thread viral di Sosmed X (atau apapun namanya nanti), judulnya:
“Kenapa ortuku tega melahirkanku ke dunia penuh entropi dan anti-revolusi ini?”

Langsung terkencar-kencar. Bisa-bisa dia jadi anak yang pegal hati karena dilahirkan, dia pasti sama seperti saya yang membenci struktur makroekonomi maupun jejak karbon dirinya. Dia pasti mempertanyakan keputusan saya, dan saya belum punya jawaban ilmiah apa pun. Kecuali satu: Karena bapaknya orang baik, dan orang baik itu gak boleh punah.

Next masalahnya, saya dan suami, ilmu parenting kami masih tahap pemula. Kadang saya marah sama suami cuma karena dia ga paham telepati batin saya. Padahal saya tahu dia orang yang saya cinta. Nah, kalau sama pasangan aja saya masih bisa emosi karena hal receh, apa jaminannya saya gak bakal marah (dengan cara yang menyenangkan) ke anak saya..

Saya juga takut anak saya mewarisi amarah saya, bukan kesabaran ayahnya yang levelnya sudah bisa menjadikannya Wali ke-10 (setelah the famous Wali Songo). Atau... mungkinkah anak saya lebih baik diasuh neneknya saja? Secara moral dan mental, kakek-neneknya jauh lebih mumpuni. Tapi kalau baru mikir gitu aja saya udah nyerah, apa saya pantas jadi ibu yang baek?

Terus, soal nama. Ini juga jadi beban pikiran. Dulu saya pengen kasih nama Bambang kalau anaknya laki-laki. Tapi suami langsung veto, “jangan lahhh..”
Kalau perempuan? Saya naksir nama Siti Robiah, nama bestie saya yang sabar dan gigihnya seluas samudera. Tapi lagi-lagi, suami belum klik. Kami belum nemu satu nama pun yang bikin kami serempak bilang: “YES.”

Saya juga pengen nama Razin. Tapi... gimana kalau dia tumbuh jadi anak yang justru malaz dan uring-uringan tiap disuruh mandi? Apakah nanti dia akan badmood tiap dipanggil, karena merasa terbebani oleh harapan dalam namanya?

Dan dari situ, saya sadar: saya bahkan belum siap kasih nama, apalagi kasih hidup.

Kalau dipikir-pikir, semua ketakutan ini lebih banyak datang dari dalam diri sendiri. Tapi faktor eksternal pun gak kalah menekan.
Realita sosial, ekonomi, dan lingkungan di negeri ini kadang membuat saya bertanya-tanya:
“Mampukah saya membesarkan anak yang bisa jadi pemimpin—atau setidaknya, bisa dipimpin tanpa mogok makan?”





Comments

Popular posts from this blog

Entry 4 - Gratitude Journal: Happy Memories

Write about the memories that made you happy! Aku tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ayah ibuku. Banyak kenangan indah yang bisa aku jadikan sebagai mantra Patronus-ku. Sangat sulit memilih mana yang bisa aku jadikan mantra utama penangkal duka lara. Kalau aku meninggal, core memoriesku mungkin bisa menentukan mana best of the best memories, kalau sekarang masih bingung milihnya. Aku suka hari-hari kenaikan kelas, pembagian raport, dan wisuda. Karena ada kebahagiaan terlimpah ruah setelah bisa melewati kesulitan berlevel, ada kesenangan terpancar saat kita bisa mengukir senyum bangga orang tua. Momen itu yang menjadi batu pondasi kalau kelak aku lupa apa itu rasanya bagaia. Momen bahagia baru terasa setelah serentetan lelah dan luka kita lalui, kita naik level, kita jadi lebih baik. Dan kenangan itu membuatku bahagia. Aku juga suka hari-hari normal yang berlalu dengan penuh kedamaian. Ada kewarasan yang tersimpan dalam sebuah rutinitas. Ada rasa aman ketika tahu kita bisa beristir...

Dirasakan Kuat

Jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku tulis hari ini, karena sepanjang hari aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk meluangkan waktu untuk menulis secara khusus. Ketika aku menulis ini, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. Seringkali waktu berlalu begitu saja hingga aku lupa apa saja yang telah terjadi dalam sehari. Oiya tema postingan kali ini adalah “something for which you feel strongly” . Menurutmu ini maksudnya apa sih? Apakah maksudnya itu hal-hal yang aku merasakan keterikatan yang kuat? Kok aku nangkep nya begitu ya.. Kalau salah tolong dikoreksi di kolom komentar ya! (Ciyaaa, ala yucuber deh jadinya) Aku tidak bisa berpikir dengan jernih apa sesungguhnya hal yang membuatku merasakan keterikatan yang kuat. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang hal apa yang dirasakan secara kuat oleh Ohwada-Sensei? Random sekali aang ini ya -__- Ini karena aku tidak begitu tertarik pada apapun, itulah jalan ninjaku. Jadi mari berkenalan sedikit ten...

Cara Perempuan Jepang Membuang Bekas Pembalut

Selama hidup di Jepang, hal yang paling berkesan untukku adalah tiada hari berlalu tanpa pembelajaran. Bahkan ketika aku di rumah aja ngga ngapa-ngapain, aku tetap dapet pembelajaran baru. Jadi suatu pagi… aku lagi di apartemen aja kan biasa pengangguran laten [ gaya abiesz, bilang aja kosan Pak Ruslan versi fancy wkwk ], dan temen sekosanku yang orang jepang, dia nyimpen bungkus pembalut di kamar mandi. Hmm oiya kita tuh kamar mandinya shared, cuma beda kamar bobo aja. Jadi dia narohnya di salah satu papan yang ada di atas WC duduk gitu, biasanya di papan tersebut kita simpen tissue cadangan atau pengharum ruangan di situ. Oke dia lagi menstruasi. Tapi ini untuk pertama kalinya aku nemuin sampah yang digeletakin gitu aja. Nah, buat kalian yang ngga tau pembungkus pembalut yang mana, ini aku sertakan gambar… karena kebetulan aku lagi rajin dan lagi mens juga. Jadi ini pembalut… Dan ini bungkusnyaaa… yang mana tergeletak di WC tadi. Aku langsung bingung, ih tumben banget kok ngga ...